Postingan

Partai Politik Tanpa Calon Presiden Sama Dengan Berpartai Untuk Sebatas Kenduri dan Silaturrahmi

Gambar
Partai politik yang tidak memiliki kadernya sebagai calon Presiden atau Wapres itu ibarat mobile remote tanpa remote control. Begitu kira-kira pentingnya calon presiden dan calon wapres bagi partai politik. Karena politik Indonesia masih menganut kepercayaan kepada figur tokoh. Kharisma seorang tokoh dapat mengalahkan kepercayaan terhadap suatu wadah atau partai politik. Maka sebesar apapun jaringan partai politik tetap saja akan lemah bila tanpa dipimpin atau dibina oleh seorang tokoh besar. Buktinya banyak tokoh yang populer dalam politik kemudian melahirkan partai dan partai tersebut menjadi besar, sebagaimana dilakukan Amien Rais, Megawati, SBY dan Prabowo yang terakhir. Partai Gerindra menjadi berkembang hingga dua dijit itu karena Prabowo masih maju sebagai calon presiden pada pilpres yang lalu. Sementara Megawati dengan PDIPnya diwakili oleh Jokowi. Sementara Amien Rais dan PAN serta SBY dan Demokratnya tidak memiliki kader Calon presiden sehingga mereka harus berafiliasi denga...

Pendiri Partai Disingkirkan Sama Dengan Menjauhkan Ruh dan Raga Organisasi Politik

Gambar
"Pendiri Partai Disingkirkan Sama Dengan Menjauhkan Ruh dengan Raga Organisasi" Sesuatu yg tragis bahkan terjadi terhadap anda yang mendirikan Partai Politik dan Membesarkannya. Pergerakan suatu Partai Politik sebenarnya bukan soal jaringan dan manajemen partai. Jika itu yg diandalkan maka kondisi ini boleh disebut kerangka organisasi atau jika ia sempurna maka dapat disebut jasadnya organisasi politik. Pengaruh manajemen dan jaringannya tidak memberi dampak yang signifikan terhadap berkembangnya suatu partai.  Untuk mengangkat dan mengembangkan partai politik butuh Ruh dan platform perjuangan yang sering dikaitkan dgn Ideology. Partai politik tidak memiliki ideology tetapi yang memiliki itu adalah otak dan pemimpin utamanya. Biasanya adalah inisiator pendiri partai politik itu. Kalau ada partai politik yg dalam perjalanannya menyingkirkan pendiri utamanya maka atau pemikirannya mewarnai partai itu maka dapat dipastikan partai itu akan telah mati suri. Karena Ruhnya telah men...

Jangankan Negara, Agamapun Runtuh Karena Arogansi Pemimpinnya

Gambar
Jangankan negara dan pemerintah, agamapun akan runtuh bila dikelola secara otoritarian, begitu ada yg kritik dianggap musuh. Maka pengelola ummat, sosial itu tidak boleh berwawasan sempit. Hadirnya negara dengan trias politika itu ada legislatif, eksekutif dan yudikatif supaya kekuasaan itu tidak mutlak pada suatu kelompok atau seseorang. Maka hukum kekuasaan menyatakan bahwa kekuasaan yang mutlak itu cenderung korup.  Agamapun tidak berbeda, ketika dikelola secara sepihak dengan keputusan yg diseret pada kepentingan sempit maka agama itupun nilai-nilainya akan terdistorsi sebagaimana berawalnya  perpecahan dalam Islam hingga lahirnya syiah dan sunni.  Padahal perpecahan agama itu sebagai akibat arogansi kekuasaan manusia yang mengklaim diri dan kelompoknya lebih benar, lebih pintar, lebih berhak. Sedianya kedua aliran ini adalah Islam namun krn perbedaan pendapat hingga saling mengkafirkan. Bahkan mereka rela bekerjasama dengan kafir benaran untuk membunuh saudaranya. Oleh karena itu ...

Ada Pemimpin Yang Berilmu Mumpuni Tapi Terkendala di Partai Politik

Gambar
Tidak banyak cara yang dapat ditempuh oleh seseorang yang memiliki bakat sebagai pemimpin masyarakat karena sebahagian besar mereka dipimpinan partai politik nafsunya begitu besar dan egoisme yang melebihi kemampuannya. Saya belum melihat ada indikator yang dapat menguji seseorang dalam kemampuannya memimpin kecuali survey dukungan secara kuantitas tapi itu juga hanya bisa mengukur popularitas calon bukan tingkat kedalaman ilmunya dalam memimpin sosial. Apakah memilih opsi survey ini dapat menjamin seseorang memiliki cukup ilmu pengetahuan untuk memimpin rakyat? Jawabnya sama sekali Tidak. Mengapa? Karena orang menyatakan mendukung atau memilih karena faktor-faktor sebatas berpengalaman memperhatikan orang atau berperan dalam komunitas dimana kemudian komunitas itu tidak mengenal calon lain yang lebih kapasitasnya. Atau bisa saja masyarakat ketika dilakukan survey mereka hanya mendengar seseorang yang pernah membantu fasilitas dan memberi kemudahan kepada konstituen.  Kriteria tersebut...

"Celupkan Kepala Kedalam Air"

Gambar
Jika Politisi dinilai pada Atraksi dan tepuk tangan maka Aceh semakin larut dalam Kebijakan Sosial Yang Salah Kaprah. Philosophinya hanya ada pemain dan penonton maka ada  Atraksi meski itu sulap namun penonton tetap saja bertepuk tangan.  Disetiap kepala orang Aceh tentu ada semacam chip yang mengkonsentrasikannya kearah semangat dan nilai kepahlawanan. Sehingga wajar kita terjebak dalam melahirkan pahlawan dalam konteks perang phisik. Sehingga kita terikat juga dengan yang namanya pedang, rencong, pisau dan pistol atau senjata mesin pembunuh itu. Hal ini wajar mengingat Aceh adalah zona yang terkenal dengan perjuangan berperang, semangat dan nilai perang itu masih tergelorakan disetiap jiwa. Sehingga hal ini juga terbawa dalam politik seakan dalam berpolitik juga kita sedang menghadapi perang. Maka kita terdesak untuk menunjukkan sesuatu perjuangan yg wajib diketahui rakyat yang mengundang tepuk tangan. Dengan begitu semakin banyak momentum yang mengundang tepuk tangan maka semakin b...

"9 dari 10 Warga Aceh Menganggap Debat Sebagai Pertengkaran"

Gambar
Memperhatikan diskusi, baik secara online maupun secara langsung dalam organisasi, maka ada kesimpulan bahwa Sembilan dari Sepuluh warga Aceh tidak siap dengan perdebatan, bahkan perdebatan seringkali dianggap sebagai pertengkaran dan perlu dileraikan. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi dalam pertemuan masyarakat biasa tetapi dilingkungan organisasi hal ini kerap terjadi. Saya meyakini hingga sskarang hal ini belum banyak berubah, karena pemahaman sebahagian kita dalam demokrasi yang masih pincang.  Lebih dari itu bahkan mereka yang berdebat dianggap tidak baik dan kurang dewasa, ironisnya orang yang melerainya justru mengambil manfaat dan dianggap lebih matang dan dewasa bahkan pahlawan. Padahal dalam perdebatan itu bukan harus dileraikan sebagaimana orang bertengkar yang menyudutkan kedua pendebat sebagai orang yang tidak baik. Seharusnya yang perlu dilakukan bukan melerai tapi menjadi mediator yang memfasilitasi kelanjutan diskusi yang lebih terarah hingga menemui kesimpulan. D...

"Atas Harapan Rakyat Mendapat Orang Baik dan Memahami Orang Jahat Dalam Politik"

Gambar
Saya ingin memberi masukan kepada siapapun yang sedang mencari orang baik dalam politik pragmatis, yang selama ini kita pahami dalam batasan mendukung, bersimpati atau menjadi bahagian dari partai politik. Sebagai instrumen politik dalam bernegara maka alat utama atau wadah yang merumuskan pemikiran masyararakat dalam politik itu adalah partai politik. Partai itu benda mati ia tidak perlu diagungkan tidak perlu dianggap sebagaimana malaikat yang suci atau dewa dalam kepercayaan lain. Yang berideology itu manusia yang tergabung didalam partai atau Ketua Umum partai atau pendiri partai dengan latar belakang dan semangat pendirian partai itu. Maka partai yang lahir dengan sejarah yang besar menjadi wadah pemersatu pemikiran untuk melanjutkan perjuangan tahapan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Nah,,,masyarakat yang menjadi bahagian partai politik seperti kader dan pengurus itu mengembangkan pemikiran dengan mengajarkan kader untuk tunduk pada landasan konstitusi yang telah dipikirkan d...