"Atas Harapan Rakyat Mendapat Orang Baik dan Memahami Orang Jahat Dalam Politik"
Saya ingin memberi masukan kepada siapapun yang sedang mencari orang baik dalam politik pragmatis, yang selama ini kita pahami dalam batasan mendukung, bersimpati atau menjadi bahagian dari partai politik.
Sebagai instrumen politik dalam bernegara maka alat utama atau wadah yang merumuskan pemikiran masyararakat dalam politik itu adalah partai politik. Partai itu benda mati ia tidak perlu diagungkan tidak perlu dianggap sebagaimana malaikat yang suci atau dewa dalam kepercayaan lain.
Yang berideology itu manusia yang tergabung didalam partai atau Ketua Umum partai atau pendiri partai dengan latar belakang dan semangat pendirian partai itu. Maka partai yang lahir dengan sejarah yang besar menjadi wadah pemersatu pemikiran untuk melanjutkan perjuangan tahapan pencapaian kesejahteraan masyarakat.
Nah,,,masyarakat yang menjadi bahagian partai politik seperti kader dan pengurus itu mengembangkan pemikiran dengan mengajarkan kader untuk tunduk pada landasan konstitusi yang telah dipikirkan dan dituangkan dalam AD ART Partai. Jadi kader dan pengurus itu tunduk pada aturan konstitusi bukan pada orang atau bahkan bukan pada Ketua Umumnya. Karena manusia itu pada dasarnya baharu ia bisa saja berubah dan cenderung membawa partai untuk kepentingan sempitnya.
Kalau dia sukanya dengan uang maka ia akan gunakan partai untuk sekedar mencari uang bahkan ia dapat saja menjual kepala kadernya untuk memperoleh uang. Demikian pula kalau pemikirannya dominan perempuan maka ia akan menggunakan kuasa partai untuk menundukkan perempuan. Hal ini bisa dilakukan apabila kader lain atau pengurus lain lemah dalam memahami organisasi. Padahal kepemilikan organisasi politik antara dia kader, pengurus dan ketua sama saja, apalagi ketua di daerah dengan Ketua Umumpun tidak berbeda karena semua mereka tunduk pada aturan-aturan partai yg telah disepakati bersama.
Tapi kenapa selama ini yg kita saksikan hanya ketua yg memainkan peranan partai, jawabnya karena penerapan demokrasi tidak benar dalam partai politik, dan pengurus lain tidak cukup ilmunya untuk mensetarakan keputusan2 partai sebagai keputusan bersama sebagaimana harapan partai yg menerapkan sistem kepemimpinan Kolektif Kolegial.
Dengan tutorial diatas, maka sekarang anda bertanya, bagaimana kita mengenal orang baik dan jahat dalam organisasi politik atau dalam politik?
Jawabnya adalah, mereka yang mengalahkan kepentingan pribadi dan kelompok kemudian tunduk dan patuh pada aturan organisasinya itulah yang disebut orang baik. Dengan tunduk pada konstitusi tentu ia memiliki sopan santun, itulah yg disebut fatsun politik. Memahami aturan yang berlaku dalam organisasi politiknya kemudian menyesuaikan dengan prilakunya yang taat dan menjauhkan cara-cara uang bertentangan dengan itu, itulah yang disebut etika politik.
Jadi orang atau kader atau pengurus yang memahami konstitusi dan kesepakatan akan menjadi sosok yang idealis dan "baik" dalam katagori organisasi politik dan sekaligus akan baik dalam politik. Karena kebiasaanya patuh pada konstitusi maka ia pun akan baik kepada semua orang karena ia konsisten dan tidak menghalalkan segala cara kepada kader dan rakyat dalam politik.
Lantas yang mana orang jahat dalam politik? Si jahat akan menarik konstitusi organisasi politik dengan segala cara utk kepentingannya dan kelompoknya. Ia tidak menjaga aturan itu dan tidak pernah dianggap sebagai peradaban organisasi politik sehingga ketika banyak orang seperti ini akan meruntuhkan organisasi, dan mendapatkan suara rakyat dengan cara-cara sogok karena ia tidak bisa bekerja keras untuk mengembangkan ajaran dan konstitusi partainya.
Kecenderungan dalam kepemimpinan masyarakat juga tidak berbeda dengan iu, mereka yg menghalalkan segala cara dapat dipastikan sebagai orang jahat dalam politik. Maka penilaian baik dan jahat dalam politik sulit diketahui oleh masyarakat awam karena terhadap masyarakat pemilih semua politisi akan berusaha baik sebagaimana dengan tetangga dan saudara sanak familynya. Namun kebaikan itu tentu jauh berbeda dgn kebaikan dalam politik.
Demikian, masukan semoga bermanfaat.
Salam
