"Pemimpin Berpikir Sempit Dapat Membelenggu Rakyat""

Kasian, Aceh ini kemampuan Pemimpin Politik dan Tokoh2nya Hanya Menebar Alat2 Belenggu Rakyat dengan kata lain mengikat rakyat dengan sesuatu yang tidak seharusnya, karena meski niatnya baik tapi hasilnya justru terbalik dengan harapannya.

Ibarat orang2 sudah menggunakan berbagai model celana tapi kita masih saja menggunakan kain sarung sehingga ketika orang memasarkan sepatu justru kita baru berpikir bagaimana menggunakan celana dan tali pinggang. Wadeuh,,,,,,,India masa lalu begitu orang pakai sarung ketika masuk sepatu maka perlu mensosialisasi celana dulu barulah bisa bicara sepatu. Karena kain sarung itu sahabatnya ya sandal,,,,

Banyak peraturan yg dibuat untuk mengikat rakyatnya sendiri, karena pemimpin hanya melihat dukungan politik yg paling besar ada dimana...Langsung aja mengatur dengan kehendak mereka. 

Ini berbeda dengan awal pembangunan Singapore, saat Lee Kwan Yu memerintah, melawan kebijakan populis dengan membuka berbagai belenggu masyarakatnya dan hari ini Singapore adalah negara makmur.

Kala rakyat tidak lagi melarat maka kebudayaan bisa dijalankan secara baik, berpikirnyapun sudah rasional, mereka beragama dari dalam hati yg paling dalam, karena mereka tidak lagi melarat. Setidaknya ada dalam kotak negara sejahtera. 

Jika kita terus melawan dunia global maka kita akan terasing, krn kita mengasingkan diri dan menutup diri dari dunia, jika kita sejahtera, sdm kita sudah mumpuni dan produktif mungkin masih bisa kita bertepuk dada, tapi lihatlah apa hasil karya kita pada masyarakat dunia kecuali mempertontonkan perseteruan aliran serta menebar benih2 perang phisik yg sesungguhnya kita justru tidak sekuat semangat kita. 

Lihatlah bangsa2 terasing dan menutup diri, tidak bisa hidup berdampingan dengan keragaman nyaris semua mereka menjadi bangsa tertinggal di dunia. 



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil