Jangankan Negara, Agamapun Runtuh Karena Arogansi Pemimpinnya
Jangankan negara dan pemerintah, agamapun akan runtuh bila dikelola secara otoritarian, begitu ada yg kritik dianggap musuh. Maka pengelola ummat, sosial itu tidak boleh berwawasan sempit.
Hadirnya negara dengan trias politika itu ada legislatif, eksekutif dan yudikatif supaya kekuasaan itu tidak mutlak pada suatu kelompok atau seseorang. Maka hukum kekuasaan menyatakan bahwa kekuasaan yang mutlak itu cenderung korup.
Agamapun tidak berbeda, ketika dikelola secara sepihak dengan keputusan yg diseret pada kepentingan sempit maka agama itupun nilai-nilainya akan terdistorsi sebagaimana berawalnya perpecahan dalam Islam hingga lahirnya syiah dan sunni.
Padahal perpecahan agama itu sebagai akibat arogansi kekuasaan manusia yang mengklaim diri dan kelompoknya lebih benar, lebih pintar, lebih berhak. Sedianya kedua aliran ini adalah Islam namun krn perbedaan pendapat hingga saling mengkafirkan. Bahkan mereka rela bekerjasama dengan kafir benaran untuk membunuh saudaranya.
Oleh karena itu Aceh yg disebut serambi mekkah, perlu lebih korperatif dalam beragama, jangan sampai pendapat satu kelompok menjadi pendapat seseorang. Pendapat satu daerah menjadi pendapat satu kelompok. Karena beragama itu soal hubungan dgn Tuhan bukan soal jumlah (kuantitas) sebagaimana mempengaruhi sesama manusia. Namun kualitas beragama dan kualitas keimanan dan totalitas kpd Allah adalah yg lebih utama dan menjadi kekuatan Islam yg sempurna.
Jangan jadikan agama (Islam) itu milik anda sendiri dengan pemahaman anda, seakan orang lain tidak paham agama dan tidak layak membicarakannya karena bukan dari unsur dayah dan pengajian tradisional. Apalagi melarang orang lain bicara agama seakan yang boleh membicarakan Islam itu orang yang sudah di SK kan sebagaimana jabatan dalam pemerintahan.
Egoisme inilah yang telah merusak baik kepemimpinan, maupun negara dan daerah bahkan dapat merusak agama sekalipun. Sejarah banyak mengajarkan kita tentang prilaku keserakahan dan egosentris kekuasaan dimuka bumi yang kemudian berkeping-keping. Semoga para pejalan didepan dalam Islam lebih banyak belajar bukan sebatas tatacara beribadah tetapi juga politik agama dan menajemennya. Sehingga Islam tidak gampang di cabik-cabik oleh kafir krn kebodohan dan keangkuhan kita.
Salam
Saya Islam (No Aliran)
