"9 dari 10 Warga Aceh Menganggap Debat Sebagai Pertengkaran"
Memperhatikan diskusi, baik secara online maupun secara langsung dalam organisasi, maka ada kesimpulan bahwa Sembilan dari Sepuluh warga Aceh tidak siap dengan perdebatan, bahkan perdebatan seringkali dianggap sebagai pertengkaran dan perlu dileraikan.
Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi dalam pertemuan masyarakat biasa tetapi dilingkungan organisasi hal ini kerap terjadi. Saya meyakini hingga sskarang hal ini belum banyak berubah, karena pemahaman sebahagian kita dalam demokrasi yang masih pincang.
Lebih dari itu bahkan mereka yang berdebat dianggap tidak baik dan kurang dewasa, ironisnya orang yang melerainya justru mengambil manfaat dan dianggap lebih matang dan dewasa bahkan pahlawan. Padahal dalam perdebatan itu bukan harus dileraikan sebagaimana orang bertengkar yang menyudutkan kedua pendebat sebagai orang yang tidak baik.
Seharusnya yang perlu dilakukan bukan melerai tapi menjadi mediator yang memfasilitasi kelanjutan diskusi yang lebih terarah hingga menemui kesimpulan. Dengan begitu persoalan yang menjadi perdebatan yg dapat terpecahkan dan ini tentu akan menjadi referensi bagi banyak orang. Dengan begitu akan ada peningkatan kecerdasan sosial secara bertahap.
Terimakasih
Salam
