Partai Politik Tanpa Calon Presiden Sama Dengan Berpartai Untuk Sebatas Kenduri dan Silaturrahmi
Partai politik yang tidak memiliki kadernya sebagai calon Presiden atau Wapres itu ibarat mobile remote tanpa remote control. Begitu kira-kira pentingnya calon presiden dan calon wapres bagi partai politik. Karena politik Indonesia masih menganut kepercayaan kepada figur tokoh.
Kharisma seorang tokoh dapat mengalahkan kepercayaan terhadap suatu wadah atau partai politik. Maka sebesar apapun jaringan partai politik tetap saja akan lemah bila tanpa dipimpin atau dibina oleh seorang tokoh besar.
Buktinya banyak tokoh yang populer dalam politik kemudian melahirkan partai dan partai tersebut menjadi besar, sebagaimana dilakukan Amien Rais, Megawati, SBY dan Prabowo yang terakhir. Partai Gerindra menjadi berkembang hingga dua dijit itu karena Prabowo masih maju sebagai calon presiden pada pilpres yang lalu. Sementara Megawati dengan PDIPnya diwakili oleh Jokowi.
Sementara Amien Rais dan PAN serta SBY dan Demokratnya tidak memiliki kader Calon presiden sehingga mereka harus berafiliasi dengan Prabowo. Hasilnya dipemilu legislatif PDIP dan Gerindra itu berjaya, sementara PAN dan Demokrat justru terpuruk.
Padahal PAN memiliki kader yang justru sangat unggul dalam sumber daya manusianya seperti M. Hatta Rajasa yang pada Pilpres sebelumnya maju berpasangan dengan Prabowo. Dimasa itu kehadiran PAN menjadi sangat diperhitungkan dalam pentas politik nasional.
Dalam politik Indonesia kecenderungan pemilih masih dalam tahapan mencari Tuan yang adil, mencari sosok yang dipercaya dapat memberi bantuan dan bermurah hati kepada rakyat. Rakyat Indonesia belum mencari perlindungan hukum dan kebebasan sebagaimana tujuan demokrasi yang sesungguhnya.
Oleh karena itu bagi partai yang akan berkongres maka perlulah memprioritas adanya bakal calon Presiden Indonesia agar dapat menjadi harapan bagi pemilih untuk menyampaikan aspirasinya. Tanpa capres atau wapres maka rakyat pemilih tidak mungkin menyalurkan aspirasi secara langsung ke partai tersebut, mereka akan dilapisi dengan birokrasi yang begitu tebal.
Kalau kader masih berpikir negatif tentang kekuasaan misalnya partai politik tidak perlu bakal Capres maka naif sekali dalam pemahaman politik kadernya. Membangun jaringan organisasi politik kemudian hanya menjadi semacam rumah doang tanpa misi dan visi kekuasaan atau merebut kekuasaan, bahkan hanya berpikir memberi dukungan kepada kader partai lain maka jelaslah begitu lemahnya kader partai tersebut dan tidak mampu menjalankan fungsi partai itu sendiri dalam rekruitmen kepemimpimpinan nasional.
Semoga semua kader partai politik dapat berpikir normal untuk membangun kualitas partai politik dimasa depan, dan kader partai juga tidak tanggung dalam berpolitik.
Salam
