Aceh Utara Salah Arah, Warga Miskin Bukan Karena Malas



Selamat Pagi,
Ketika Gubernur Ibrahim Hasan, Rakyat Aceh ini dibagi dlm beberapa zona pengembangan. Konsep pembagian zona itu sebagai permulaan rekayasa sosial untuk membentuk manusia Aceh masa depan.

Saya tidak sedang menjelaskan konsep tersebut tapi saya ingin menjelaskan ttg rekayasa sosial terhadap masyarakat kabupaten Aceh Utara yg bergelar almarhum petro dollar itu

Kebetulan saya sedikit belajar ke alm. Ibrahim Hasan dan alm. Karimuddin Hasybullah mantan Bupati Aceh Utara kala saya masih mahasiswa dan kedua beliau itu juga guru saya dikampus Fakultas Ekonomi Unsyiah.

Jadi Begini,
Masyarakat Aceh Utara itu sedianya memang disiapkan sebagai masyarakat Industri, hingga sekarang kita lebih memilih mencari pekerjaan di perusahaan atau pabrik bila berkesempatan memilih, juga termasuk bupati Aceh Utara skrg yg kala itu berhasil masuk di PT. PIM dan terlepas tugasnya dibagian apa sajalah. (Kebetulan beliau sekampung dan berkait pertalian saudara, meski kita tdk terkomunikasi secara normal krn urusan kita masing-masing).

Secara vulgar kehidupan warga Aceh Utara kala itu terlihat mentereng dibanding warga kabupaten lain dan tetangganya Pidie, Aceh Besar, Aceh Tengah dan Bireun yg dulunya pinggiran barat Aceh Utara dimana warganya masih berkonsentrasi di bidang sesuai kompetensinya bertambak, berkebun, bertani, melaut.

Wilayah pesisir Timur berkecenderungan mengikuti trend pengembangan sosial utara akibat rute industri dari Medan sebagai terminal penerbangan utama.

Ringkasnya,
Warga Aceh Utara kala itu sebagian besar meninggalkan kebiasaannya bertani, berkebun dan melaut tentu saja memilih masuk ke lapangan buruh karena memperoleh gajian instan, harian, mingguan dan bulanan, tentu saja gaji itu berstandar minimal internasional yg berlaku di eropa.

Sebenarnya bangunan sosial ini sudah berjalan sempurna, namun menurut saya ada kekeliruan dalam perkembangannya, kelirunya dimana? Pemerintah dan tokoh Aceh dan Aceh Utara sendiri lengah untuk mempersiapkan kelanjutan hidup warga Aceh Utara. Mereka lupa bahwa perusahaan2 besar itu akan habis masa operasinya.

Seharusnya sebelum hantu raksasa itu mati, perlulah disiapkan beberapa hantu menengah lain sebagai tempat apresiasi warga dan tentu saja hantu kecil yang seharusnya ditebarkan ditengah warga utk menangani produksi dan nilai tambah dibidang kompetensi warga yg sudah familiar dengan ranah itu, misalnya mesin pengolah hasil pertanian, perkebunan dan sebagainya. Sehingga kemampuan warga dapat dipadukan antara Tani, Kebun, Laut Dan Industrial. Jadi warga Aceh Utara Sudah selangkah Lebih maju Karena mereka Bukan Lagi petani, Pekebun dan pelaut  tradisional biasa tapi bisa sebagai petani, pelaut yg Lebih modernis. 

Ketika ini tidak ada, maka wargapun dipaksa kembali ke masa lalu, Alhasil : Tentu saja ada kelesuan dalam aktivitas dan pengembangannya karena dulu hidupnya dikelilingi cerobong dan riuhnya suara raksasa itu dan sekarang hanya ditemani burung pipit ditambah hama dan penyakit akibat limbah yang tidak tertangani secara baik kala itu. Sebagian lainnya memilih menunggu tersedia peluang kerja di bidang Industri dan banyak juga yang mencari kerja di negeri lain.

Secara profesi sosial warga Aceh Utara menjadi mengambang antara rakyat industri dan petani, pelaut. Saya secara singkat mengatakan profesi masyarakat Aceh Utara menjadi setengah2 atau istilah lain yang gampang, krn salah asuh maka jadi Banci.

Apa mereka malas, sama sekali anda salah menilainya.

Yang salah siapa?
Pemimpinnya karena mereka tidak paham tentang rekayasa sosial dan dampaknya serta penanganan.

Yang salah lagi siapa?
Warga sendiri kenapa memilih pemimpin dari level pekerja bukan pemikir dan pelaku perubahan sosial. Ingat, salah juga kalau anda berpikir semua akademisi mampu untuk itu. Jgn sampai dimasa depan anda menyalahkan dunia pendidikan karena sedikit mereka yg mampu dibidang sosial, pemerintahan dan politik.

Solusinya utk warga Aceh Utara apa??
Pada waktunya kita akan meneruskan membahasnya.

Salam,,,,

A a asyiaap,,,,,,🤗