Pemimpin : Lidah, Sikap dan Prilaku
Mengamati dan belajar ttg sikap kepemimpinan setingkat apapun, apakah kelompok, geuchik, bupati, gubernur dan jg pemimpin diluar pemerintah yg wajib mereka miliki adalah sinkronisasi lidah dan sikap, bila itu belum bisa lakukan maka dia itu tergolong pembual, pembohong, pendusta dan munafiq.
Yg seperti diatas sering di istilahkan dengan kata mutiara dalam masyarakat Aceh "Cakap Tak Serupa Bikin"
Karena mentalitas mereka mmg bukan pemimpin, kalaupun diangkat sebagai pemimpin maka akan kelihatan belangnya. Begitu juga yg belum memimpin kemudian terlihat dia bisa dalam kacamata rakyat krn sering menyisihkan gajinya utk membantu masyarakat apalagi menjelang pemilihan.
Tapi sungguh itu bukan ukuran seseorang bisa memimpin, saya kuatir dengan beban besar memimpin daerah ia menghadapi stress karena keinginan menunjukkan eksistensinya ternyata melakukannya tidak sebagaimana yg ia bayangkan. Memimpin itu penuh tekanan mental dan beragam kepentingan para pihak, apalagi para mafia pemerintah yg terkadang ada dimana saja.
Ketika anda menguasai ranah politik, terbiasa dengan mereka maka anda akan lebih mudah mengendalikan situasi, krn itu sesungguhnya pemimpin itu perlu orang yg kecerdasannya diatas rata pada situasi rakyat terjerumus dalam lingkaran devil.
Karena apa?
Karena kondisi sosial yg sedang terdegradasi mentalitas dan moralitas sehingga produktifitasnya menjadi minim. Keterpurukan itu diwarnai dgn dusta kiri dan kanan dimana2 dlm masyarakat. Pantasnya disebut Rakyat Pembual.
Bobroknya suatu masyarakat itu secara nyata disebabkan oleh kepemimpinan, krn pemimpinlah yg mendidik rakyat secara langsung maupun tidak langsung. Krn ia prilakunya yg membuat kebijakan publik setiap hari dan itu menjadi role of model bagi rakyat.
Karena itu sekali lagi, kalau sebatas bekerja secara teknis itu bukan pemimpin namanya, tapi orang yg diperintahkan oleh Desicion Maker yg mampu bertanggung jawab. Atas dasar itu maka seorang pemimpin adalah orang yg paling besar tanggung jawabnya terhadap masyarakat.
Ia tidak boleh lari dari tanggung jawab, ia tidak boleh bersiasat dgn tanggung jawab, ia tidak boleh bersandiwara sebagaimana Abu Nawas dalam tanggung jawabnya.
Semoga Rakyat Aceh Cepat Paham,,,
Salam
