Politik Kanibal
Politik Kanibal
Seringkali kita mendengar ttg pribahasa negatif yg menyeret orang supaya tidak saling percaya antara satu dan lainnya dalam politik. "Tidak ada teman sejati yg ada hanyalah kepentingan sejati"
Sebenarnya pribahasa ini stratanya bukan pada level politik yg idealnya disebut negarawan. Tapi pribahasa ini hanya cocok ditabalkan pada level pemain politik kelas Demagog yang sebatas mencari jabatan untuk mendapatkan pekerjaan demi kenyamanan hidup politisi.
Kalau batasan dikelas demagog ini maka setiap pemilu mereka mengucurkan investasi misalkan sebesar 5 Milyar untuk kemudian mengumpulkan kembali dalam 5 tahun jabatan utk mendapatkan 10 sd 20 Milyar. Pemilu hanya menjadi bursa kerja atau bursa investasi potensial.
Karena derajat politik sudah digeser pada level yg sangat rendah maka para pemain politik berkompetisi untuk memperoleh pekerjaan. Rebutan inilah yg kemudian tidak mengenal kawan, saudara dan sopan santun serta meruntuhkan pergaulan sosial dengan saling tidak percaya lintas pemain politik di Indonesia dan wabil khusus di Aceh.
Pemimpin partai adalah orang utama yg bertanggung jawab terhadap ketidak percayaan lintas kader karena dirinya adalah pembohong maka seluruh kader terdidik menjadi pembohong dalam dunia politik. Mereka berada diatas tapi mereka tidak saling percaya karena aturan hanya dijadikan permainan bukan bahagian penting dari konstitusinya.
Kader yg tidak paham pd arah konstitusi akan menyerap ilmu politik pimpinan, kalau pimpinannya kelas demagog ya semua akan terdidik sebatas itu juga. Bayangkan kalau semua pimpinan politik di daerah misal di Aceh yg semua demagog maka 100 persen rakyat Aceh memahami politik sebatas itu juga, karenya jelas mereka tidak saling percaya dan berlakulah pribahasa sehari2 yg fakta2nya memang begitu adanya.
Jadi itulah kunci kerusakan pendidikan politik rakyat, ketua partai menjadi indikator derajat sosial dimana saja, krn daerah diurus dan di didik oleh org politik, sementara mereka secara alami tanpa disadari di didik oleh pimpinan partai politiknya.
Pertanyaannya?
Adakah pimpinan partai politik di Aceh yg punya ajaran yg baik dalam politik??
Jika ada baiklah politik dan keberadaan sosial, jika tidak maka berpikirlah utk mendapatkan mereka yg berpengetahuan dan memahami bukan mereka yg sanggup membeli kepala kalian, kalau ukurannya yg bisa membayar maka bersiaplah utk terus terpecah belah seumur dunia.
Oleh karena itu pemimpin itu tidak cukup sebatas ada uang untuk membeli orang2 krn membahayakan pendidikannya. Tetapi anda perlu guru utk kemudian anda menjadi pemimpin politik yg menjadi guru bagi masyarakat di daerah anda. Maka jangan sekali2 meremehkan perihal pemimpin partai krn dampak kualitas mereka menentukan baik buruknya rakyat daerah anda.
---------------------Salam-------------
