Pemimpin Lemah Intelektual, Partai Politik Melahirkan Pencuri, Perampas dan Perbudakan Masyarakat
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)
Berbagai macam cara orang mencuri dengan menggunakan berbagai media termasuk partai politik yang dipergunakan untuk menutupi dari orang lain yang disegani atau ditakutinya.
Kenapa menutupi pada orang yang disegani atau ditakutinya?
Tentu saja kalau yang disegani dan ditakuti atau orang yang memahami akar masalah sudah tiada maka mencuri menjadi sesuatu yang normal. Orang akan bertanya pada seorang pencuri dengan pertanyaan apakah anda sudah pensiun dari mencuri atau masih aktif?
Kenapa demikian? Karena mencuri sudah menjadi suatu profesi masyarakat untuk memperoleh pendapatannya.
Kenapa profesi? Tentu saja karena pekerjaan masyarakat sangat kabur bahkan mereka tidak bisa berprofesi secara fokus, misalnya bankir, wartawan, pengusaha, konsultan bisnis, konsultan politik, tukang, petani, pelaut, pekebun, peternak, trader saham, trader forex, trader krypto, dan lain-lain.
Karena kebiasaan hidup di daerah maka profesi kaeahlian tereduksi dalam pengaruh kekuasaan, karena kekuasaan menjadi alat utama yang mengatur kehidupan masyarakat di daerah dan terutama penundukan masyarakat disamping dalam beragama juga terjadi dalam partai politik karena sistem pengelolaan partai politik dan organisasi dengan menciptakan sebanyak-banyaknya kader sebagai anak buah pimpinan partai tersebut.
Kenapa harus dilakukan seperti itu? Itulah sistem politik klasik tradisional pada masyarakat daerah yang mengandalkan pengumpulan massa sebagaimana idealnya perencanaan dan implementasi berperang dimasa lalu. Sistem politik seperti ini masih terbawa dalam dunia politik hingga sekarang.
Nah, pernahkah kita membayangkan bila suatu ketika mereka melakukan aktivitas yang bertentangan dengan aktivitas normal? Karena terdesaknya para pimpinan partai politik dalam mengawal anak buahnya mereka digaji atau diupah dengan berbagai cara dalam melakukan aktivitas partai politik.
Bayangkanlah seberapa banyak uang dibutuhkan untuk menggerakkan aktivitas politik dipartai? Sama dengan biaya perang hingga biaya hidup keluarga anak buah atau anggota perlu dipikirkan dan dibayar secara rutin. Hal ini seperti tidak mungkin, tetapi itualah realita kehidupan partai politik di daerah karena mata pencahariannya terfokus pada partai politik. Mereka boleh di golongkan sebagai pesuruh partai politik dan menjadi kecenderungan dalam sistem kekuasaan partai politik.
Lihatlah pengalaman di Aceh pada awal perdamaian dan pembukaan kran politik kepada kelompok GAM, maka sistem pengawalan kantor partai saja cenderung meniru sistem kekuasaan istana raja dimana terdapat penjagaan kantor secara rutin oleh pasukan, dan mengawal rumah pimpinannya siang dan malam.
Fenomena ini sesungguhnya suatu lelucon partai politik yang lugu dalam politik partai dan saya berseloroh dan bertaruh dengan teman-teman bahwa bangunan budaya politik ini tidak mungkin akan bertahan lama.
Kenapa kita mendapatkan realita seperti itu dalam partai politik kita?
Jawabannya adalah sebagai akibat kualitas pekerjaan politik yang masih jauh dari standar politik yang ideal dan matang dalam demokrasi.
Dalam kehidupan politik partai sebenarnya tidak berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya disebuah negara atau daerah yang sungguh bergantung pada tingkatan kualitas hidup masyarakatnya.
Misalnya pada kapasitas pekerjaan masyarakat yang semakin maju maka pekerjaan-pekerjaan perbudakan dalam keseharian masyarakat akan menghilang dengan sendirinya. Lihat saja hal yang sederhana, misalnya ketika anda ke bandara di negara kita maka begitu banyak orang yang bekerja dalam tugas perbantuan seperti membawa tas dan barang-barang.
Tetapi di negara yang masyarakatnya sudah maju tugas perbantuan seperti ini sama sekali tidak kita temui lagi. Karena bisa saja dilarang pemerintah atau kesadaran masyarakat sendiri atas daya pikir dan harga dirinya yang semakin tinggi karena banyak pekerjaan lain yang lebih baik bagi harga diri warga.
Begitupun tugas perbantuan dalam partai politik, dimana ketua partai dalam hidupnya mempunyai ajudan, supir pribadi, dengan peralatan pengawalan sebagaimana pimpinan masa lalu yang sangat kuno.
Demikian juga pada lembaga pengajian seorang ulama yang gaya hidupnya dikawal oleh beberapa ajudan dan supir pribadinya yang menggelikan.
Apa yang salah pada ketua partai dan pimpinan pengajian itu?
Dalam kacamata kuda terlihat justru lebih baik dan bagaikan tuan bahwa yang bersangkutan membuka lapangan pekerjaan pada orang lain. Tapi dari kacamata yang normal justru sebaliknya, mereka adalah orang yang telah merusak masa depan orang lain terjerembab dalam hidupnya anak buah itu yang akan sulit bangkit dan dia akan senantiasa menjadi pembantu hidup orang lain.
Kenapa? Tentu saja karena masa depannya sudah berakhir dipekerjaan tersebut, hal itu merupakan pekerjaan private bahkan dinegara maju orang hanya bersedia bila dibayar berkali lipat karena berkaitan dengan pelemahan dari standar harga dirinya.
Logikanya adalah semakin berkualitas tingkatan hidup suatu masyarakat akan lebih lengkaplah alat pemuas kebutuhannya, maka orang-orang cerdas membuat discovery dan inovasi untuk pengembangan hidup masyarakatnya yang lebih mudah dalam berbagai bidang.
Begitulah ilustrasi politik bahwa semakin baik kualitas politik seseorang maka akan semakin mudah dia melakukan pekerjaan politik dan tidak merepotkan banyak orang.
Pekerjaan politik sebenarnya ukurannya bukan pada ramainya orang berkumpul dan melakukan suatu sikap sebagaimana kebanyakan demo di negara berkembang yang dipengaruhi oleh tingkat sensivitas pemimpin pemerintahnya yang kebanyakan tak menggubris aspirasi rakyatnya. Kalaupun mereka peduli lebih kepada sebatas menggunakan mereka untuk tujuan jabatan dengan kata lain mereka mengeksploitasi anggotanya sendiri.
Coba bayangkan bagaimana nasib atau masa depan algojo atau tukang pukul yang bekerja pada seseorang toke kalau si toke itu mengalami musibah misalnya dia umurnya lebih singkat. Meskipun si tukang pukul itu mendapat toke baru tapi peluang itu semakin berkembang masyarakat semakin sempit, akhirnya dia berakhir dipengangguran.
Karena itu maka politik membutuhkan kebijakan dan kebaikan dari dalam diri, seni dan ilmu pengetahuan politik yang baik untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah dan kebijakan sosial agar pemerintah jangan sampai memelihara kebijakan pemberdayaan masyarakat yang salah kaprah.
Sementara mereka yang kualitas ilmu politik maka mereka jauh lebih efektif melakukan pekerjaan tanpa harus melibatkan orang banyak sebagaimana kelompok genk menghadapi masalah publik tersebut.
Karena itu maka politik sebenarnya tidak membutuhkan anak buah sebagaimana kebutuhan orang dalam menggerakkan kapal bahan bakar batu bara dimasa lalu.
Karena bila dipahami secara benar maka pekerjaan politik itu adalah pekerjaan adu kecerdasan atau adu otak yang membawa pengaruh pada kebijakan publik (Public Police). Maka siapa yang lebih cerdas maka dialah lebih berkuasa dan biasanya cenderung menjadi pemimpin.
Lihatlah bagaimana perkembangan dinegara maju misalnya Pentagon sebagai pusat militer USA yang lebih banyak membangun penelitian dan pengkajian untuk mengetahui berbagai akar masalah dan solusi serta berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk menghadapi keamanan nasional negaranya dan keamanan dibumi, bukan bertempur sebagaimana kita pikirkan.
Karena itu maka ilmu politik itu adalah ilmu yang paling komplek yang membutuhkan keahlian dalam berbagai bidang yang mempengaruhi masyarakat banyak.
Kecerdasan dalam politik adalah kecerdasan kepemimpinan, apalagi di negara demokrasi karena pemimpin selalu dihadapkan dengan keterbukaan baik dalam kebijakan dan pengelolaan negara yang mengharuskan kecerdasan memimpin yang bersifat kolektif kolegial dan kordinatif karena tidak ada salah satu pihak yang lebih berkuasa dari yang lain.
Karena itu yang harus selalu menjadi pegangan bahwa ajaran Islam yang menegaskan bahwa "setiap kamu adalah pemimpin" yang mengisyarakan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap dirinya dan karena itu maka kemerdekaan jiwa warga adalah sebaik-baiknya kualitas seseorang dalam membawa kepemimpinan rakyatnya.
Nah, jika hal ini saja tidak diketahui oleh pemimpin disuatu daerah dan negara maka maklumi saja kenapa kehidupan masyarakat kita hidup dengan cara tertinggal dan dijajah oleh para pemimpin partai politik kita sendiri selamanya.
Salam