Pemimpin Dalam Masyarakat Tradisional
Masyarakat Tradisional, Fanatik itu dalam memilih pemimpin mereka senantiasa berorientasi pada Pencarian TUAN YANG ADIL, seseorang yang bisa berbagi kepada semua mereka dengan keahlian hanya sebatas bergabung untuk membangun power politik guna mendukung seseorang yang mereka puja dan puji tanpa melihat salah dan benar.
Fenomena ini terjadi hampir disemua daerah atau negara tertinggal.
Masyarakat seperti ini tidak membutuhkan hukum yang adil, tidak membutuhkan kebebasan, mereka rela diikat dengan komitmen kesetiaan yang tidak seharusnya dalam politik.
Dampak terburuk pada masyarakat ini tentu mereka akan terposisikan sebagai rakyat terjajah dan sistem kepemimpinan feodal akan terus dipelihara dalam waktu yang lama.
Pemimpin bagi mereka lebih sebagai batasan pemberi makan dan bantuan serta sebagai tempat mengadu dan menghadapi musuh2 Tuannya tanpa reserve. Sayangnya masyarakat begini sulit untuk keluar dari lingkaran yang terpuruk. Dampak buruk lainnya masyarakat begini tidak pernah bermimpi menjadi rakyat produktif dan mandiri. Selain itu masyarakat ini selamanya akan menjadi beban kepemimpinan dan juga beban negara. Dimana setiap kesempatan pemimpinnya harus mempersiapkan uang yang begitu besar untuk memenuhi permintaan mereka, kalau di Aceh momentum seperti hari Makmeugang.
Semoga rakyat Aceh tidak memilih model kehidupan rakyat begini dan model kepemimpinannya. Karena kepemimpinan sosial dan cara hidup rakyat begini tidak akan mampu meningkatkan sumber daya manusia seutuhnya apalagi mereka senantiasa terikat dalam belenggu nilai pemimpin dan pengikut yang tidak sepantasnya.
Mari kita terus berpikir bagaimana model ideal sistem yang paling baik untuk kepemimpinan dan percepatan perubahan indeks pembangunan rakyat agar kita tidak menjadi rakyat tertinggal.
Selamat nikmati sahur,,,,,