Referendum dan Logika Penyelenggaraan Bagi Aceh
Oleh
Tarmidinsyah Abubakar
Bagi Aceh berbicara tentang Referendum adalah berbicara tentang pilihan bertahan atau keluar dari Indonesia kemudian menjadi negara berdaulat melalui jajak pendapat warganya. Namun pra syarat untuk penyelenggaraannya adalah hal utama yang harus dihitung supaya orang lain tidak menganggap rakyat Aceh gagal paham. Tentu kita tidak ingin hal ini menjadi titik balik ke zero bagi Aceh. Kemudian pertaruhan ini kita mempersalahkan pihak lain dan menjadi issu politik sosial yang meradang sepanjang hidup rakyat Aceh dimasa depan.
Ada juga Referendum Legislatif yang bisa diperjuangkan melalui lembaga itu hal terkait tentang jajak pendapat rakyat tentang Undang-Undang atau Referendum Konstitusi, misalnya UUPA yang merupakan konstitusi bagi rakyat Aceh yang diatur dengan UU Republik Indonesia, kemudian dalam perjalanannya tidak memberi perbaikan dalam keadilan hidup bagi rakyat Aceh maka ketika sebahagian besar rakyat kecewa maka bisa dilakukan Referendum terhadap keberadaan UUPA.
Siapa yang menggugat? bisa saja dilakukan oleh pemerintah Indonesia sendiri dengan dalih-dalih bahwa UUPA hanya menjadi penghambat kesejahteraan tapi hanya menjadi jembatan bagi kekuasaan untuk membelenggu rakyat Aceh.
Dasarnya, atau alat politik yang logis itu apa sih?
Jawabnya adalah komposisi parlemen Aceh yang lebih dominan nasional dan lokal. Parlemen Aceh itu adalah manivestasi pra Referendum yang legal.
Bagaimana kalau dalam jajak pendapat itu nasional menang? Implikasi utama adalah Partai Lokal di bubarkan karena partai lokal bisa didirikan karena UU No 11 tahun 2006 yang sesungguhnya juga menjadi konstitusi baru bagi rakyat Aceh disamping UUD 45 dan Pancasila. Tapi setelah Referendum ternyata UUPA terkalahkan. Dengan sendirinya partai lokal dan sejenis itu turut menjadi kalah atau hilang.
Maka berbicara itu harus menggunakan logika agar tidak menimbulkan polemik ditengah rakyat. Kalau sebatas memantik emosi rakyat mending tidak perlu bicara jika konsep itu tidak matang. Karena ini akan menjadi alat yang sempurna untuk membalikkan keadaan, yang menjadi korban adalah rakyat itu sendiri.
Sebenarnya saya merasa kuatir ketika kita ingin menggugat dilaksanakan referendum untuk Aceh. Karena dalih itu sudah tidak cukup lagi untuk bicara minta referendum. Idealnya pada pemilu pertama yang diikuti partai lokal adalah waktu yang sempurna sebagai pra Referendum di Aceh. Namun sepertinya aturan main tentang referendum tidak sepenuhnya dipahami oleh para pemain politik Aceh itu sendiri. Sehingga partai lokalpun hanya satu yang boleh diperkuat, just one local party, Meunyo Kon Ie Leuhop Meunyo Kon Droe Mandum Gob"
Padahal membangun sebuah bangsa dan negara butuh ruang yang lebar bagi segenap rakyat dimana pemimpin itu harus dengan memahami Demokrasi yang utuh sehingga semua elemen rakyat bisa terbuka kesempatan berpartisipasi dan orang-orang yang berwawasan berilmu pengetahuan ditengah rakyat bisa direkruit dan muncullah pemikiran yang berkualitas dan cukup kapasitas untuk usaha kearah itu yang begitu besar tantangannya.
Referendum Kemerdekaan
Menurut penulis, Aceh itu sebenarnya sudah merdeka, tapi rakyat Aceh sendirilah yang tidak ingin merdeka, dan tokoh-tokoh Aceh juga enggan bicara itu ketika mereka lagi enjoy atau senang, mereka justru lebih bahagia menatap kemapanan daripada berjuang untuk pembebasan Aceh.
Logika politik apa sesungguhnya yang dapat dibaca oleh rakyat tentang keberadaan partai politik lokal justru dibaca terbalik kegunaan dan manfaatnya oleh para tokoh pejuang itu sendiri. Mereka lebih sibuk membunuh karakter orang-orang yang berpengetahuan daripada mengajak mereka berjuang secara bersama untuk tujuan yang lebih besar.
Akhirnya yang terjadi justru partai lokal hanya menjadi alat ungkit bagi perubahan nasib mereka yang sebelumnya bodoh menjadi sebatas percaya diri, arogansi ditengah rakyat dan berfondasikan materi dan tentu saja dukungan dari rakyat awam yang sebatas mencari tempat meminta makan sehari-hari. Dengan kata lain mereka di dapuk ke depan hanya karena mau menjadi orang-orang yang mau bermurah hati kepada rakyat secara instan, bukan mendidik rakyat menjadi mandiri dan bisa mencari makan dengan kaki sendiri sehingga mereka memenuhi syarat dalam berdemokrasi dan tentunya menjadi rakyat seutuhnya bukan manusia tertindas dan terjajah sepanjang hidupnya.
Yang perlu diingat adalah sebuah bangsa yang kuat harus pula ditopang oleh kualitas rakyat yang mandiri yang posisi keberadaannya bukan sebagai subordinat manusia lainnya. Semakin bebas posisi individu maka semakin baiklah kualitas demokrasi suatu bangsa, karena sikap pilihan rakyat tidak lagi diatur dengan kebutuhan yang terdesak dengan makan siang atau biaya sekolah anaknya.
Dinamika yang tergambar dari sistem komunikasi politik antara rakyat dan politisi yang dipilih tidak lebih menyerupai politik prilaku Burung, mereka berjuang sebatas mencari, membawa pulang makan dan bisa memberi makan anak-anaknya. Demikian pula seterusnya siklus kehidupan mereka yang tidak pernah berubah, selalu saja kondisinya statis tidak dinamis sebagaimana seharusnya kehidupan manusia ketika telah disebut rakyat atau dengan kata lain telah memahami hidup bernegara.
Karena kondisi sosial yang tidak terdidik secara baik dalam politik maka modal Referendum semKakin lama justru semakin terkuras. Kesadaran terhadap kepercayaan bagi rakyat Aceh berada dalam kapasitas faksi lokal memperlihatkan trend yang melemah.
Apalagi pola-pola yang diperlihatkan dalam kepemimpinan selama ini yang menunjukan karakteristik kepemimpinan otoritarian yang dimiliki oleh penjajah. Tentu rakyat akan terus berpikir untuk apa merdeka jika kekuasaan negara merdeka bernuansa perompak. Intinya rakyat akan lebih terjajah positioningnya dalam negara.
Tentu akan berbeda ketika para pejuang merasa pentingnya elemen lain yang dapat memberi warna dalam perjuangan lokalitas, bahwa keinginan merdeka menjadi harapan semua orang tanpa kuatir dengan pemahaman bernegara para serdadu yang kemudian menjadi politisi dan pemimpin di Aceh.
Jika mereka berjiwa besar maka rekruitment pemimpin ditengah rakyat tentu dapat berjalan lancar untuk menutupi kekurangan alamiah yang berjalan bagaikan air mengalir selama ini tanpa sentuhan konsep kepemimpinan sosial.
Kenapa dukungan lokalitas menjadi lemah? Jawabnya adalah disebabkan tingkat kepercayaan yang ragu dalam kualitas mengelola negara oleh para serdadu. Konsep kehidupan Sipil yang berorientasi pada kesejahteraan dengan mentalitas bangsa yang wirausaha tentunya akan menjauh dari pola-pola kepemimpinan serdadu yang otoritarian.
Melalui tulisan ini penulis hanya ingin mengingatkan, pertama bahwa modal referendum bagi rakyat Aceh baru saja kita lemahkan diparlemen pada pemilu yang lalu, kemudian lokalis kurang paham memandang nasionalis yang bermental negarawan dan nasionalis ke Acehan.
Mereka justru memilih berafiliasi dengan pedagang dan membunuh karakter politisi dan pemimpin yang bagus yang punya ajaran hidup bagi rakyat yang berada di parnas. Padahal itulah yang keliru dan tujuan politik akan terhenti ketika rakyat diubah oleh pedagang di parnas untuk memahami politik sebagai suatu dagang atau industri yang ukurannya hanya dalam batasan tinggi rendahnya bayaran, manfaat hidup dan tentu nilai idealis atau harga diri bangsa Aceh dengan sendirinya hilang.
Kedua, ketika dilaksanakan Referendum dimana kemudian nasional menang maka rakyat Aceh harus siap kembali ke titik Nol dan harus siap kehilangan UUPA dan tentu harus siap kehilangan partai politik lokal.
Ketiga, Semakin lama rakyat terdidik oleh politisi yang mentalitas pedagang maka semakin liar pula mentalitas pemilih Aceh, mereka akan cenderung lebih pragmatis dan berada dalam belenggu ketidak percayaan terhadap para pihak karena tidak mampu memenuhi harapan terhadap perbaikan hidupnya. Tentu saja ini berbahaya untuk disempurnakan sebagai vooter potensial untuk memberi jaminan kemenangan lokalitas dalam jajak pendapat.
Keempat, Jangan pernah berpikir tentang menggerakkan perang ketika referendum digagas oleh para pihak, maka rakyat jangan terjebak dengan bahasa referendum tetapi bacalah ada apa dengan issu referendum itu dilempar kepada rakyat.
Pelajari positioning dalam politik, pelajari adakah hal yang terdesak sehingga harus dihadang dengan issu referendum. Atau politisi tidak ada pilihan lain untuk mengajak rakyat terlibat dalam misi yang sesungguhnya menjadi alat untuk menutupi misi lainnya.
Kelima, Momentum apa yang sedang berlangsung saat ini, atau akan dihadapi dimasa depan dalam politik sehingga perlu melempar issu tersebut untuk pemantik emosional rakyat sehingga menjadi pendorong kelancaran misi politisi.
Demikian sekedar mengingatkan agar rakyat tidak terjebak dan latah dengan issu referendum. Berpikirlah secara rasional terhadap modal referendum agar Aceh tidak seperti segerombolan anak kecil menuntut dibeli mobil oleh orang tuanya. Padahal dia tidak cukup syarat memperoleh Surat Izin Mengemudi karena kematangan pikirannya yang membahayakan lalulintas atau pengguna jalan lainnya yang dapat menyebabkan huru-hara sosial.
Dalam kondisi normal adalah lebih baik ketika semua elemen tercerahkan dengan modal yang kuat, tentu dapat diperbaiki pada pemilu yang akan datang daripada memilih jalan berperang dimana tidak mungkin kita menghiasi semua rakyat dengan ilmu kebal agar tidak menimbulkan kematian etnis yang semakin berkurang. Kecuali ada situasi yang luar biasa dalam konteks negara Republik Indonesia. Semoga!
Penulis adalah pencetus ideology dan pendiri Partai Politik Lokal Gerakan Rakyat Aceh Mandiri (GRAM) yang digugurkan ikut pemilu oleh KIP pimpinan Ridwan Hadi, SH pada masa perbaikan padahal masalahnya hanya mengganti beberapa lembar KTP di Gayo Lues, setelah GRAM memenangkan gugatan di Bawaslu Aceh
Kepada yang ingin pendapatan tambahan silakan klik dan daftar :
https://moneyrewards.co/?share=bungedo
[12/6 07:29] Tarmidinsyah Abubakar: Yang perlu dollar silakan klik link ini dan masukkan keterangan anda, untuk user name masukkan nama panggilan anda. Nanti anda akan mendapat link dan link itu kirimkan ke sebanyak2nya teman. Jika anda tidak ingin mendaftar tolong sebarkan url diatas untuk kerjasama persahabatan kita semua. Selamat pagi....