Apresiasi Aceh : Kita Semua Mati, Kenapa Mau Dijajah?

Manusia itu pada akhirnya semua akan mati, karena mati itulah dimulai kehidupan baru. Kalau kita semua sadar akan mati kenapa kita takut mati. Menurut saya jawabannya adalah ketakutan akan amal dan ibadah yang masih kurang. 

Tapi bukankah dalam ajaran Islam mempertahankan harga diri adalah syahid. Jika kita yakin dengan mati syahid bila ada kesempatan kenapa kita tidak memanfaatkannya. Daripada kita mati sia-sia tentu lebih baik mati mempertahankan harga diri. Bukan soal ingin menjadi pahlawan, untuk apa jadi pahlawan kalau kita telah mati, dan anak cucu kita dalam jajahan bangsa lain.

Kita sadar bahwa mendhalimi orang lain adalah tidak adil dan tentunya berdosa. Lalu bagaimana dengan yang diam, tentu juga tidak berbeda dhalim. Meski yang dicurangi adalah orang lain oleh orang lain pula, tetapi dampaknya terhadap kehidupan kita rakyat Indonesia.

Indikator-indikator tentang kolonialisme kita pahami, meski secara data yang riil belum sampai di depan kita. Tapi tokoh dan lembaga yang bertanggung jawab seperti Departemen Keuangan sudah jelas memberi sinyalemen bahwa negara ini bersiap untuk menambah hutang yang tidak sedikit itu. Padahal UU sudah mengatur tentang besaran yang dibolehkan secara proporsional. Bukankah hal ini adalah kebodohan kita yang tidak peduli dengan hak dan tanggung jawab sebagai warga negara. 

Kalau sekarang setiap jiwa manusia Indonesia berhutang setahun Tiga Belas Juta Rupiah, apakah kita menunggu hutang kita hingga Lima Puluh Juta Rupiah? Selanjutnya apakah kita akan menjadi pembayar pajak dimana kita tidak memiliki cukup kemampuan untuk melakukannya, karena kita rakyat disini tergolong miskin. Sementara yang menikmati beban kita dan hutang kita hanya mereka segelintir orang-orang yang menggadaikan kepala kita kepada pihak lain karena kewenangannya yang di dapat melalui pemilu-pemiluan.

Kata mereka suara rakyat adalah suara tuhan. Apakah benar pemilu manivestasi dari suara rakyat yang sesungguhnya? Menurut saya jelas tidak, tetapi suara yang telah dikurang ditambah atau dibuang oleh mereka yang berkuasa menyelenggara pemilu.

Lalu, kita rakyat Aceh mau bersikap seperti apa? Karena kita sebahagian besar tidak memilih mereka untuk tidak melanjutkan kekuasaan mereka. Tentu kita harus memilih jalan yang lebih baik untuk hak kita sebagai rakyat merdeka karena kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Menurut saya tidak ada yang perlu diragukan. Jika kita adalah manusia dewasa.

Karena dipulau sana tidak merdeka, lantas untuk apa kita menambah panjang barisan dalam kelompok terjajah. Apakah kita tidak punya pikiran untuk berpikir secara jernih. Meski ada yang tidak tapi dari Lima Juta jiwa di Aceh tentu ada beberapa persen yang lumayan masih punya sikap idealis untuk menghadapi kondisi sosial itu.

Referendum adalah jalan keluar meski parlemen kita setiap lima tahun dilakukan pemilihan sebagai gambaran hasil jajak pendapat. Tapi ketika kondisi seperti sekarang tentu kecenderungan dukungan akan berbeda, karena kita tidak dominan menempatkan kepentingan pribadi dan kelompok disana. Karena tidak ada teman, saudara kita yang maju sebagai calon anggota legislatif.

Saya yakin perbedaan ini dapat merubah bentuk dukungan secara total bagi rakyat Aceh untuk mendukung REFERENDUM. Karena ini bukan soal Calon Presiden tapi soal posisi sebagai rakyat terjajah atau rakyat merdeka.

Salam, GRAM

Kepada yang ingin pendapatan tambahan silakan klik dan daftar :

 https://moneyrewards.co/?share=bungedo

[12/6 07:29] Tarmidinsyah Abubakar: Yang perlu dollar silakan klik link ini dan masukkan keterangan anda, untuk user name masukkan nama panggilan anda. Nanti anda akan mendapat link dan link itu kirimkan ke sebanyak2nya teman. Jika anda tidak ingin mendaftar tolong sebarkan url diatas untuk kerjasama persahabatan kita semua. Selamat pagi....


Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil