Puasa dan Logika Keimanan Seseorang

Puasa adalah salah satu rukun Islam diantara lima rukun Islam lainnya yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim yang beriman.

Iman adalah suatu kepercayaan dan meyakini tentang keberadaan Tuhan dalam dirinya sehingga seseorang itu harus mendalaminya dari lubuk hati yang paling dalam. 

Keimanan dalam agama adalah keyakinan seyakin-yakinnya terhadap Tuhan meski seseorang tersebut tanpa dapat ditransformasikan dengan logika, jika dalam ideology politik maka ia bagaikan fanatisme buta. Agama mengantarkan pada tahapan-tahapan kepercayaan itu yang merumuskan tatacara dalam implementasi pencapain keimanan dimaksud.

Oleh karena itu Puasa menjadi salah satu syarat utama untuk pencapaian keimanan dalam agama Islam. Secara logika puasa hanya bisa didefinisikan sebagai alat penguji kesabaran dan kematangan yang dibenturkan dengan tekanan hawa nafsu yang senantiasa dihadapi setiap manusia.

Kebiasaan kita temui seseorang yang memiliki keimanan secara lahir atau yang bisa kita lihat dengan mata kepala bahwa sebagian besar pemilik keyakinan lemah kecerdasannya saat dihadapkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Mereka sedikit sekali yang bisa mengkomunikasikan permaslahan sehari-hari dalam kehidupan dengan ajaran agama bahkan secara sosial ia tidak tergubris baik dalam bisnis maupun politik. Bakhan sebahagian besar yang kita saksikan perihal bisnis dan politik sesungguhnya terabaikan dengan ajaran agama. Padahal sebahagian besar kehidupan kita diatur dalam dua hal ini yang kemudian mengatur bidang kehidupan lainnya.

Sebenarnya sungguh tidak memiliki makna apa-apa ketika Puasa tanpa diiringi oleh kesadaran yang berkait dengan keimanan, meskipun mereka menahan haus dan lapar sepanjang hari. Karena pekerjaan itu tidak diawali dengan niat dan usaha pelaksanaan secara berkeyakinan karena keberadaan tuhan. 

Apalagi di daerah, komunitas bahkan negara yang menganut sistem negara aliran seperti Islam, dan di Indonesia juga demikian, ketika puasa Ramadhan menjadi kewajiban kolektif dan terjadi komando sosial maka ia akan memaksa semua penduduknya untuk melaksanakannya. Semua orang akan tunduk dan patuh pada sistem sosial meski tanpa memahami target, tujuan dan kualitas pelaksanaan puasa dimaksud.

Sebahagian besar orang senantiasa berpuasa tetapi pekerjaan yang haram dan halal masih kabur termasuk dalam sogok-menyogogok dipemilu masih sangat nyata. Lalu untuk apa mereka berpuasa??

Karena itu Ibadah puasa itu seharusnya jangan sampai berubah menjadi ritual budaya sebatas kebiasaan yang turun temurun tetapi segala yang terkandung dalam puasa itu menjadi barang yang langka bagi pelaksananya.