Apakah Politisi Perlu Bicara??



Soekarno, Membangun konsolidasi sosial seluruh Indonesia melalui pidato-pidatonya yang terkenal. 
Hasan Tiro membangun ideology Aceh Merdeka kepada rakyat Aceh kala itu dengan kalimat-kalimat yang akhirnya mengajak rakyat Aceh berpikir untuk kepentingan hak-hak politiknya sebagai suatu bangsa merdeka.

Marthin Lutherking, memperjuangkan pembebasan kulit hitam dengan bahasa-bahasanya hingga ia juga ditembak karena bahasa-bahasanya yang berwawasan.

 Demikian juga tokoh-tokoh lain dunia, apalagi pemimpin di negara maju mereka dipilih karena konsep-konsep tentang pembangunan warga negara dan penyampiannya yang meyakinkan bahwa dia adalah mampu menjadi solusi bagi jutaan rakyatnya.

Seorang politisi bisa disebut sebagai orang-orang yang berjalan didepan rakyat, mereka sebahagiannya yang cemerlang dipilih menjadi pemimpin rakyat, sebahagian besar mengisi parlemen dan mengisi jabatan kementerian.

Bagaimanakah mereka mereka membangun kredibilitasnya dimata rakyat???

Jawabnya mereka bicara dan bersikap bertanggung jawab dan mencari solusi, membuat konsep memahami teori terhadap berbagai persoalan negara dan rakyat sehari-hari. 

Bagaimana caranya?
Mereka bicara melalui berbagai media dan diberitakan karena kemampuannya memberi pemikiran-pemikiran, gagasan untuk solusi menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi rakyat.

Kalau anda tanya, apakah pemimpin atau politisi perlu banyak bicara??
Jawabnya Tentu dan Harus.

Karena ia sebagai suluh rakyat yang mengarahkan tujuan-tujuan kehidupan rakyat dalam bernegara.
Kalau banyak bicara kan banyak yang salah, politisi atau pemimpin bicara berbeda dengan orang awam bicara, mereka bicara konsep dan teori yang dipadukan dengan situasi sosial. Akan halnya dalam teology Islam seorang ulama bicara persoalan agama dengan menggunakan pandua isi alquran, hadist dan lain-lain.

Trus Kalau banyak salah??

Yaa,,,,dia bukan pemimpin atau politisi yang profesional atau mahir dibidangnya. Kalau pemimpin atau politisi pintar tidak akan salah dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataan.

Terus Mana yang lebih baik, politisi hanya diam tapi sikapnya bertanggung jawab terhadap sosial dengan yang bicara dan bertanggung jawab.

Jawabnya adalah Yang menguasai keduanya, karena pekerjaan politik adalah pekerjaan atas nama rakyat jika tidak bisa bicara maka tidak pantas mewakili rakyat. 

Terus, bagaimana yang selama ini sudah terpilih bahkan ada yang selama lima tahun menjadi wakil rakyat tidak pernah bicara terbuka untuk menunjukkan sikapnya terhadap masalah sosial?
Jawabnya adalah yang memilih yang tidak memahami apa peran dan fungsi wakil rakyat.

Berarti pemilih masih bodoh dong?
Silakan jawab sendiri....jikapun mereka bodoh yang mendidik mereka ya politisi-politisi teritama yang telah terpilih dan duduk di legislatif.

Pemimpin bicara sejuta kalimat tapi tidak ada yang salah, paling juga beda persepsi dengan para pihak atau dengan rakyat, mungkin saja dalam strategy atau teknis lain.

Tapi mereka yang tidak pernah bicara tetapi sekali bicara langsung salah, maka banyak mereka yang ada dalam politik tidak berani bicara karena ketakutan tidak mampu mempertangggung jawabkannya.
Maknya, dia bukan seseorang yang mampu memimpin atau membangun karakter pembangunan sosial yang sesungguhnya.

Katena apa?
Karena pemimpin itu dia bicara secara lugas dan apa yang disampaikan dikuasai sepenuhnya, jika tidak maka pembangunan rakyat tidak akan terarah.
Jadi kesimpulannya pemimpin dan politisi atau calon wakil rakyat seharusnya adalah pembicara-pembicara ulung yang mampu meyakinkan publik.

Untuk apa bicara?

Memperjelas sikapnya dan keberpihakannya dalam masalah-masalah sosial, mereka harus memberi argumentasi politik dan sosial yang memihak kepada rakyat. Karena jika semua berbicara menyampaikan sikapnya secara terbuka tentu masalah-masalah rakyat dengan sendirinya akan terbuka. Tapi bukan soalan pribadi dan kelompok tapi untuk kepentingan sosial yang luas.
Demikian, semoga menjadi pencerah....
Salam
GRAM