Politik itu Membangun Integritas Personal

Semua orang yang bergabung ke organisasi politik itu adalah berusaha untuk mendapat pengakuan terhadap dirinya, apakah dia sebagai orang yang punya potensi dalam bidang atau sebagai yang punya kemampuan memimpin.

Semua orang bicara di dunia ini 100 persen membenarkan dirinya. Hanya saja kita akan paham ketika dia bicara argumentasinya kuat atau lemah dalam bidang tertentu.  Maka satu orang tidak mungkin menguasai semua bidang secara mendalam dan sempurna. Bahkan pemimpin juga paham setengah dari masalah bidang tertentu untuk referensi data dia membuat keputusan (maker decision). 

Nah.... Bila ada yang mengatakan dengan kalimat berikut ini,  misalnya Dia itu bicara membenarkan diri sendiri,  (Emangnya ada orang bicara untuk menyalahkan dirinya dlm argumen). Kemudian, Dia itu fulan agamanya atau bangsanya supaya orang membencinya (menyinggung ras)  itu bentuk kelemahan argumentatif sehingga menjadi alasan untuk dalih dia mendapat support atau dukungan dalam argumentasinya. Karena tidak ada alat lain yang bisa dia gunakan untuk meyakinkan orang. 

Jika ada orang berargumen dengan mengalah maka ia justru untuk sebaliknya menang dengan mengatakan itu. Jangan berpikir terbalik anda nanti merasa menang dan orang lain menganggap anda bodoh dan menertawakan. 

Maka dalam politik butuh kecerdasan atau anda tidak cerdas tapi banyak uang untuk menggantikan. Tapi dalam debat politik hal ini tidak bisa ditolong.  Diluar itu jika tidak berkait pemikiran mungkin anda bisa saja mendapat tempat dalam kebutuhan organisasi politik.  Tapi banyak uang dengan cara yang positif bukan negatif seperti uang dari judi atau jual sabu yang berdampak merusak generasi.  Memelihara orang berpolitik dengan uang tetapi tidak diharapkan untuk pendidikan rakyat.  Namun kalau ketua organisasi tidak cerdas maka ia akan cenderung menghargai orang yang punya uang daripada punya ilmu atau pemikiran dan gagasan. 

Dalam masyarakat yang bermental materialistik hal ini berlaku.  Tetapi yang perlu diingat,  tidak akan berubah suatu kaum hanya ketika keyakinannya, usahanya yang kuat untuk merubah. Akan halnya orang yang ingin menurunkan berat badan maka akan tergantung pada kemampuan menahan diri dari makanan berlemak dan tentu membiasakan puasa. Mau atau tidak mengikuti dan mengerjakan konsep itu.

Justru karena itu pemimpin politik tidak boleh materialistik karena dia tidak akan bisa menampatkan hal-hal yang urgen bagi sisial dalam membuat keputusan. Termasuk dalam mengatur dan menempatkan kader yang butuh kepintaran otak. 

Untuk itu dalam organisasi politik jika kita mengarahkan orang berbuat baik maka mereka akan berlomba pada mengejar dan menunjukkan kebenaran dan menjadi perjuangan, ibadah dan fungsi semangat lainnya agar ia berintegritas.  

Disinilah terjadi persaingan dan semangat profesional.  Tidak mungkin profesional kalau kualitas rendah,  dengan begitulah terjadi seleksi alamiah antara orang yang berilmu atau yang tidak. Kemudian ia akan menjadi orang-orang berjalan di depan, makanya manusia yang punya ilmu tidak bisa ditutupi,  ibarat air kolam yg ada ikan tentu dia akan timbul meski airnya tenang. 

Orang-orang meneriakkan persatuan dan membesarkan partai semua itu juga untuk menunjukkan otoritas dan dirinya establist.  Orang merasa senasib dan seperjuangan mereka juga memperkuat personalnya.  Jika tidak percaya coba aja minta haknya atau nomor caleg yang nomor satu sudah pasti dia mati-matian mempertahankannya bahkan akan berperang dengan anda bahkan membunuh karakter anda.

Tapi kalau anda belum mengganggu kemapanannya maka hubungan anda tetap solid bahkan dipersatukan dengan embel dan simbol bodoh.  Maka ada kepemimpinan rezim yang membuat rakyat dan pengikut supaya tetap bodoh dan dipelihara. Tapi ketika itu terganggu maka ibarat kucing ketika anda lemparkan tulang sudah pasti di rebutin. Atau monyet yg hidup dengan hukum rimba sdh pasti makanan yang kita lemparkan dikuasai yang terbesar diantara mereka bahkan yang lain menjauh. 

Begitu juga manusia jika tidak punya agama,  budaya dan peraturan yang mengatur tentu yang dapat hak itu sudah pasti pimpinannya, apalagi pimpinan otoriter yang bisa mengatur sekehendak hatinya. Karena pimpinan itu mengatur dengan kekuatan politiknya.  Padahal kalau mereka paham demokrasi bisa sebaliknya,  malah yang mendapat hak duluan justru orang yang dibawahnya. 

Tapi tentu demokrasi yang memenuhi prinsip-prinsip dasar demokrasi itu sendiri bukan demokrasi sebagaimana dipahami dimasyarakat selama ini. Dengan kita bersepakat dalam kepemimpinan demoktratis maka rakyat tidak akan berkasta dan terzalimi karena haknya sama dengan pimpinan. Yang pintar akan mengatur dan yang setengah pintar harus belajar sebelumnya.

Menagapa demikian? Karena selama kepemimpinan manusia berabad lamanya tidak ada manusia yang sempurna, dia tetap memiliki kelemahan maka memimpin itu bagi orang yang pandai hanyalah dengan peraturan dan peraturan memimpin itupun dibuat oleh rakyat baru kemudian dilahirkan pemimpin yang sesuai dengan kriteria paraturan tersebut.

Salam