Sayang Bek Meuri, Benci Bek Meusoe

Ungkapan di bawah ini menjadi prinsip dari jaman dahulu menjadi ajaran dalam kepemimpinan rakyat, di daerah lain tentu dengan bahasanya sendiri.  Tapi yg perlu dicermati bhw politik dan kepemimpinan itu ada standar normalnya. 


Memimpin rakyat itu bagaimana anda memposisikan diri untuk memberi rasa adil dlm menerapkan hukum, program pembangunan, dalam politik, ekonomi dll sehingga semua rakyat merasa memiliki bangsa dan negaranya. Sebagai presiden/ gubernur/ bupati, Anda tidak boleh menjauhkan lawan anda dan pengikutinya dgn negara, apalagi sekedar saingan politik. Krn mereka adalah warga-warga negara kuat sebagaimana anda juga bahkan bisa melebihi anda. 


Jaman ini saya belum pernah menemukan di negara maju politisi itu sebagaimana cara kerja dan gaya tentara dengan rompi, baret, pakaian militer dan tidak saya temukan adanya pasukan ini itu dalam istilah politik sipil, kecuali di negara yg rakyatnya dibodoh-bodohi supaya sumber daya alamnya bisa dikuras. 


Mereka dibuat berpikir pada batasan pemimpin pasukan sehingga otaknya dikunci pada kemampuan komando (perintah) yg bertentangan dengan kehidupan sipil (rakyat) yg idealnya sipil itu memerintah dengan hukum dan kesadaran. Maka ada negara yang makmur tidak pake tentara dan polisi, kesanalah seharusnya politik sipil berpikir untuk kemajuan bangsa. 


Kita dilalaikan dengan sistem otak militer sehingga setiap perdebatan politik endingnya ke perang, kalau perang apakah kita punya alat perang seperti pesawat tempur, seulawah NAD yg pesawat penumpang saja sudah tak tau kemana๐Ÿ˜ท karena itu Aceh terkunci dalam lingkaran "Cuaantik" dlm perspektif keamanan dan politik.


Tinggal mengawal dan menjaga supaya tidak boleh ada yg cerdas dlm politik sipil yang mengubah Aceh untuk keluar dari kotak bodoh yg terkurung "(sebagaimana seekor tokek yg sedang menunggu harga pasar.๐Ÿ™„๐Ÿ˜ท๐Ÿ˜€) dlm kurung canda.


Bagaimana keamanan negara? 

Apa kita buta hati tidak mampu membaca bhw betapa bangsa lain mengembangkan nuklir dan bom pemusnah massal yg membuat negara seperti Amerika gelisah dgn mempengaruhi UNO (PBB) menerapkan sanksi utk negara seperti Iran dan Korut. 


Rakyat negara maju memeras otak berpikir bagaimana satu senjata bisa memusnahkan negara lain. Atau satu pesawat dan Heli tempur bisa menghancurkan ribuan pasukan yg dibuat oleh negara tertinggal seperti Kambodja, Vietnam, Suriah dll. 


Sementara markas tentara seperti Pentagon di Amerika itu justru lebih berkonsentrasi pd penelitian dan analisa keamanan dan menaklukkan keamanan seluruh dunia, untuk perang mereka hanya mengirim satu atau dua manusia dgn pesawat tempur utk menghancurkan ribuan pasukan yg negara kita latih dan gaji dgn uang negara hingga anak cucunya. Kedepan justru mereka sdg berpikir pesawat tempur tanpa awak pesawat. 


Pertanyaannya mana yang lebih efisien dan efektif?? 


Terus rakyat negara2 bodoh itu cuma bisa bilang kami tidak kalah perang, selama kita berjuang dan tidak takluk sbgamana budak tentu hingga kiamat kita boleh berperang jika tdk dgn senjata ya dgn ideology kebangsaan, perang itu tetap ada dan tak pernah kalah, tapi apakah kita menang perang?? ๐Ÿ˜ท 

tapi apakah negara yg menjajah itu kalah perang๐Ÿ˜ท


Mari kita berpikir rasional bhw politik jabatan itu tidak perlulah kita berduyun2 seperti mau perang, jika begitu kondisinya saya yakin ada yang Salah dengan Janji Caleg kpd rakyat. Bilapun terpilih 100 persen positioningnya sbg wakil rakyat dipengaruhi pemodalnya yg disebut Distorsi (penurunan derajat) Fungsi Wakil Rakyat. 


Kalau yg anda pilih tidak memahami manajemen sosial saya menjamin 100 persen rakyat kecewa. Krn tidak akan ada kemampuan caleg itu mengubah kondisi sosial berhadapan dengan hukum Indonesia dengan "ilmu politik sebatas ilmu ek (naik) sekedar mengajak orang, kalau orang pandai bisa jadi rasional tapi kalau orang masih bodoh?? tentu dgn sesama pikiran bodoh itu besar kemungkinan akan lahir wakil rakyat yg bodoh juga. 


Terhadap Ilmu duek menjabat (Bagaimana dan untuk apa menduduki jabatan) itu yg jarang di miliki caleg dan jarang dievaluasi oleh rakyat.  Sehingga kita hanya menjadi pemilih tradisional, inrasional dan fanatisme. 


Terimakasih

Wassalam

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil