Pemimpin dan Direktur
Pemimpin secara Normal itu mereka yg bersikap dan bekerja untuk membangun konsolidasi sosial, jika tidak menyentuh kepentingan sosial maka keberadaannya sebatas manajemen perusahaan, ia hanya pantas disebut Pejabat atau Direktur.
Oleh karena itu memimpin itu wajib memiliki ilmu sosial yang lebih dibanding dengan orang yg dipimpin. Jika tidak si pemimpin harus berhati-hati karena ketakutan salah bicara dan salah arah.
Namun pemimpin itu biasanya berbicara lugas dan memiliki mentalitas dari dalam dirinya. Semakin kental jiwa kepemimpinan maka ia semakin gampang melakukan tugas2nya karena ia sangat memahami masalah dan solusi rakyatnya.
Pemimpin juga pasti bisa berbicara langsung dihadapan publik disemua elemen juga dalam komunitas ulama. Karena ia haruslah orang yang paham menempatkan ulama dengan ilmu agama tsb dalam pembangunan rakyat.
Karena itulah umara dan ulama perlu kerjasama sesuai dengan bidang keahliannya agar bisa membentuk karakter rakyat yang baik. Pemisahan fungsi dan peran tentu perlu diperjelas sehingga tidak saling membunuh karakter.
Menurut saya tidak bermasalah seorang ulama menjadi wakil kepala daerah atau wakil presiden selama semangat dan nilai2 sebagai ulama mampu dipertahankan. Tentu ia tidak mempertaruhkan kredibilitas dirinya dalam pragmatisme.
Semoga semua tetap baik, dan bangsa kita tidak berhuru hara dgn kekeliruan2 yg membawanya untuk mengambil suatu keputusan demi rakyat.
Salam