Demokrasi Kita: Benarkah Milik Rakyat, atau Hanya Milik Penguasa?
Tapi mari kita jujur bertanya: apakah itu benar-benar terjadi di negeri ini?
1. Rakyat hanya hadir saat Pemilu.
Setelah itu, suara mereka hilang. Yang duduk di kursi kekuasaan lebih sibuk menjaga partai, proyek, dan kepentingan pribadi.
2. Demokrasi jadi transaksi.
Uang dan kekuasaan menentukan siapa yang berhak bicara. Sementara rakyat biasa sering kali hanya penonton.
3. Kebebasan berpendapat setengah hati.
Kalau bicara sesuai selera penguasa, didukung. Kalau mengkritik terlalu keras, dianggap musuh.
Maka pertanyaan menantang buat kita semua:
➡️ Apakah demokrasi kita sedang sehat, atau justru sedang sakit?
➡️ Kalau rakyat tidak lagi percaya, apa bedanya demokrasi dengan sistem lama yang otoriter?
Demokrasi hanya akan berarti kalau rakyat berani menagih janji, bukan sekadar memilih lalu diam. Demokrasi butuh rakyat yang berani bicara, berani mengontrol, dan berani melawan penyimpangan.
Kalau tidak, demokrasi kita hanyalah nama indah dengan isi yang busuk.