Mabuk Nasional: Dari Tuak hingga Anggur Merah Politik

By Goodfathers

Indonesia memang negeri yang kaya. Bukan hanya kaya sumber daya alam, tapi juga kaya “tuak dan anggur merah politik” yang bikin mabuk massal, dari rakyat sampai elit.

Kalau rakyat di kampung cukup mabuk tuak, efeknya ringan saja: tertawa, bernyanyi, kadang terjatuh tapi besok bangun lagi. Begitu pula rakyat kecil yang terbuai janji politik, cepat percaya, cepat lupa, tapi besok masih harus bekerja keras mencari makan.

Tapi lain cerita dengan elit politik. Mereka bukan mabuk tuak—mereka mabuk anggur merah. Mabuknya berat, sampai tidak bisa membedakan antara kursi kekuasaan dengan tanggung jawab. Mereka tertawa, berjoget, bahkan menaikkan gaji sendiri di tengah rakyat lapar. Efeknya tidak hilang besok pagi, tapi terus diwariskan sebagai penyakit kronis bangsa.

Inilah yang saya sebut “mabuk nasional”.

Rakyat mabuk janji.

Politisi mabuk kuasa.

Negara mabuk kepentingan.


Padahal, bangsa yang mabuk tidak mungkin bisa melangkah lurus. Jalannya sempoyongan, bicaranya kacau, dan akhirnya jatuh di lubang yang sama.

Kalau mabuk biasa bisa sembuh dengan tidur, mabuk nasional hanya bisa sembuh dengan kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa negeri ini butuh pemimpin yang sadar, rakyat yang waras, dan politik yang jernih.

Kalau tidak, kita akan terus berada dalam pesta pora yang tidak ada habisnya: pesta tuak rakyat jelata dan pesta anggur merah para elit. Bedanya cuma satu—rakyat yang mabuk bayar dengan tenaga, elit yang mabuk bayar dengan uang rakyat.

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil