SUNNY–SYIAH di Aceh: Sejarah, Persimpangan Salah, dan Jalan Pulang
Kenapa saya menulis ini? Dalam perdebatan masyarakat di Aceh tidak habisnya mengangkat tema ini. Anehnya masih mau saja dan tidak pernah bosan dalam membicarakannya.
Tengah malam dengan mata yang sudah sayu kita masih terbaca notifikasi grub medsos di gadget.
Karena itu saya ingin memberi kontribusi supaya kita paham sebenarnya kita hanya butuh jalan pulang.
Mungkin karena saya yang menyampaikan tidak terasa tapi kalau abuya atau kiai haji tentu akan sesuai. Tapi inilah jawaban cara pikir kita yang feodal dan kita bersyukur jika anda sudah berpikir demokratis sebagaimana ajaran Islam: bahwa fokus pada isi pesan bukan siapa yang membawanya. Kira-kira demikian dalam bahasa sehari-hari.
1. Awal Perbedaan: Perebutan Kepemimpinan, Bukan Perang Agama
Perbedaan Sunni dan Syiah berawal pada tahun 632 M, tepat setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat. Masalah utama waktu itu adalah siapa yang berhak memimpin umat Islam.
Sunni meyakini pemimpin dipilih melalui syura (musyawarah) dari orang-orang terbaik, sehingga Abu Bakar menjadi khalifah pertama.
Syiah meyakini kepemimpinan adalah hak keluarga Nabi, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.
📌 Penting dipahami: awal perbedaan ini adalah politik, bukan perintah Allah untuk saling memusuhi. Perbedaan ibadah baru muncul jauh setelahnya, ketika masing-masing mazhab mengembangkan tafsir dan tradisinya sendiri.
---
2. Persimpangan Salah yang Memecah Umat
Seharusnya, umat memandang perbedaan ini sebagai sejarah politik. Tetapi di titik tertentu, umat masuk ke persimpangan salah:
Menganggap perbedaan mazhab = perbedaan iman.
Mengubah perbedaan politik menjadi perang aqidah.
Menganggap lawan mazhab sebagai kafir atau musuh.
Di Aceh, persimpangan salah ini diperparah oleh:
1. Luka pasca-konflik yang belum sembuh.
2. Politik identitas yang dipakai untuk menguasai massa.
3. Minimnya pendidikan sejarah kritis yang objektif.
---
3. Bagaimana Isu Ini Dimainkan di Aceh
Pola ini terjadi berulang:
1. Ciptakan Musuh Imajiner
Pilih kelompok kecil (misalnya Syiah) dan framing sebagai ancaman besar bagi Islam.
2. Giring Emosi Massa
Gunakan mimbar, media, dan tokoh tertentu untuk membakar perasaan rakyat.
3. Alihkan Fokus dari Masalah Nyata
Saat rakyat sibuk ribut mazhab, isu korupsi, kemiskinan, dan kehancuran moral pejabat tersingkir.
4. Konsolidasi Kekuasaan
Rakyat yang terpecah tidak akan punya kekuatan melawan kezaliman.
📍 Hasilnya: Aceh lebih sibuk menentukan siapa Sunni atau Syiah, ketimbang membahas strategi mengentaskan kemiskinan atau memperbaiki pemerintahan.
---
4. Fakta yang Sering Dilupakan
Ulama Sunni dan Syiah dalam sejarah pernah duduk bersama, berdebat, dan saling menghormati.
Kerajaan Aceh pernah berinteraksi dengan ulama Persia (Syiah) tanpa menimbulkan perpecahan besar.
Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10)
Musuh umat Islam tidak peduli apakah kita Sunni atau Syiah yang mereka mau hanyalah umat yang terpecah dan mudah dikuasai.
---
5. Jalan Pulang: Mengembalikan Fokus Aceh
1. Kenali Pola Permainan
Jika isu ini muncul bersamaan dengan pemilu atau skandal besar, itu tanda sedang ada pengalihan isu.
2. Bangun Pendidikan Kritis
Ajarkan sejarah Islam secara objektif, bukan versi politik penguasa.
3. Bentuk Forum Lintas Mazhab
Aturan jelas: tidak saling mengkafirkan, fokus membahas masa depan Aceh.
4. Susun Agenda Bersama
Lawan korupsi dana otsus, bangun ekonomi rakyat, dan tegakkan keadilan hukum.
---
Penutup
Sejarah mengajarkan: saat umat Islam sibuk memerangi sesama Muslim, penjajah datang mengambil tanah, emas, dan masa depan kita. Jika Aceh mengulang kesalahan itu, berarti kita sedang menulis ulang sejarah kelam kali ini dengan darah kita sendiri.