Demokrasi Palsu, Rakyat Jadi Korban
Oleh: Tarmidinsyah Abubakar
(Tokoh rakyat, bukan boneka kekuasaan)
---
Awalnya saya kira orang-orang di politik itu ngerti demokrasi.
Saya kira mereka paham bahwa demokrasi itu soal suara rakyat, soal kesejahteraan bersama, soal kebebasan bicara dan berpikir.
Tapi saya salah.
Ternyata yang mereka pahami cuma satu: cara menang dan cara bertahan di kekuasaan.
Bukan untuk rakyat, tapi untuk diri mereka sendiri dan kelompok mereka.
Dan itulah awal dari lahirnya demokrasi palsu di negeri ini.
---
Tokoh Politik, Tapi Tak Tahu Arah
Hari ini banyak tokoh partai yang bicara soal rakyat,
tapi tidak paham bagaimana memperjuangkan rakyat.
Mereka pandai pidato, tapi kosong isi.
Mereka sibuk berebut kursi, tapi lupa makna fungsi.
Naik karena duit, bukan karena pikir.
Yang mereka sebut “demokrasi” cuma alat,
bukan cita-cita.
---
Demokrasi Hanya Formalitas
Demokrasi hari ini cuma ada di kalender:
Tanggal kampanye, tanggal pencoblosan, tanggal pengumuman.
Setelah itu?
Rakyat dibungkam.
Media dibeli.
Intelektual disuruh diam.
Hasil demokrasi bukan untuk memperkuat rakyat,
tapi untuk mengukuhkan kekuasaan elite.
---
Rakyat yang Awalnya Percaya, Kini Jadi Korban
Rakyat sudah memilih.
Rakyat sudah berharap.
Tapi yang mereka dapat?
Janji-janji yang tak ditepati.
Kebijakan yang menyengsarakan.
Pemimpin yang makin jauh dari kehidupan rakyat.
Inilah demokrasi palsu yang menyakitkan.
Rakyat bukan lagi pemilik negara,
tapi sekadar penonton dari panggung sandiwara politik.
---
Demokrasi Dipalsukan oleh Pemimpinnya Sendiri
Ironisnya, yang paling keras memalsukan demokrasi adalah para pemimpin partai itu sendiri.
Mereka membuat struktur partai seperti kerajaan.
Mereka bertahan di jabatan puluhan tahun.
Mereka mengatur siapa yang boleh naik dan siapa yang harus tersingkir.
Bahkan, mereka menciptakan sistem yang memastikan:
hanya orang tertentu yang boleh maju,
dan orang kritis akan disingkirkan secara halus atau kejam.
---
Saya Baru Sadar...
Dulu saya pikir, kalau saya masuk politik dan bicara soal demokrasi,
semua orang akan paham, akan sadar, akan ikut memperjuangkan.
Tapi ternyata,
saya bicara di tengah orang-orang yang tak pernah diajarkan tentang demokrasi sejati.
Saya duduk bersama mereka yang menikmati demokrasi sebagai alat bisnis kekuasaan.
Dan rakyat?
Rakyat terlalu lelah untuk percaya lagi.
Rakyat hanya diberi dua pilihan:
jadi penonton atau jadi korban.
---
Kesimpulan:
> Demokrasi di negeri ini palsu.
Dipalsukan oleh elite,
disebarkan oleh media,
dan dibiarkan oleh rakyat yang kehilangan harapan.
Tapi saya tidak menyerah.
Karena perubahan tak lahir dari panggung megah.
Perubahan lahir dari kesadaran rakyat,
dari kecerdasan baru,
dan dari keberanian untuk bicara dan bergerak.