KALAU KAMU MASIH BERPIKIR BESOK MASIH ADA


Setiap pagi, ada dua kejutan yang kita terima. Pertama, kita masih hidup. Kedua, waktu kita berkurang.

Masalahnya, sebagian orang terlalu yakin bahwa “besok” pasti datang. Mereka bekerja, mengejar uang, membangun gengsi, memupuk rasa penting diri — seolah umur mereka adalah saldo bank yang tidak akan pernah habis.

Mereka lupa, hidup ini cuma sekali. Dan umur? Terbatas.

Kalau sadar, mereka akan tahu bahwa pelayanan kepada sesama adalah bentuk ibadah tertinggi. Karena Tuhan tidak pernah mengukur kemuliaan kita dari panjangnya doa atau banyaknya ritual, tapi dari seberapa besar kita hadir untuk orang lain.

Ironisnya, banyak yang baru memuji pelayanan kalau dilakukan oleh pemuka agama atau tokoh besar. Padahal, kebaikan tidak butuh jubah, tidak butuh panggung, dan tidak butuh gelar. Ia hanya butuh hati yang mau.

Kamu boleh saja rajin ibadah. Tapi ingat… tidak ada satu pun yang bisa menjamin tiketmu ke surga. Sedangkan membantu manusia lain, bahkan seekor binatang, di banyak ajaran justru lebih dipuji.

Bayangkan… jika hari ini adalah yang terakhir, lalu Tuhan bertanya:

> “Siapa yang sudah kamu tolong, selain dirimu sendiri?”



Jawabannya akan menentukan segalanya.

Jadi, kalau masih berpikir besok masih ada, mungkin kamu sedang mempertaruhkan satu-satunya hidup yang kamu punya.



Kalau orang sadar betul bahwa umur itu seperti lilin yang terus terbakar, mereka akan memikirkan warisan kebaikan yang ditinggalkan, bukan sekadar meninggalkan harta atau status.

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil