Apa Yang Anda Pikir Ketika Melihat Orang Bicara




Dalam kehidupan semua orang melakukan pembicaraan untuk berkomunikasi dengan orang lain untuk memenuhi berbagai kepentingan dalam hidup baik kepantingan pribadi, kelompok, organisasi maupun kepentingan politik, berbangsa dan bernegara.

Orang tidak pernah lepas dari bicara, memang terkadang orang kelebihan bicara dan itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari diluar urusan politik dan bernegara. Lalu apa yang anda pikirkan tentang perbedaan antara bicara orang biasa dan orang politik atau yang mewakili otoritas politik tertentu, atau seorang tokoh yang punya nama dan kharisma dalam politik.

Ya, tentu saja berbeda antara bicara orang biasa dengan politisi atau pemimpin politik. Orang biasa pembicaraannya tidak menjadi pegangan khalayak atau publik. Sementara seseorang politisi atau pemimpin politik itu setiap kali mereka bicara adalah sikap dirinya dalam memandang suatu masalah dalam kehidupan masyarakat. Maka setelah dia bersikap begini maka akan sulit ia memutar balikkan pembicaraannya kecuali dengan dalih yang bisa diterima dengan logika.

Maka bagi rakyat, seharusnya akan jauh lebih baik terhadap politisi yang berbicara daripada yang berdiam diri dalam mewakili rakyat atau menjadi pengurus partai politik. Karena tanpa bicara ia tidak memperlihatkan sikapnya untuk ada di jalur kebenaran. Maka di negara yang sudah maju sama sekali tidak ada perwakilan rakyat itu yang membisu, karena mereka sesungguhnya ada diparlemen itu untuk bicara. Karena itu yang tidak bicara bisa dipastikan sudah berkonspirasi dengan eksekutif atau para pihak dagang dimana kemudian dapat mendegradasikan status masyarakatnya menjadi elemen yang terhina. Jadi politisi tidak bicara adalah berbahaya bagi rakyat.

Sebaiknya masyarakat jangan lagi dikibuli oleh para pihak dengan mengatakan bahwa Tiongpun bisa bicara. Itu adalah persepsi penjajah agar pribumi tidak banyak menuntut keadilan sebagai warga negara. Yakinlah bahwa pekerjaan utama memimpin adalah berbicara dan begitu pula pekerjaan politik. Jika tidak bicara bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan dan menerangkan kepada publik terhadap tujuan bersama. Maka secara logika wakil rakyat yang tidak bicara itu adalah bermental korup dan perlu segera diminta ganti oleh masyarakat atau konstituennya.

Demikian narasi singkat semoga bermanfaat.







Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil