Perpaduan Pasangan Kepala Daerah Menentukan Setengah Dari Kemenangan Pilkada



Oleh : Tarmidinsyah Abubakar

Keberhasilan dalam menentukan pasangan calon kepala daerah adalah setengah dari keberhasilan dalam memenangkan kontestan politik.

Maka pada tingkat sumber  daya manusia politik mumpuni, dengan melihat perpaduan pasangan kepala daerah dia pasti dapat melihat siapa yang memenangkan pilkada disuatu daerah.

Pada dasarnya politik pilkada atau pemilukada sungguh berbeda dengan politik pemilu legislatif. Karena pemilu legislatif hanya bicara kepentingan pribadi yang bisa dilihat oleh masyarakat pada umumnya.

Bisa saja pemikiran orang terdegradasi pada batasan peluang mendapat lapangan pekerjaan, apalagi pada level caleg provinsi dan kabupaten/kota.

Maka sebagian besar orang cenderung memilih yang dikenal olehnya, selebihnya ada yang tidak ambil peduli dan mereka mengambil manfaat dalam keseriusan caleg yang bisa dipersepsikan macam-macam dimata masyarakat sesuai dengan tingkat pengetahuannya.


Politik Pilkada Dengan Calon Terbatas

Sementara politik pilkada, dengan calon yang sangat terbatas tidak bisa mengandalkan jaringan dan power politik partai apalagi karena daya ungkit politiknya sangat tipis bahkan bila pasangan kepala daerah lemah dimata sosial maka daya ungkitnya bisa nihil.

Kenapa begitu? Jawabnya karena pemilukada adalah domainnya masyarakat walaupun yang usul calon partai politik dan masyarakat diberikan kewajiban konstitusinya untuk memilih walaupun dengan terpaksa bila mereka memandang calon, mereka tidak mengenal calon sebagaimana mereka mengenal caleg.


Meningkatnya Kualitas Pengetahuan, Kualitas Pilsung Semakin Baik

Oleh karena itu semakin meningkatnya pengetahuan dan terbuka masyarakat maka semakin baik kualitas pemilihan langsung, dimana keputusan memilih akan berpulang dengan pemikiran warga masing-masing, sementara pengaruh yang dapat mengubah keputusannya hanya informasi yang mempengaruhi.

Lihat saja saat pilpres yang lalu, pengaruh buzzer menjadi sangat penting karena mereka menyampaikan kampanye yang rasional dipikiran pemilih yang menyentuh kepentingan masyarakat. Tim sukses kontestan pada pilkada juga demikian, bukan tokoh sebagaimana masa lalu.

Kalaupun buzzer menyampaikan informasi dan narasi yang negatif tentu masyarakat akan dapat menilai sendiri berita tersebut. Lalu yang rugi tentu saja pengguna mereka dalam politik.

Kebutuhan Tokoh yang memahami Konsep pemenangan Politik

Terdapat kecuali terhadap tokoh yang mampu mempengaruhi, yakni tokoh yang memahami teori pemenangan dan realitas kondisi pemilih disuatu daerah termasuk memberi pemahaman kepada pemilih terhadap issue yang diterima dipikiran pemilih tersebut.

Oleh karena itu dalam pemenangan pilkada kompetisi dimulai pada saat meramu pasangan kapala daerah. Maka ada pasangan yang pada akhir pendaftaran mereka memutuskan calon atau wakil kepala daerah oleh pemain politik.

Jadi pemilukada saat ini bukan lagi berorientasi pada kemampuan calon yang ikut pilkada, tetapi sudah bergeser pada pemain politik yang meramu konsep politik tersebut.

Nah, kalau pemikiran kita sama dengan konsep politik masa lalu sebatas mengandalkan tokoh masyarakat, kita dapat memastikan bahwa siapapun anda sudah tertinggal langkah dalam memenangkan pilkada.

Pilkada dalam politik demokrasi semakin baik kualitasnya tentu akan semakin terbuka, apalagi pengetahuan rata-rata masyarakat semakin meningkat. 

Karena itu maka ketergantungan pemilih pada tokoh yang sebelumnya begitu kuat namun seiring perkembangan wawasan masyarakat ketergantungan tersebut semakin kecil.

Tetapi ketergantungan pada tokoh yang memiliki ilmu pengetahuan dalam politik dan bernegara tentu saja masih penting dan akan berkecenderungan semakin baik pula.


Tokoh masyarakat yang memiliki ilmu dalam politik dan demokrasi

Karena tidak semua tokoh masyarakat memiliki ilmu dalam politik apalagi dalam memahami  demokrasi, bisa saja kita menemukan ditengah masyarakat mereka yang bergelar profesor dan doktor yang pendidikan umum bahkan mereka mewakili masyarakat kampus justru sangat lemah dalam politik dan demokrasi.

Ada beberapa tahap penting yang harus dilewati oleh kandidat calon kepala daerah, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, Pemilihan partai pendukung pasangan calon kepala daerah. Dimana partai-partai tersebut harus partai yang tidak bersinggungan dengan masyarakat pemilih, atau tidak melukai masyarakat dalam sikap-sikap politiknya. Jika terdapat partai yang menjadi musuh dalam suatu masyarakat maka mereka bisa menjadi toxic atau racun yang akan menghambat dukungan.

Kedua, Meramu calon pasangan kepala daerah. Dalam hal ini menjadi keputusan politik paling vital karena dapat menjadi cerminan kemampuan politik mereka dalam membangun rakyat.

Disinilah perencanaan strategi politik difinalkan untuk membuka potensi sebagai pemenang pilkada (winningable).

Ketiga, Kampanye ide dan pemikiran yang sudah berganti dengan kampanye massal.

Disinilah tim membuat dan melakukan penguatan dan mengumpulkan kelemahan calon lain, disamping menutupi dan membuat konsep serta melakukan penyebaran berbagai alat kampanye berbasis ide dan pemikiran yang bisa melemahkan lawan atau dapat saja melemahkan kandidatnya sendiri karena kesalahan lubang-lubang blunder yang tidak dapat diatasi secara baik.

Keempat, Debat Publik. Dimana dibutuhkan pasangan calon kepala daerah yang berwawasan luas (sumber daya manusia mumpuni). 

Sumber Daya Yang Memiliki Konsep dan Argumen Politik Kepemimpinan Rakyat

Jadi keliru kalau dalam politik pilkada ada yang mengatakan bahwa tidak perlu orang yang memiliki konsep dan kemampuan memaparkan argumen politik kepemimpinan untuk membangun masyarakat daerah. Tahapan ini akan memberi pemahaman bahwa seorang pemimpin butuh kemahiran dalam berbicara dalam kepemimpinan demokrasi, karena itu pemimpin juga merupakan guru yang baik bagi rakyatnya disamping pendidikan rakyat dalam ketauladananya.

Disini juga masyarakat dapat melihat konsentrasi calon kepala daerah dalam mementingkan rakyat sebagai elemen dasar dalam kepemimpinan daerah maupun negara.

Disini juga masyarakat dapat mengetahui sejauhmana mereka menghargai masyarakat dalam kesetaraan dan memberi keadilan dengan misi dan visinya.

Kelima, Kemampuan membangun kesimpulan yang membawa pemilih berpikir bahwa pasangan calon kepala daerah tersebut sebagai solusi menghadapi masalah pembangunan rakyat dan daerah.

Sekaligus membangun kesimpulan yang diterima oleh pemilih bahwa pasangan calon yang mereka usung yang mampu membawa perubahan yang lebih baik kepada masyarakat.

Itulah tahapan minimalis atau dasar yang dibutuhkan dalam memanage calon kepala daerah untuk berpotensi menjadi pemenang pilkada dalam politik demokrasi dan sudah mulai berubah dengan perkembangan masyarakat sekarang dan yang akan datang.

Salam



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil