Ghibah Sesama Muslim


Oleh : GodFathers


๐–ญ๐–พ๐—‹๐–บ๐—„๐–บ ๐—Ž๐—‡๐—๐—Ž๐—„ ๐–ฏ๐–พ๐—…๐–บ๐—„๐—Ž ๐–ฆ๐—๐—‚๐–ป๐–บ๐—


Ghibah atau menggunjing adalah menyebut ๐–ฝ๐–บ๐—‡ ๐—†๐—ˆ๐—†๐—๐—ˆ๐—‡๐—‚๐—Œ ๐—‰๐—‹๐—‚๐—…๐–บ๐—„๐—Ž yang terdapat pada saudaranya ketika ia tidak hadir dengan sesuatu yang benar tetapi tidak disukainya.

๐–ฒeperti menggambarkannya dengan apa yang dianggap sebagai kekurangan menurut umum untuk meremehkan dan menjelekkan.

Maksud saudaranya di sini adalah sesama muslim.

๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐˜€ ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐˜๐—ฒ๐—ฟ, ๐—†๐–บ๐—„๐–บ ๐–ฟ๐—‚๐—๐—‡๐–บ๐— ๐—‚๐—๐—Ž ๐–ป๐–พ๐—‹๐–ป๐–บ๐—๐–บ๐—’๐–บ ๐—Œ๐–บ๐—†๐–บ ๐—๐—Ž๐—„๐—Ž๐—†๐—‡๐—’๐–บ ๐–ฝ๐–พ๐—‡๐—€๐–บ๐—‡ ๐—†๐–พ๐—†๐–ป๐—Ž๐—‡๐—Ž๐— ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ป๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—บ๐—ฎ๐—ฑ ๐—ฑ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐˜„๐—ฎ๐—ต๐˜†๐˜‚ ๐– ๐—…๐—…๐–บ๐—. ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—ท๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ฎ๐—ป, ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป. 

๐–ฃ๐–บ๐—…๐–บ๐—† ๐—‰๐—ˆ๐—…๐—‚๐—๐—‚๐—„ ๐—†๐—ˆ๐–ฝ๐–พ๐—‹๐—‡ ๐—‰๐–พ๐—…๐–บ๐—„๐—Ž๐—‡๐—’๐–บ ๐—Œ๐—Ž๐–ฝ๐–บ๐— ๐—‰๐–บ๐—Œ๐—๐—‚ ๐—„๐–พ๐—…๐—ˆ๐—†๐—‰๐—ˆ๐—„ ๐–บ๐—‡๐—๐—‚ ๐–ฝ๐–พ๐—†๐—ˆ๐—„๐—‹๐–บ๐—Œ๐—‚ ๐–บ๐—๐–บ๐—Ž ๐—„๐–บ๐—Ž๐—† ๐–ป๐–บ๐—‹๐–ป๐–บ๐—‹๐—‚๐–บ๐—‡ ๐—’๐–บ๐—‡๐—€ ๐—†๐–พ๐—‡๐—€๐–บ๐—‡๐–ฝ๐–บ๐—…๐—„๐–บ๐—‡ ๐—‰๐—ˆ๐—…๐—‚๐—๐—‚๐—„ ๐–ป๐—‹๐—Ž๐—๐–บ๐—…, ๐—‰๐–พ๐—‡๐—€๐—„๐—๐—‚๐–บ๐—‡๐–บ๐—๐–บ๐—‡ ๐—Œ๐–พ๐–ป๐–บ๐—€๐–บ๐—‚ ๐—„๐—Ž๐—‡๐–ผ๐—‚ ๐—‰๐–พ๐—‹๐–บ๐—‡๐—€ ๐–ฝ๐–บ๐—‡ ๐—†๐–พ๐—‡๐—€๐–บ๐—๐—Ž๐—‹ ๐—†๐–บ๐—Œ๐—’๐–บ๐—‹๐–บ๐—„๐–บ๐— ๐—Œ๐–พ๐–ป๐–บ๐—€๐–บ๐—‚ ๐–บ๐—‡๐–บ๐—„ ๐–ป๐—Ž๐–บ๐— ๐—’๐–บ๐—‡๐—€ ๐—ƒ๐–บ๐—Ž๐— ๐–ฝ๐–บ๐—‹๐—‚ ๐—‡๐—‚๐—…๐–บ๐—‚ ๐—„๐–พ๐—Œ๐–พ๐—๐–บ๐—‹๐–บ๐–บ๐—‡.

Perilaku ghibah adalah perbuatan terc๐–พ๐—…๐–บ ๐—๐–บ๐—ƒ๐—‚๐–ป ๐–ฝ๐—‚๐—†๐—Ž๐—Œ๐—Ž๐—๐—‚ ๐—ˆ๐—…๐–พ๐— ๐—†๐–บ๐—Œ๐—’๐–บ๐—‹๐–บ๐—„๐–บ๐— ๐—Œ๐–พ๐–ผ๐–บ๐—‹๐–บ ๐—Ž๐—†๐—Ž๐—† ๐—Ž๐—‡๐—๐—Ž๐—„ ๐—†๐–พ๐—‡๐—€๐–พ๐—†๐–ป๐–บ๐—…๐—‚๐—„๐–บ๐—‡ ๐—„๐–พ๐—๐—‚๐–ฝ๐—Ž๐—‰๐–บ๐—‡ ๐—’๐–บ๐—‡๐—€ ๐—‡๐—ˆ๐—‹๐—†๐–บ๐—…. ๐–ฏ๐–บ๐–ฝ๐–บ ๐—๐–บ๐—„๐—๐—Ž๐—‡๐—’๐–บ ๐—‰๐–บ๐—‹๐–บ ๐—‰๐–พ๐—…๐–บ๐—„๐—Ž ๐—€๐—๐—‚๐–ป๐–บ๐— ๐—‚๐—‡๐—‚ ๐–บ๐—„๐–บ๐—‡ ๐–ป๐–พ๐—‹๐–ป๐–บ๐—…๐—‚๐—„ ๐—„๐–พ๐—‰๐–บ๐–ฝ๐–บ ๐—‰๐–พ๐—…๐–บ๐—„๐—Ž๐—‡๐—’๐–บ ๐–ฝ๐–บ๐—…๐–บ๐—† ๐—„๐–พ๐—‰๐–พ๐—‹๐–ผ๐–บ๐—’๐–บ๐–บ๐—‡ ๐—…๐–บ๐—‚๐—‡ ๐–ฝ๐—‚๐—Œ๐–พ๐–ป๐—Ž๐— ๐—„๐–บ๐—‹๐—†๐–บ.

Ghibah ini boleh dilakukan ๐—๐–บ๐—๐—„๐–บ๐—…๐–บ seseorang meminta jawaban/fatwa atas perbuatan buruk orang lain. Ia berharap dengan perbuatan menceritakan keburukan orang lain itu alias ghibah dapat memperoleh solusi untuk 
Hukum dan Larangan Ghibah

Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nur Ayat 19: "Siapapun gemar menceritakan atau menyebarluaskan kejelekan saudara Muslim kepada orang lain diancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat."
Perilaku ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang keras oleh agama Islam. Membicarakan kejelekan dan keburukan orang lain disebut ghibah atau menggunjing. 

Bagaimana jika terlanjur menggibah?

Allahummaghfir lanaa wa lahuu. Artinya: “Ya Allah, ampunilah kami dan ampunilah dia (orang yang dighibahi).” Artinya: “Sesungguhnya sebagai kafarat ghibah adalah kamu mendoakan ampunan atas orang yang kamu ghibahi dengan mengucap, “Allahummaghfir lanaa wa lahuu.

Apakah bisa menghapus dosa ghibah tanpa minta maaf?

Menurutnya, orang yang berghibah tidak perlu meminta maaf, tetapi memohonkan ampun untuknya dan menyebut kebaikan-kebaikannya. Cara tersebut juga hendaknya dengan syarat-syarat, misalnya Jika ghibah tersebut belum tersebar dan belum diketahui oleh saudaranya.

Agar kita terhindar dari dosa ghibah, sebaiknya biasakan untuk memperbanyak istighfar guna menghapus dosa-dosa yang telah menutupi hati kita.

Dimana orang yang dighibah akan diberi pahala dari orang yang meng-ghibahnya. Sehingga ghibah mengurangi pahala seseorang. Sebaliknya, orang yang dighibah akan semakin bertambah pahalanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menceritakan kondisi orang muflis (bangkrut).

Lalu bagaimana hukumnya orang yang mendengarkan ghibah? Ustadz Firdaus mengatakan, orang yang mendengarkan ghibah mendapatkan dosa yang sama seperti pelakunya. Dengan demikian, orang yang mendengarkan ghibah tidak selamat dari dosa. Kecuali, jika ia mengingkari dengan lisannya atau dengan hatinya.
Namun bagaimana jika yang dibicarakan adalah kebaikan orang lain? Apakah diperbolehkan dalam Islam? Mengenai hal ini tentu saja dibolehkan karena yang dilarang adalah membicarakan aib bukan kebaikan. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Cara Menghindari Perilaku Ghibah

Berpikir positif. Jika seseorang memancing kita untuk membicarakan keburukan orang lain maka, maka hendaknya kita berprasangka baik terlebih dahulu terhadap orang yang akan dibicarakan. ...

Intropeksi diri. ...

Mengingat kebaikan. ...

Berkumpul dengan orang sholeh. ...

Menjaga lisan.

Maknanya, "'Ghibah itu lebih berat dari zina. '" Seorang teman dekat menanyakan, 'Bagaimana dapat?' Rasulullah SAW menerangkan, 'Seorang lelaki yang berzina lalu bertobat, karena itu Allah langsung bisa terima tobatnya. Tetapi aktor ghibah tidak diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,'" (HR At-Thabrani).

Ghibah dapat terjadi karena seseorang ikutikutan pada temannya. Biasanya ikut-ikutan ini terjadi karena apabila seseorang tidak mengikuti, maka ia akan dianggap tidak setia kawan. Akhirnya seseorang akan berbuat ghibah karena mengedepankan kesetiakawanan walaupun hal tersebut dilarang oleh agama.

Hadits tentang larangan ghibah, “Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak dia perbuat), maka Allah SWT akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka, sehingga dia menarik diri dari ucapannya (malakukan sesuatu yang dapat membebaskannya)” (HR. Ahmad).

Ghibah dan fitnah, keduanya merupakan perilaku tercela. Hanya saja yang membedakan adalah benar atau tidaknya apa yang dibicarakan. Pada hadits tersebut dijelaskan bahwa mereka yang menjauhi perbuatan ghibah akan dijanjikan Allah keselamatan dari api neraka saat hari kiamat kelak. Sebegitu tercelanya perbuatan ghibah.

Allah menggambarkan orang yang ber-ghibah seperti makan bangkai saudaranya yang telah mati. Membicarakan aib, kekurangan, hal-hal negatif pada orang lain berakibat pada matinya karakter seseorang. Sering disebut sebagai “character assasination”. Citra dirinya menjadi hancur dan mati seperti bangkai akibat ghibah.

Surat Al-Hujurat ayat 12
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.

Maka berhati-hatilah berprasangka buruk terhadap orang lain, apalagi menganggap orang lain sebagai musuh Islam padahal mereka sesama Islam. 

Dengan menganggap mereka sebagai musuh agama maka kita juga telah menganggap orang lain yang Islam juga sebagai kafir, apakah dia presiden, apakah dia pejabat lainnya karena kita tidak mampu membuktikan orang lain sebagaimana kita berniat menganggapnya.

Salam




Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil