Propaganda Politik Alat Politik Membodohkan Masyarakat Yang Keji
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (godfathers)
Banyak orang berpolitik yang terjebak dengan pola propaganda politik, intinya mengerjakan pekerjaan politik yang membodohkan masyarakat.
Sebenarnya propaganda politik bagi orang yang memahami ilmu politik menganggap pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan keji yang tidak dapat diampuni oleh masyarakat yang melek politik.
Kenapa?
Tentu saja pekerjaan tersebut sebagai upaya penipuan berlapis yang dilakukan oleh seorang politisi. Biasanya prilaku ini adalah pakaiannya para demagog yang selalu berpura-pura dan rata-rata bersandiwara ditengah rakyat.
Perlakuan dalam politik dapat terbaca pada seorang politisi karena kebiasaannya
Tentu saja menjadi salah satu indikator terhadap karakter seseorang yang tidak dapat menunjukkan kedewasaannya dalam politik.
Menciptakan skenario murahan yang sesungguhnya mudah dipahami oleh masyarakat yang memiliki ilmu dalam politik, apalagi propaganda politik yang kualitasnya rendah dan terbaca tujuannya dan langkah propagandusnya.
Kalau saja masyarakat paham tentu saja mereka akan muntah dan muak dengan pola-pola propaganda politik apalagi sudah terbaca oleh masyarakat pada umumnya.
Contoh, propaganda politik yang murahan dan merendahkan, membuat video atau melakukan wawancara pada seseorang yang direkayasa sebagai tokoh atau masyarakat yang tidak paham masalah yang diubah sebagai tokoh untuk membicarakan keunggulannya dalam jabatan sesuatu yang ditargetkannya.
Hal ini bermasalah karena dapat membodohi mengingat propaganda tersebut bertujuan secara subtantif mensiasati kelemahan rakyat baik intervensi pada kebodohannya, kebiasaan dan kelalainnya yang digunakan oleh propagandus.
Berikut dalam mensiasati kampanye membesar-besarkan dengan tujuan mempengaruhi orang lemah dalam pengetahuan politik, misalnya ada beberapa orang masyarakat berkumpul melakukan aktivitas tapi diberitakan seakan masyarakat sewilayah tersebut sudah mendukung.
Contoh propaganda sosial yang paling rendah kualitasnya, umpama masyarakat berduyun-duyun mendatangi suatu tempat dengan tujuan mendapatkan sembako sebagai akibat issu yang dikembangkan oleh sekelompok orang politik jahil. Kemudian keramaian tersebut dimanfaatkan untuk melakukan demo atau direkayasa untuk pembelokan tujuan keramaian untuk mengembangkan issu politik tertentu seperti dukungan dan lain-lain.
Pola-pola politik seperti ini sesungguhnya adalah pola prilaku politik sosial dalam ranah masyarakat tertinggal dan boleh dikatagorikan sebagai upaya pemeliharaan pembodohan sosial yang masif. Karena secara prinsip kampanye model ini bertujuan mesiasati dan mempolitisir masyarakat atau memanfaatkan kebodohan masyarakat.
Sebenarnya kampanye mengekploitir pergerakan sosial dengan memainkan issu politik sudah ketinggalan jaman dan hal ini tergolong pola-pola politik kuno yang sama sekali tidak bermuara pada pencerahan dan pencerdasan sosial baik bagi pelaku politiknya maupun bagi masyarakatnya.
Kenapa demikian? Jawabnya karena perencanaan, prilaku dan pekerjaan politik yang tidak bertujuan pada usaha penguatan sosial dalam bernegara tidak berbeda dengan mengaburkan masyarakat dalam bernegara yang menyebabkan suatu masyarakat menjadi tertinggal dalam keahlian, kemampuan dan kemandiriannya dalam ilmu pengetahuan bermasyarakat dan bernegara secara normatif.
Ringkasnya, kalau tokoh politik hanya berpikir tentang tujuan politiknya dan memelihara kebodohan masyarakat dan mengekploitir untuk tujuan politiknya maka pekerjaan tersebut adalah pekerjaan propaganda yang sama sekali tidak mendidik dan membangun suatu masyarakat.
Karena itu maka lihatlah begitu banyak warga masyarakat di daerah kita yang hanya menempatkan kepentingan kebanggaan hanya pada simbolik misalnya sekedar bangga pada keakuan pada nama daerahnya tanpa mengutamakan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan pada warga masyarakatnya.
Mereka hanya melakukan ekploitasi terhadap masyarakat pada pengikat simbolis, masyarakat hanya disuguhkan kebanggaan sebagai masyarakat fulan yang akhirnya hanya mengandalkan siap berperang atas nama daerahnya padahal tujuan pemimpin politik dan masyarakatnya berjalan pada arah masing-masing.
Hasil akhirnya jika masih melakukan pola politik seperti ini adalah kesenjangan sosial yang parah, dimana orang politik hidup dengan kemewahan dan masyarakat tetap saja melarat sepanjang hidupnya.
Karena issu politik kebersamaan hanya kamuplase dan hanya berupa buih yang rapuh mudah dihancurkan karena tidak dibangun dengan fondasi ilmu pengetahuan yang berbasis pada cara hidup dan sistem hidup yang normal pada kemudahan hidup masyarakat.
Sebenarnya pembangunan politik yang menghasilkan sekedar kesepakatan dan manfaat bagi masyarakat hanya untuk memperoleh jabatan di pemerintahan di daerah pada jaman ini sudah merupakan omong kosong (Talk Nonsense) dan masyarakat sedang berjuang untuk masa depan seseorang yang diistilahkan dengan demagog dalam politik juga untuk keluarga dan teman-teman dekatnya.
Politik pada jaman pengetahuan masyarakat yang sudah meningkat adalah politik demokrasi yang konstruktif, dimana kesepakatan politik hanya untuk memperoleh keadilan dalam berbagai sisi hidup yang berkualitas.
Pada jaman sekarang kalau kita bicara kesepakatan tukang parkir maka kualitas berpikir kita sudah tergolong tertinggal, kenapa?
Karena di negara lain tukang parkir tidak lagi menjadi profesi masyarakat karena sudah di setting langsung pada kenderaan. Lalu dalam politik kita berkampanye membangun masyarakat dengan kekuatan sosial dan peradabannya, padahal kita sedang merusak peradaban manusia.
Kemudian ada kesepakatan profesi, misalnya anak buah pekerja di bandara udara, sementara pada bandara-bandara di negara lain pekerja perbantuan seperti ini sudah lama dilarang karena tidak menjamin masa depan warga masyarakatnya. Begitupun dengan kesepakatan tukang becak, lihatlah bagaimana masa depan keluarga dengan profesi ini juga semakin menjadi profesi yang berpotensi hilang dimasa depan.
Nah, karena itu masyarakat harus melek politik jangan sampai terjebak pada politik yang sekedar menghasilkan kesepakatan politik yang buntu, sementara masyarakat berjuang merebut jabatan seumpama Gubernur.
Lalu apakah dengan jabatan gubernur setelah mereka menang pilkada tersebut, pertanyaannya mampukah tokoh yang anda dukung berpikir untuk membuat perubahan fundamental bagi masa depan pendukungnya?
Maka lihatlah dalam pengalaman kita suksesi pejabat didaerah rata-rata pelaku pemberi dukungan semuanya nyaris kecewa bahkan mereka yang di lingkaran utama penguasa yang terpilih karena hukum kekuasaan cenderung korup dan cenderung membawa ke arah absolutisme karena pada dasarnya manusia secara alamiah adalah rakus dalam kekuasaan.
Maka politik dimasa kini dan masa depan para pendukungnya harus matang dan dewasa, tidak dibutuhkan lagi politik yang sekedar memperlihatka dukungan dari masyarakat awam, yang utama adalah kualitas berpikir anda yang berbasis ilmu pengetahuan dan demokrasi untuk keadilan dan kebebasan hidup masyarakat.
Masyarakat sekarang bukan lagi ibarat kuda gigit besi tapi masyarakat sekarang ibarat kuda gigit roti.
Salam