Indonesia Negara Merdeka, Rakyat Aceh Harus Merdeka
Saya melihat belum ada intervensi dalam penanganan masalah rakyat secara cerdas, justru saya memandang secara ekstrim bahwa rakyat mengalami pembodohan melalui tokoh-tokoh rakyat itu sendiri.
Dalam hal pendekatan terhadap Ulama dimana sesungguhnya Aceh menempatkan status ulama setingkat diatas rakyat biasa, tentu pengaruh ulama sejak dulu sangat berpengaruh dalam membentuk mentalitas dan moralitas rakyat Aceh.
Saya berkali-kali berpikir dan menjadi pertanyaan dalam benak saya, kenapa petinggi negeri ini rasanya tidak ikhlas mengangkat status ulama dan mendidik rakyat Aceh secara benar.
Persoalan mendasar Ulama di Aceh itu sungguh sederhana, bagaimana seharusnya kita menanganinya??
Bebaskan Ulama Aceh dari anasir yang melibatkan mereka dalam politik praktis supaya keberadaannya benar-benar Merdeka dalam positioning politik pragmatis.
Bagaimana caranya?
Negara ini wajib membangun kemandirian Dayah yang merupakan tempat Ulama menyebarkan ilmunya kepada ummat.
Setiap Dayah harus memiliki Badan Usaha yang produktif yang memastikan bahwa kehidupan Dayah dan Ulama tersebut terjamin, sehingga Ulama dapat berkonsentrasi dalam memperkuat kajian-kajian Islam, berkonsentrasi dalam membentuk mental dan moral ummat melalui anak didiknya.
Dengan kehidupan yang layak dengan kemandiriannya mereka tidak perlu harus manut dan patuh pada kekuatan politik pragmatis yang berpotensi mengaburkan halal dan haram.
Karena itu saya berpikir terus namun logika dan akal sehat saya justru intervensi pendekatan ulama terhadap Umrah justru hanya menjadi opini yang melemahkan Ulama sendiri. Kenapa?
Petinggi negeri ini menganggap gampang mempengaruhi rakyat Aceh ambil ulama beri fasilitas berkait dengan ibadah yang dianggap suci oleh rakyat Aceh selesai sudah penanganan Aceh.
Kenapa tidak terhadap Ulama diberikan fasilitas semisal perkuat Badan Usaha Dayahnya, ketika kehidupannya baik maka Umrah bisa mereka lakukan secara mandiri, bukan Umrah hadiah untuk mendewakan politisi yang memberinya dan itulah kedermawanan yang bertujuan menguasai. Pragmatis dan Tidak Mendidik.
Tulisan ini mencoba mengkritisi sikap kita sebagai pemimpin politik negeri ini yang menangani pemberdayaan rakyat daerah secara salah kaprah.
Menagapa?
Kita hanya menggantungkan harapan elemen rakyat kepada kedermawanan pribadi tokoh dan cara itu adalah startegi penjajahan baru dalam kehidupan politik sosial, dan sungguh cara itu berdampak negatif terhadap citra dan melemahkan status sosial ulama Aceh dimata rakyat Indonesia lainnya dan masyarakat dunia yang memahami sistem politik sosial.
Saya siap berdebat dengan siapa saja terhadap masalah ini demi pembangunan rakyat Aceh Bermartabat yang sesungguh-sungguhnya.
Saya bukan GAM, saya adalah ACEH dan saya tidak ingin bangsa saya terpuruk dan terjebak dalam kehidupan rakyat yang tidak merdeka. Karena Indonesia adalah negara merdeka maka rakyat Aceh juga harus Merdeka yang benar-benar Merdeka.
Wassalamualaikum Wr. Wb.