Prilaku Rezim Membangun Peradaban Abal-Abal
Jika kita mengamati perkembangan rakyat di Indonesia dimasa rezim orde lama dan orde baru serta rezim reformasi di Indonesia maka kita dapat membedakan prilaku rakyat di tiga era tersebut. Bila kemudian dimasa depan muncul pemimpin dari anak dan kader dimasa rezim sebelumnya maka warna dan kebiasaan dimasa lalu dapat terlihat secara jelas muncul kembali.
Demikian juga di daerah kita Aceh, dimana prilaku rakyat sebahagian besar dipengaruhi oleh rezim yang berkuasa. Misalnya sebuah rezim berkuasa lebih dari sepuluh tahun maka prilaku rakyat dipengaruhi secara signifikan oleh kepemimpinan tersebut.
Apakah pemimpin mengajarkan cara-cara mengambil keputusan secara pragmatis atau dengan pertimbangan tertentu berazaskan prinsip-prinsip korperatif atau hegemonia yang berbau otoritarian.
Jangan berharap rakyat akan baik dan anti korupsi ditengah kehidupan rakyat korup karena pemimpin juga mengajarkan hal yang sama. Maka merubah nasib rakyat itu diperlukan perubahan prilaku dan sikap, jika pemimpinnya tidak melakukan itu maka semua akan stagnan ditengah jalan.
Satu-satunya cara untuk merubah adalah dengan menggantikan pemimpin yang memiliki ajaran hidup kepada rakyatnya. Inilah yang disebut Ideology, jika seorang pemimpin tidak punya Ideology maka dipastikan rakyat tidak akan terarah.
Nah, bila pemimpin sudah tidak dipercaya maka yang terjadi adalah distrust publik atau ketidak percayaan publik kepada pemimpin. Jika ada yang mengajarkan keberuntungan-keberuntungan rakyat diluar pemerintah maka orang itu yang menjadi koor dari gerakan rakyat untuk perubahan.
Ketika ini bisa digerakkan maka ia boleh disebut people power pada saat terkonsentrasi dalam pertemuan besar tapi secara moral mereka telah bersikap untuk sebuah perubahan tanpa di dampingi pemimpin pemerintahan. Dengan rakyat memahami ikhwal hak dan kewajiban dalam pemerintah maka rakyat berjalan dengan sendirinya untuk merubah nasibnya. Sementara pemimpin dalam hal ini hanya sebagai pendamping pencapaian tujuan rakyat itu sendiri meski tidak punya kelihatan ia mengkomandoi mereka. Begitulah sewajarnya.
Contoh dalam hal pemilu rakyat berprilaku korup maka yang perlu disadari bahwa para pemimpinnya tidak pernah mengajarkan kebaikan tapi ia mengajarkan prilaku korup kepada rakyatnya meski tanpa disadarinya.
Salam