Sayang, Negara Kita Belum Punya Mata
Khusus bagaimana, negara tidak membiarkan rakyat hidup secara alamiah sebagaimana kemampuan tradisional secara turun temurun tapi perlu dibuka kanal2 yang mengarahkan rakyat pada kehidupan yang produktif.
Untuk apa?
Untuk memberikan gambaran kesejahteraan dengan standar mentalitas dan moralitas yang dijalani sehingga mereka tidak dalam pilihan hidup susah atau berontak karena lemahnya sumber daya manusia sehingga mereka berpikir praktis.
Dalam kehidupan politik sosial di zona seperti inilah negara besar itu butuh tangan2 handal untuk mensosialisasikan ideology negara kepada rakyatnya dan tidak melepaskan secara alami dan bahkan brutal pada pemilu yang kualitasnya masih setengah abal2, yang melahirkan orang2 atau pejabat yang mendidik kebodohan2 baru yang butuh waktu lama untuk pemulihannya.
Lalu apa yang dilakukan negara??
Mencari tahu terhadap orang atau sumber daya lokal yang memiliki ilmu politik dan sosial, mencari bibit pemimpin yang mentalitas dan moralitas yg bagus untuk menjadi suluh bagi rakyat.
Disinilah negara menghadirkan tangannya untuk mendidik sosial melalui pemilu, melahirkan DPR dan Pemimpin yang baik, negarawan, bukan pemimpin kelas demagog yang hanya memanfaatkan rakyat untuk kepentingannya.
Negara tidak berdosa menghadirkan pintar ditengah bodoh, memaksa menghadirkan jujur ditengah ingkar dan dusta, menghadirkan iman ditengah kemunafikan, menghadirkan kasih sayang ditengah kebencian, negara boleh memaksakan menghadirkan kebaikan ditengah keburukan.
Pertarungan Hitam Putih itu akan menjadi jalan bagi pilihan rakyat menuju rakyat berperadaban yang sejahtera atau berperadaban kanibal atau berlakunya hukum rimba.
Negara bukan jasad mati tapi ia harus ada ruh dan negara tidak boleh tidur untuk rakyatnya, karena rakyat akan terdidik sebagaimana keinginan negara sendiri, jika pemerintah tidak mampu berbuat maka pemerintahlah yang harus direformasi atau rakyat berevolusi.
Selamat Week End...Atjeh Election Oleh Tarmidinsyah Abubakar
Presiden Class Leaders....