Beragama Gunakan Otak dan Hati Bukan Kepalan Tangan

Aceh merupakan daerah yang secara turun temurun masyarakatnya menganut agama Islam, setelah dimasa lalu agama hindu pernah mewarnai kehidupan masyarakat di tanah itu.

Karena peralihan agama sehingga residu budaya hindu masih dapat dideteksi dalam kehidupan masyarakat Aceh hingga kini dalam agama Islam. Demikian pula situs-situs kekuasaan hindu masih dapat ditemukan di Aceh hingga sekarang.

Pembauran ibadah dan budaya tidak dapat dihindari dalam dinamika beragama di Aceh, sehingga terkadang budaya disakralkan menjadi sesuatu yang begitu suci bahkan dihadapkan dengan siksaan neraka kala salah dalam tatacara pelaksanaannya.

Lihatlah betapa naifnya kita sebagai pemeluk agama ketika hal-hal yang tidak menjadi persyaratan kewajiban sebagai ibadah kepada tuhan kita menghabiskan waktu mempertentangkannya, bahkan tidak jarang gara-gara soal tatacara itu menjadi sumber permusuhan lintas warga yang berbeda persepsinya.

Akibat pemikiran yang konsentratif pada bidang ini sehingga bahagian otak tidak bersisa untuk mengisi hal lain yang terkait pentingnya menjalani hidup secara normal dan menjalani ibadah yang murni kepada penciptanya. Pada masa lalu kelahiran para nabi sejarahnya justru berinspirasi dari fokus mencari tuhan dengan pikiran yang menerawang fenomena jagad raya dan isinya.

Sementara kita sibuk mempertentangkan tata cara untuk menyembah tuhan, pakaian harus begini, rambut harus begitu, rumah harus begini, tempat shalat harus begitu. Sehingga terjadilah perbedaan dalam beribadah diantara masyarakat dalam kualifikasi status sosial, dimana yang membuat aturan kondisinya dalam kecukupan dan warga dalam kondisi yang jauh dibawah standar itu.

Terjadi perbedaan aliran, bisa saja dipengaruhi oleh status sosial kehidupan para imam dimasa lalu. Sesungguhnya manusia berkomunikasi dengan penciptanya adalah pekerjaan otak dan hati bukan persoalan tampilan atau tatacara sebagaimana orang menghadap dukun dengan sesajen dimana kemudian disambungkan dengan setan.

Karena itu inti dari ibadah itu adalah bagaimana anda menyerahkan diri jiwa dan raga kepada sang pencipta dan semua yang berlaku dalam kehidupan dunia adalah atas kuasanya. Kalau kita dalam Islam tentunya Allah SWT. Anda tidak perlu diberi apresiasi oleh gubernur atau bupati untuk melakukan itu, ketika otak dirasuki oleh pikiran seperti itu maka sesungguhnya anda sedang tidak beribadah tapi anda sedang melakukan tatacara membohongi tuhan. Itulah salah satu katagori sebagai munafiq.

Berikutnya anda tidak perlulah harus menunjukkan kepada orang bahwa anda lebih alim daripada orang lain, apalagi sekedar memperlihatkan pakaian, bahkan menunjukkan kejujuran kepada orang lain dengan beribadah juga telah menghilangkan arti ibadah itu, sementara isi hati masih diganggu oleh hal lain yang terfokus untuk tujuan dihadapan manusia, dan ini sering di istilahkan dengan Ria.

Oleh karena itu maka beragama itu secara mendasar adalah pekerjaan otak dan hati atau jiwa bukan pekerjaan fisik sebagaimana perang atau mengacungkan kepalan tangan untuk menunjukkan kekuatan anda dalam beragama. 

Semoga kita semakin baik dalam menjalankan ibadah untuk berkomunikasi dengan tuhan bukan sarana menunjukkan kehebatan dan kekuatan kepada manusia lain, karena ketika anda bicara komunikasi dengan tuhan maka batasan-batasan kehidupan dunia itu semakin nisbi. Jadi semakin bagus kualitas ibadah seseorang maka ia akan semakin merendahkan diri bukan sebaliknya semakin sombong dan arogan. 

Trus, Bagaimana kalau sebahagian besar petinggi agama semakin kasar dan arogan serta pamer dalam beragama. Jawabnya mereka tidak beribadah tapi ibadah yang mereka lakukan adalah untuk membohongi manusia lain agar ia menjadi berkuasa dalam beragama.

Semoga di daerah kita tidak ada yg demikian. Semoga!!

Salam