Rakyat Aceh Tak Maju Kebanyakan Bahas Rumor Tak Penting

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548Fenomena kehidupan masyarakat daerah dapat dibedakan secara mudah, antara masyarakat produktif dan masyarakat tertinggal yang non produktif atau dalam konteks pembangunan boleh disebut masyarakat maju dan masyarakat berkembang (istilah berkembang ini untuk semangat sosial, kalau mau jujur idealnya disebut tertinggal).


Daftar Bisnis Gratis

Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik Link : : https://affilio.co.id Isi Kode Refferal : tarabubakar



Salah satu yang paling gampang di deteksi adalah topik pembicaraan umum, issu yang berkembang dan issu viral, issu non produktif yg tidak pernah habisnya. Terutama berkisar antara nilai budaya dan agama yang begitu sensitif seakan hal-hal terkait dengan itu terlalu suci tidak bisa disentuh oleh sembarang orang, agama dan budaya yang milik sekalian alam seakan tidak boleh dimiliki oleh orang lain dikuatirkan aus.

Rumor ini berkembang karena masyarakat sebahagian besar dalam beragama lebih banyak yang menduga-duga dengan persepsinya dan bekal ilmunya ketika ia masih kecil yang diajarkan dipengajian lingkungannya. Karena ilmu itu tidak pernah mendapat pengembangan sehingga analisanya menjadi buntung, maka prilakunya menjadi tegang, sikapnya menjadi kaku, dan karena keterbatasan itu secara sosial jadilah fundamentalis negatif yang banyak dilebelkan pusat kepada rakyat Aceh.

Kemudian menempatkan orang yang memiliki ilmu agama secara berlebihan sehingga mereka memiliki kekuasaan sosial yang mutlak yang berdampak pada penyelewengan kepercayaan seperti prilaku korup, mesum dengan santri, gunakan ganja, dan sebagainya. Kepercayaan berlebihan ini karena masyarakat secara umum tidak belajar khusus tapi mendengar selayang pandang, maka ketika ada prilaku yang berbeda atau persepsi yang berbeda pada masyarakat di daerah lain secara serta merta dianggap salah kaprah. Padahal bisa saja prilaku itu berbeda tetapi esensinya sama saja.

Prilaku ini kemudian menjadi bahan yang dibahas secara nasional Aceh, bahkan menjadi pressure sosial bagi pemerintah untuk membuat keputusan tentu ini berlangsung dalam waktu yang lama.

Ibaratnya begini, ketika masa dulu dokter yang bertugas itu masih langka, karena resep obatnya jitu sehingga banyak yang sembuh, padahal si dokter hanya punya ilmu mengenal nama obat menjadi sangat berarti karena masyarakat dahulu tidak banyak yang punya pengetahuan kecuali mereka belajar secara formil. 

Tapi jaman sekarang masyarakat sudah bisa belajar dimana saja sehingga ketika sakit dia bisa membuka google ketergantungan akan dokter tidak mutlak lagi kecuali penyakit parah. Jadi ketika masyarakat sudah berwawasan maka ketergantungan semakin berkurang, kekuasaan mutlak profesi menjadi berkurang, kesenang-wenangan juga terminimalisir dengan sendirinya.

Begitu juga dalam beragama ketika masyarakat sudah memikili wawasan yang merata, mereka bisa berpikir secara mandiri maka agama akan semakin menjadi kebutuhan batinnya, ia akan menjadi kebutuhan pribadi, bukan kebutuhan untuk jasmani sebagaimana sekarang, sehingga kita sibuk mencari perbedaan dalam beragama, dengan kata lain secara egosentris saling klaim bahwa islam aliran kami betul, islam kalian sesat. Dan agama hanya dieksploitasi untuk penguatan politik, penguatan ekonomi dan lainnya masih terbuka ruang untuk itu apalagi pemimpin pemerintahan lemah dibidang itu jadilah ATM kelompok yang mengatas namakan agama.

Semoga wawasan sosial kita semakin merata dimasa depan, semoga!








 

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil