Dari Cerita Tgk. Amin Peulandok

Amin peulandok, adalah salah seorang rakyat biasa berkediaman di Aceh Utara. Karena saya sekampung dengannya maka cerita ttg pribadi warga itu begitu mudah sampai ke telinga kita dalam pergaulan sehari-hari.

Ketika saya masih di Sekolah Menengah Pertama saya sdh berkeinginan membuat stasiun radio yg dapat menyebarkan pikiran kepada rakyat, kebetulan di daerah saya yg bisa itu hanya anaknya Tgk. Amin Peulandok, maka bertemanlah saya dengan anaknya.

Tantu anda paham ketika berteman kisi2 kehidupan kita sdh pasti menjadi menarik. Tapi yg namanya saya maka apapun yg berlaku kpd kawan baik atau buruk tidak mempengaruhi sikap saya thd teman, tetap aja teman saya meski apapun dia.

Nah,,,Amin Peulandok ini menurut saya otaknya pasti cerdas sesuai dgn lingkungannya. Suatu ketika ia ingin lahan kebunnya bersih kemudian ia menaburkan sejumlah uang receh Seratus Rupiah kala itu dikebunnya. Kemudian ada aja yg mengabarkan di kebun itu mereka mendapatkan uang dan beramai2lah orang datang kesana.

Untuk kepuasanya orang tipikal begini tidak peduli dengan uang yg dia keluarkan. Ketika sedang berjualan kopi seluruh makanan dalam rak jualannya dia pertaruhkan, diberikan kpd orang yg berani minum air mendidih, meski dia kena batunya krn ada orang yg bisa tapi ia kemudian dpt mengetahui siapa yg menuntut ilmu2 begitu dilingkungan itu.

Jika ia tidak suka dgn Tgk Imum dia membuat kenduri sawah, ketika imum itu bersama temannya tiba ditengah sawah ia pun berdalih utk pulang kerumah mengambil sesuatu yg tertinggal. Ditengah jalan dia kabarkan kpd orang2 utk datang ke Tgk. Imum ditengah sawah yg sdh tidak waras. Benar saja ketika ramai krn Amin tak kembali Tgk Imum membuka hidangan ternyata isinya Tapeh U (kulit kelapa). 

Begitulah prilaku Amin dalam mempengaruhi publik, menurut saya ia jenius, hingga bisa mempengaruhi siapapun dengan akalnya, krn kurang tanggung jawab tapi ia melakukan sesuatu utk kesenangan hatinya maka gelarnya peulandok. 

Prilaku ini menyerupai prilaku Abu Nawas dengan cerita2nya yg membuat kita terbahak. Lantas kenapa sering ia berurusan dgn raja penguasa krn pikiran2nya mempengaruhi kebijakan publik. Orang2 seperti itu biasanya berpikir secara sosiality, ia melakukan protes sosial dan kritik sosial atas peran dan fungsi jabatan meski terbatas dilingkungannya.

Seharusnya memimpin itu ya nyaris begitu strategynya, anda harus bisa membuat orang membicarakan sesuatu sehingga orang berkecenderungan mengerucut kesana. Tapi tentu saja dlm kapasitas dan kualitas mengejar target kesejahteraan. Jika anda tidak punya ide, gagasan dan grand strategy maka anda akan kelihatan seperti boh labu lebom dalam memimpin. Warga anda akan mendapati kehidupan menoton dlm kesehariannya. 

Paling juga semua orang akan mengejar uang dan makan, sehingga rutinitasnya tidak lebih kerja, makan, belanja, sekolahkan anak. Orang biasa bisa saja hidup menonton seperti itu, tapi mereka yg berpikir terbuka (lebih cerdas) mending dia ke negeri lain, mati atau bunuh diri daripada hrs hidup menoton yg tidak jelas arah begitu.

Maka berpikirlah berkali2 ketika anda ingin menjadi pemimpin krn anda akan mewarnai hidup ummat, anda tidak bisa berpikir utk kepentingan diri dan keluarga anda dan teman2 saja tapi seluruh rakyat bergantung dgn prilaku anda yg menjadi kebijakan publik.

Bek lagee bue angen beh!!😀















Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil