Pemimpin, Harusnya,,,

"Pemimpin, Bagaimana Seharusnya"

Apa yg anda harap pada seorang pemimpin politik yang tidak memiliki ajaran hidup utk rakyat, saya rasa tidak lebih dari urusan rebut kekuasaan untuk mendapatkan fasilitas dan biaya hidup dari kekuasaan itu.

Hasilnya pastilah kegalauan, meski ada kekuasaan tetapi semua merasa tidak cukup karena pengetahuan mengembangkan manusia hanya dalam urusan bargaining asset.

Berbeda dengan si pemimpin memiliki visi dan ilmu dalam mengembangkan potensi kehidupan manusia, maka setiap orang akan diatur dalam dinamika kehidupan yang bertahap dan prestasi warga untuk hidup sukses. 

Maka kemandirian adalah lebih bijak sehingga mereka harusnya di didik sejak awal utk menuju kesana, sementara yang berkuasa mampu membuka celah dan ruang untuk jalan sukses pengikutnya. Bukan hanya soal jabatan yg mereka peroleh dipemerintahan. Ilmu pengembangan sosial itu komprehensif dan membawa semua warga memperoleh manfaat secara adil.

Demikian pula halnya memimpin partai politik, jika sudah lima tahun tidak mampu memberi prestasi untuk bangsa bahkan pengikut atau kadernyapun tidak bisa diatur utk terbuka peluang kehidupan yg lebih baik, lalu apa yg anda harapkan?

Hanya semangat keramaian saja dan hegemony serta riuh tepuk tangan tentunya. Sementara anda tidak mampu berpikir ttg ending dari konsep konsolidasi karena anda hanya diberi tahu target antara dari suatu misi politik konsolidasi, dimana setengah dari misi tersebut masih melibatkan anda tapi setengah ke atas anda hanya menjadi penonton setia.

Maka mari berpikir secara jernih, bhw jika tanpa keilmuan yang memadai, tanpa idealisme, pemimpin itu hanya berpikir utk kesenangan kehidupan pribadinya yang megah bagai raja, sementara seringkali model pemimpin seperti itu di negara ketiga meninggalkan pengikut dengan kesenjangan sosial yang sangat tinggi.

Jika pemimpin yg benar maka kehidupan mereka dengan kekuasaannya tdk berbeda jauh dengan kehidupan pengikutnya, lihat beberapa pemimpin dunia yang benar, mereka bukan menjadi orang kaya tetapi mereka juga menderita sebagai pemimpin selama rakyatnya menderita.

Dalam ranah politik seperti di Aceh yg pragmatis total ini memang menjadi aneh ketika saya menulis narasi seperti ini, tetapi di tempat lain, demikianlah seharusnya barulah mereka baru bisa disebut pemimpin, atau ia memiliki mimpi idealis yang terus dikumandangkan dan menunjukkan idealismenya terhadap kepribadian dan organisasi apapun yg dipimpinnya.

Demikian, terimakasih.








Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil