Minimal Jadikan Aceh Tanah Yang Layak Huni

Berbagai persoalan yang aneh diluar logika terjadi di Aceh, tapi masyarakat merasa biasa saja, yg cuek memaklumi dengan membatin dan menganggap di Aceh biasa saja yang begitu.

Begitu banyak issu yang silih berganti, bahkan seringkali menjadi viral, misalnya issu pembelian pesawat, belum cukup disitu issu pemaksaan mazhab Syafii dalam berislam di Aceh.

Saya melihat issu-issu sosial ini lebih sebagai pengalihan perhatian, kalau dijaman dulu yang masa dispolitik maka ibarat pemerintah membagikan sarana olahraga ke pelosok untuk meninabobokan masyarakat.

Sekarang masyarakat mulai melek politik namun masih centang perenang sehingga issu agama, budaya yang begitu cepat menyambar emosi masyarakat Aceh menjadi alat untuk memecah konsentrasi sosial.

Biasanya ketika pemerintah menghadapi masalah penyelewengan keuangan daerah atau negara ya tinggal lempar aja issu agama atau budaya untuk menjauhkan konsentrasi masyarakat pada pekeejaan yang seharusnya dilakukan pemerintah secara amanah.

Jika masyarakat tidak lupa maka issu agama dan budaya menjadi hal biasa, karena apapun kebijakan pemerintah ia harus dikembalikan pada asalnya, karena akan banyak lembaga yang mengawasi, tetapi yang dibutuhkan pada pemerintah yang paling urgen adalah skala prioritas penggunaan uang negara oleh pemerintah terencana dan terlaksana secara benar atau terjadi penyelewengan. 

Karena anggaran negara maka ada perebutan kekuasaan untuk memperoleh kepercayaan pemerintah pusat dan masyarakat daerah.

Semoga kita semua semakin melek politik sehingga tidak terkelabui secara gampang dengan issu-issu agama dan budaya yg sengaja dihembus untuk menarik perhatian publik.

Saya kira saat ini bukan jamannya lagi menjadikan daerah sebagai yang tersandera dalam kesemrautan, setidaknya masa lima tahun dapat menjadi tahapan untuk menjadikan Aceh sebagai tanah yang wajar untuk dihuni meskipun belum pantas dibanggakan. Jika banyak hal tidak wajar maka mereka diluar sana akan melihat kita sebagai mainan atau lelucon yang hanya pantas diherankan dan ditertawakan.

Semua kita ikut menanggung malu hingga anak cucu. 


Terimakasih....
Salam



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil