Berkaca Pada Perubahan Sebuah Bengkel
Oleh : Good Fathers
Di Banda Aceh biasanya orang mengenal beberapa bengkel yang dianggap ahli dalam mengurus mesin mobil pelanggan.
Beberapa bengkel tersebut bernama, bengkel Puteh, bengkel Nasir, bengkel Wandi, bengkel Karia, bengkel Nazar, bengkel Muzakir dan bengkel lainnya yang sudah terbaca oleh masyarakat.
Selama ini mereka selalu membawa mobilnya ke bengkel-bengkel tersebut karena pilihannya disitulah yang terbaik.
Nah, kalau ingin menguji popularitas dan yang bagus menurut masyarakat sudah pasti menempatkan pilihannya pada bengkel-bengkel yang dimaksud, terus, apa yang dilakukan untuk mendapat nilai dari pelanggan?
Jawabnya adalah melakukan survey terhadap bengkel-bengkel itu dalam pelayanannya dan kemampuan mereka memperbaiki mobil masyarakat. Hasil survey dapat dijadikan acuan bahwa bengkel yang terbaik adalah bengkel yang dipilih dalam survey dimaksud.
Bagaimana masyarakat tahu menilainya? Tentu saja karena semua pelanggan membawa mobilnya ke bengkel tersebut karena kalau ada onderdil yang rusak pun biasa diolah alias diperbaiki oleh si tukang bengkel itu dengan olahannya dengan berbagai cara agar onderdil itu tidak perlu digantikan.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Siapa sosial conservativenya? Jawabnya ya situkang bengkel dan pelanggan yang sudah nyaman dengan cara memperbaiki mobilnya walau setelah rusak ini, kemudian berimbas rusak yang lain lagi sebagai efek perbaikan tersebut.
Lalu, setahun kemudian kembalilah anak muda yang yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Jerman yang dikenal sebagai negara yang memproduksi mobil-mobil mewah sekelas Mercedes Benz.
Kemudian dengan modal relasinya dan sertifikat dari pabrik mobil si yang bersangkutan membuka bengkel yang lebih mentereng dengan perlengkapan yang semua dipelajarinya selama pendidikannya di negara Frank Bekenbawer atau negaranya Lothar Mattius tersebut.
Namun sebulan setelah bengkel dibuka ternyata sepi-sepi saja.
Tapi karena si empunya sudah memahami siklus pertumbuhan dan perkembangan sebuah bengkel ia tidak ragu dengan prospek usahanya tersebut karena hanya dia yang memiliki ilmu langsung dari Jerman sebagai tempat produksi mobil itu.
Maka lihatlah orang-orang yang bisa membawa perubahan dalam sistem hidup masyarakat disegala bidang itu adalah mereka yang belajar ditempat yang sesungguhnya benar-benar memiliki pengetahuan tentang suatu obyek.
Bulan kedua, mobil- mobil temannya mulai diperbaiki dibengkel baru dimaksud. Kemudian mobil keluarganya juga sudah mulai memenuhi bengkel itu.
Rata-rata pelanggan mulai mendapat kepuasan setelah keluar dari operasi bengkel tamatan Jerman ini. Karena apa? Tentu saja karena setelah mengganti onderdil yang rusak kemudian mobil itupun bisa berjalan normal kembali dan fit sebagaimana mobil yang baru.
Namun masalahnya yang timbul adalah biaya yang dikeluarkan oleh sipemilik mobil tersebut jauh lebih tinggi daripada uang yang dikeluarkan pada bengkel yang biasanya pada bengkel langganan mereka yang sudah lama dikota tersebut.
Lalu sebahagian besar mereka menyadari bahwa setelah mobil itu ditangani oleh bengkel baru ini tidak mendapat kerusakan lain bertubi-tubi yang merembes dari dampak perbaikan sebagaimana saat memperbaiki mobil pada bengkel yang lama di Banda Aceh itu.
Lalu kebanyakan mobil dibanda Aceh mulai beralih ke bengkel yang pemiliknya lulusan jerman tersebut yang memahami benar tentang mobil-mobil produksi eropa ini.
Beberapa issu negatif sempat dihembus ke bengkel baru ini karena tinggi biaya perbaikan, namun karena masyarakat atau pelanggan mudah paham mengingat ada pergantian onderdil yang tidak dilakukan dengan cara diolah-olah oleh mereka sebagaimana pada bengkel kebanyakan yang mengundang kerusakan lain yang lebih parah.
Perlahan tapi pasti ilmu pada satu orang pemilik bengkel tersebut yang menjadi tempat menggodok ilmu perbengkelan sebagaimana bengkel modern di negara maju yang memproduksi mobil-mobil mewah dimaksud.
Lalu ketika akan diadakan pemilihan bengkel terbaik di kota itu, apakah bengkel itu masuk dalam dominasi? Tentu saja belum karena bengkel baru itu belum punya nama sebagaimana bengkel yang lama yang sudah melakukan banyak perbaikan mobil masyarakat namun bengkel-bengkel tersebut memiliki kapasitas yang kurang dalam ilmu mereka yang membuat mobil pelanggan bisa mengalami rusak parah.
Karena apa? Tentu saja karena standar ilmu perbengkelan pada mereka yang didapat secara otodidax dan keahliannya pada perbaikan mobil-mobil produksi mobil tahun lama dan sistem mesinnya yang sudah ketinggalan jaman.
Lalu kapan masyarakat paham bahwa perbaikan yang tepat adalah sebagaimana perbaikan yang dilakukan oleh bengkel baru tersebut?
Bila ada orang-orang yang berpikir lebih maju dan membuat pilihan kepada bengkel tersebut maka pilihan terbaik bagi masyarakat Aceh adalah memperbaiki mobilnya yang rusak pada bengkel yang sebenar-benarnya bengkel tersebut.
Nah, siapa yang memilih bengkel baru itu? Tentu saja mereka yang berpikir untuk perubahan hidupnya yang lebih baik, dan mereka hanya orang-orang yang berpikir jauh kedepan dan merekalah yang memilih perubahan hidupnya dan merekalah orang-orang yang berpikir merdeka dan anti sosial conservative sebagaimana mereka yang tetap saja dengan bengkel lamanya.
Pemilik bengkel itu adalah reformis dalam perbengkelan di Aceh dan membawa perubahan dalam hidup masyarakat Aceh, nama bengkel itu adalah Good Fathers.....
Salam

