Fitnah, Munafiq dan Berontak Adalah Materi Tanpa Ilmu Politik Di Suatu Daerah




Oleh ; Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)

Dunia perpolitikan suatu negara sungguh bergantung pada keilmuan pemimpin partai politiknya, begitupun di suatu daerah terdiri dari para pimpinan partai politiknya. Hal ini menjadi indikator yang sangat urgen terhadap daerah tersebut, sehingga pihak lain dapat menentukan sikapnya untuk mengintervensi daerah tersebut.

Kalau tokoh politiknya yang lemah dan mudah disogok maka semua injeksi pelemahan harga diri daerah akan datang silih berganti dan selalu mencoba untuk mengintervensi dari berbagai sisi.

Pertanyaannya lemah dan kuat seorang pimpinan politik dilihat dari faktor apa?

Apakah sebatas faktor uang mereka dan kekayaan mereka yang didapat karena mengganggu kenyamanan politik pihak lain dalam bernegara?

Kalau begitu model kekayaannya adalah kekayaan sementara yang korup. Lihatlah kekayaan orang kaya di negara maju darimana sumber pendapatan mereka?

Jawabannya adalah dengan kualitas intelektualitasnya diberbagai bidang terutama teknokrasi, lihat siapa pemilik microsoft, lihat siapa pemilik apple, siapa pemilik facebook, twitter, pemilik sistem ini dan itu yang penggunannya diseluruh dunia.

Sementara orang kaya kita dari jabatan di pemerintah. Pertanyaannya, apakah ada orang kaya di daerah kita?

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Lalu, apa yang kita andalkan untuk membangun daerah, apakah kekayaan atau kecerdasan?

Apakah cukup hanya dengan seorang pemimpin sebagaimana rakyat berpikir hari ini yang masuk dalam para pejabat daerah yang disebut tokoh yang pantas menjadi pemimpin, sementara masyarakat cukup paham bahwa selama mereka menjabat tidak mampu membuat perubahan apapun pada masyarakatnya.

Kondisi seperti inilah pada masyarakat yang melek demokrasi melahirkan ideologi baru yang membawa masyarakat untuk berubah dengan perjanjian-perjanjian dan komitmen sosialnya yang kuat, itulah yang bisa dikatakan suatu masyarakat yang ingin merubah masa depannya. Karena itu dikenal dengan ajaran bahwa tuhanpun tidak akan merubah nasib suatu bangsa kecuali mereka bekerja keras untuk merubahnya.

Marilah berpikir secara logis siapa diri kita sesungguhnya.

Nah, jika masyarakat ingin melihat apakah para pemimpin partai politik didaerahnya bekerja dan berpikir dengan ilmu atau sekedar menggunakan kekayaan kamuplase (tampilan kaya) untuk membangun dukungan politiknya? Kalau sekedar mengandalkan uangnya maka dia membangun anak buahnya atau genknya, tapi jika menggunakan ilmu yang benar maka dia akan membangun kader kepemimpinan secara normatif, mengedepankan s
Kesetaraan, apalagi dia Islam maka wajib menanamkan dalam memimpin bahwa setiap orang adalah pemimpin. Maka tidak boleh ada satupun manusia yang hidupnya terjajah oleh orang lain dengan dalih apapun, semua orang harus punya peluang dalam kebebasan berpikir dan mengambil keputusan untuk masa depannya yang lebih baik.
 
"Itulah perbedaan cara berorganisasi dalam masyarakat dinegara maju yang sudah merdeka ratusan tahun dengan masyarakat dinegara berkembang yang masih memperbudak orang lain dalam berorganisasi dan berbangsa". 

Mohon diingat perkataan saya yang di atas, sebagai catatan dalam melihat bagaimana seseorang dalam memimpin masyarakat, apakah dia pemimpin atau si penjajah bodoh yang dibesar-besarkan oleh mereka yang juga tidak memahami ilmu kepemimpinan.

Lihat saja karakter ketua-ketua partai di daerah anda kalau dia berlaku semena-mena dengan anggotanya dan membuat mereka bisa dipecat sesuka hatinya maka dia adalah pecundang yang sangat-sangat merugikan masyarakat. Dia juga yang boleh dikatagorikan seorang demagog bukan pemimpin yang sesungguhnya dalam politik.

Karena apa? Karena mentalitasnya adalah penjajah mental rakyat suatu daerah yang tidak memahami bagaimana menjaga ruh dan kebaikan-kebaikan suatu daerah, apalagi mereka berbicara marwah, harkat, martabat dan kewibawaan secara simbolis dalam persepsinya yang salah kaprah. Karena itu jangan terlalu berharap untuk perubahan kalau prinsip-prinsip dasar dalam hidup berorganisasi si pemimpin tidak memahaminya.

Lihatlah bagaimana cara mereka berpikir dalam politik, sebenarnya sangat sederhana kita hanya perlu mengetahui bagaimana usahanya dalam mendapatkan jabatan baik sebagai ketua partai, sebagai wakil rakyat, sebagai jabatan lain-lain dalam bernegara.

Kemudian bagaimana cara-cara dia berhubungan dengan kader dengan pendekatan bagaimana? Apakah karena dia harus dipuji, atau dengan pendekatan jabatannya yang bisa menjatuhkan dan memecat orang lain, apakah dengan mengandalkan egoisme sebagai pemilik status sosial bahwa dia sebagai pekerja pada lembaga yang lebih baik, yang semua itu adalah alat pemisah antara dia dan kader lain dan menganggap orang lain sebagai anak buahnya.

Akibat kecendeungan prilaku pimpinan partai politik menyebabkan ikatan-ikatan kemasyarakatan yang tidak nomal karena melemahkan mentalitas rakyat, maka terjadilah perbudakan modern yang tidak pernah disadari oleh masyarakat daerah.

Oleh karena itu partai politik sangat berbahaya bila salah pengelolaannya dan berpotensi menjadi alat penjajahan bagi masyarakat tanpa mereka menyadarinya. Partai politik bukan lagi sebagai alat politik bagi masyarakat itu sendiri yang memperjuangkan hak-hak hidup rakyat secara keseluruhan.

Karena itulah dalam sistem negara yang konstitusinya sudah demokratis maka wajib bagi semua kader partai politik dan masyarakat memahami tentang demokrasi yang mangajarkan tentang kesetaraan dalam hidup diberbagai bidang secara mental dan spiritualnya.

Lalu, apa materi pengajaran kepada masyarakat jika para pemimpin partai politik tidak sampai pada standar demokratisasi dalam kehidupan politiknya?

Pertama, Fitnah, bahwa warga masyarakat untuk establish dalam politiknya maka dia mengandalkan fitnah, atau pembunuhan karakter terhadap lawan politiknya. Tidak akan pernah anda mendapatkan kebaikan dan diplomasi serta komunikasi politik untuk kerjasama dalam memperjuangkan kehidupan masyarakat kecuali dalam pekerjaan yang menguntungkan bagi politik mereka.

Yang paling berbahaya justru terbuka peluang untuk memfitnah orang lain yang dianggap mumpuni dengan issu kecil misalnya mengatakan lawan politik yang diseganinya "ngeut ujong" stress, gila dan lain-lain karena masyarakat sebahagian besar dipelihara untuk tetap dalam kebodohan sehingga menerima dengan ajaran-ajaran sesat politiknya.

Kedua, Hipokrit, atau dalam politik mereka akan menggunakan sifat munafiq dimana sikap dan bicaranya hanya lip service untuk kebaikan masyarakat, sementara matanya hanya pada kepentingan suara masyarakat. Secara total dalam politik hanya berisi kemunafikan  karena hanya begitulah standar ilmu politik yang ada pada masyarakat. Tidak berbeda juga pada level masyarakat yang status sosialnya lebih tinggi sebagaimana ulama.

Ketiga, Arogansi, Egoisme dan Kekerasan, adalah nilai yang selalu terpelihara dalam masyarakat yang tidak menggunakan acuan dalam ilmu politik, kenapa? 

Tentu saja karena ketiadaan materi politik maka nilai-nilai alamiah pada pimpinan politik dimasyarakat dengan sendirinya akan diandalkan karena materi lain tidak cukup kapasitas dan kualitas mereka bicara. Paling-paling dalam penyampian materi politik mereka akan berorientasi pada kebaikan dalam hidup dan sebahagian besar mesyarakat tertinggal akan bermuara ke agama dan kebiasaan dalam hidup mareka. Karena itulah masyarakat seperti ini menjadi masyarakat statis dan rawan bangkrut.

Kenapa? Karena pemimpinnya akan terseret pada egoisme, arogansi dan bahkan mereka bisa melakukan kekerasan secara terselubung dalam menghadapi lawan politiknya, padahal itulah kebodohan politik yang selalu diandalkan oleh masyarakat tertinggal belum melek politik.

Oleh sebab itu demo dan berontak rawan terjadi pada masyarakat yang mis understanding dalam politik bernegara, karena hanya itulah yang menjadi alat politiknya untuk mengancam para pihak yang tidak memenuhi keinginan politiknya. Ancaman itu pula akan dipelihara secara abadi karena mereka hanya memiliki alat politik itu yang paling efektif, hanya tinggal mengatur issu-issu terhadap obyek politiknya yang bisa tidak penting ilmu politik baginya, kader dan masyarakatnya.

Saya tidak meminta rakyat percaya pada saya tetapi silakan bahas dan renungi narasi ini dan silakan rasakan sendiri dampak dan akibatnya, dan mari kita berpikir dengan pikiran yang jernih demi perbaikan nasib diri kita sendiri masing-masing warga masyarakat.

Salam