Masih Banyak Pengelola Pengeras Suara Mesjid Di Aceh Yang Ortodox
By. Good Fathers
Kita mengenal rumah ibadah adalah tempat yang sejuk dan membawa kekusyukan dalam beribadah. Hal ini juga disepakati oleh semua agama tentunya. Karena itulah di negara-negara sebagaimana Amerika Serikat melarang penggunaan pengeras suara ditempat umum termasuk Azan dengan suara microfon yang mengganggu ketertiban umum.
Pada awal perumusan kelahiran aturan ini, apakah ditujukan untuk menghilangkan suara Azan dimesjid?
Hal ini biar selalu menjadi pertanyaan dan yang bisa menjawabnya adalah pembuat kebijakan dimaksud.
Berbeda lagi di negara komunis yang melarang aktivitas keagamaan, kemudian mereka melarang aktivitas keagamaan yang dianggap pekerjaan yang dapat membius dan melalaikan manusia lain sebagai penghambat produktifitas. Kemudian dikuatkan dengan dokrin komunis yang menerangkan bahwa tangan tuhan tidak dibutuhkan jika kesejahteraan telah terbangun.
Lalu mari kita berpikir secara jernih, tentang pelarangan penggunaan pengeras suara ditempat umum dimana kemudian Azan menjadi salah satu aktivitas yang masuk dalam katagori tersebut.
Namun sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa ajaran Islam bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Bila anda yang menentangnya maka dialah yang seharusnya lebih pantas disebut kafir.
Kenapa saya hanya menyebut Islam? tentu saja karena di wilayah kita dominan muslimin dan muslimat.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Jangan beranggapan orang yang menentang kebijakan pengelolaan pengeras suara mesjid kita dengan sentimen bahwa kami adalah lebih muslim sementara yang menentang kebijakan tersebut sebagai kafir. Dibenarkan dulu cara pikir dan kebersihan hati kita karena kita bicara agama adalah berbicara dengan hati, yakni keyakinan atau keimanan.
Tapi kalau bagi saya pribadi sebagai penulis tidak masalah dan saya ingin di bawa ke altar rakyat untuk menguji tentang kebiasaan-kebiasaan tidak logis yang selama ini kita lakukan ditengah rakyat.
Jadi begini, bahwa masyarakat muslim butuh suara Azan untuk mengingatkan jadwal melakukan sembahyang. Hal ini tidak bisa dibantah karena memang suatu kebutuhan ummat beragama dalam hal ini adalah ummat Islam sebagai agama dominan di nusantara.
Tetapi disisi lain bayi dan anak kecil butuh waktu istirahat yang cukup paling tidak sepuluh jam untuk menjaga kesehatan dimasa pertumbuhannya.
Oleh karena itulah maka manajemen pengeras suara harus dimusyawarahkan oleh pengurus mesjid dan memenuhi aspirasi masyarakat umum meskipun mereka tidak berani bersuara karena kuatir dianggap pendosa dan melawan hukum agama. Dalam pembahasan ini butuh kematangan, kita tidak bisa sebatas memperlihatkan bahwa untuk agama boleh melakukan apapun termasuk mengusik dan mengganggu pertumbuhan bayi dan anak-anak disekitar rumah ibadah dimaksud.
Masyarakat pada umumnya tidak cukup memahami tentang tindakan pembelaan agama, karena asal berkait dengan agama kemudian mereka menganggap sebagai suci tidak bisa disentuh sehingga tidak bisa didiskusikan sehingga terjadilah stagnasi komunikasi dan kebuntuan pemikiran ummat.
Karena kasus seperti ini juga banyak masyarakat yang menganggap bom bunuh diri sebagai pilihan mati syahid dalam membela agama, padahal dia juga membunuh banyak orang tidak berdosa dalam bom bunuh diri tersebut.
Pertimbangan seperti ini seharusnya menjadi kearifan kita sebagai pemuka agama. Sehingga aktivitas agama dapat berjalan dengan baik dan beribadahpun dapat dilakukan secara sempurna.
Apa yang perlu dikawal pada pengeras suara mesjid?
Tidak lain adalah waktu membesarkan suara microfon dari jam empat pagi dengan suara yang keras dalam membaca ayat-ayat alquran dan selawat serta lagu qasidah yang membuat anak-anak kecil dan bayi harus bangun pada jam tersebut.
Dari jam empat tersebut berkumandang selawat dan bacaan ayat alquran dalam bahasa arab yang masyarakat tidak paham artinya. Kalaupun ada yang mengerti tidak lebih dari satu sampai dua persen. Sementara sebahagian besar pendengarnya sama seperti orang Cina mendengar syair saman dalam bahasa Aceh.
Apakah hal ini rasional? Tentu saja hal ini adalah aktivitas yang tidak sejalan dengan kehidupan masyarakat. Karena itu sebenarnya semua manusia beragama dimuka bumi ini memilih ajaran Islam tetapi banyak diantara kita yang membuat agama menjadi rumit dan membawanya pada suatu posisi yang mengikat bahkan ketergantungan pada kelompok orang yang membuat pemeluk agama merasa kuatir pada tidak diterimanya ibadah tanpa mereka.
Padahal hanya persoalan kemandirian dan kebebasan berpikir yang terpasung sehingga agama menjadi berkecenderungan bergantung pada orang tertentu yang dianggap mewakili tuhan. Padahal dia sendiri tidak jelas nasibnya.
Lalu muncullah peluang-peluang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik, ekonomi dan mencari popularitas karena banyak orang yang bergantung padanya dan menontonnya berdakwah.
Karena pola pikir yang sempit inilah pada akhirnya banyak muslimin menjadi fanatis dan mendengar ceramah menjadi semacam pembiusan yang menyebabkan mereka sibuk mengurus dan menasehati orang lain dalam berprilaku dan kemudian mereka juga bisa mengutamakan aktivitas ceramah itu serta meninggalkan tanggung jawab dalam keluarganya sebagai prioritas hidupnya.
Marilah berpikir secara rasional dan gunakan pemikiran dalam memandang agama, bahwa agama bukanlah menjadi beban dan membawa kerumitan selain keteguhan dalam keimanan.
Bukan pula pula mengikuti trend dalam ceramah-ceramah ustat populer yang lebih utama adalah keyakinan melalui pengetahuan yang bisa anda dapatkan dengan murah di jaman modern ini. Kalau ingin mempelajari ilmunya maka pilihlah cara-cara yang rasional dan bawalah kiai-kiai kita berkarya untuk membuat apa saja hasil karyanya untuk menambah pengetahuan ummat dalam beragama.
Saya tidak ingin mengatakan hal ini kepada orang-orang yang berpikir kasar apalagi orang yang tidak pernah berpikir. Nah, kepada mereka yang berkualifikasi tersebut, saya yakin mereka juga sulit beragama dan beriman karena tidak sampai pikirannya terhadap kedewasaan dalam penggunaan pikirannya.
Tetapi saya hanya memandang mereka sebagai orang beragama secara ortodox yang tidak memiliki kemampuan membuat perbandingan dalam skala prioritas keutamaan aktivitas dalam ibadah yang penting, benar dengan pahala yang lebih besar.
Salam

