Ingin Perubahan Di Aceh? Mari Merdekakan Diri Kita Dari Cengkraman Berbahaya
Oleh : Good Fathers
Kita semua sedang merasakan kejanggalan-kejanggalan dalam berpikir, karena kehidupan kita di Aceh semakin lama semakin terasa bagaikan kehilangan ruh baik dalam perjuangan politik bernegara maupun dalam bidang ekonomi kerakyatan.
Sebagai catatan yang perlu kita garis bawahi adalah secara umum bahwa pemerintahan dinegara manapun dibangun dengan kepercayaan rakyatnya tidak satupun organisasi negara yang dibangun tidak mengutamakan social trust, justru karena itulah rakyat menjadi eleman paling utama dalam bernegara.
Kenapa demikian? Tentu saja karena semua elemen lain dalam bernegara adalah elemen yang melengkapi untuk pemberdayaan rakyat.
Begitupun dalam kita berdaerah, kenapa? Faktor utamanya adalah faktor manusianya. Kalau tidak ada rakyat maka tidak ada negara dan tidak ada wilayah yang disebut daerah provinsi dan Kabupaten serta Kota.
Bagaimana kalau tanah tidak ada? Rakyat masih bisa membangun negara meskipun mereka berada diatas air laut dan diudara asal mereka bisa menempatkan dirinya.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Namun negara tidak harus dengan tanahnya jika masyarakatnya tidak berjiwa merdeka maka mereka hanya menjadi santapan manusia lain dalam kolonial mereka.
Pertanyaan penjajahan itu apa sih?
Jawabnya penjajahan itu adalah penguasaan dan pengendalian atas jiwa manusia lain yang defensif oleh manusia lain yang ofensif di dunia. Penguasaan baik dalam berbangsa dan bernegara atau berdaerah tergantung semangat komunitasnya.
Maka penjajahan tidak sebatas penguasaan melalui kekerasan dan senjata sebagaimana negara kita dijajah dan rakyatnya diperbudak oleh Belanda tetapi bisa saja dijajah dengan ideology dan teology yang mengatasnamakan bangsa yang menguasai jiwa manusia lain sebagaimana Arab menguasai jiwa manusia Aceh dan Indonesia.
Karena itulah maka Islam jangan dipandang sebagai agama orang Arab untuk menjajah bangsa lain, demikian jangan dipersepsikan Kristen sebagai agama bangsa Yunani untuk menjajah bangsa lain.
Agama itu sifatnya global dan final bagi manusia dibumi, ia tidak perlu diperjuangkan, karena trust terhadap lima agama tersebut ada sebagai bahagian dari keyakinan manusia dibumi. Kenapa tidak perlu diperjuangkan?
Karena akan ada klaim sosial terhadap agama atau mendistorsi agama itu sendiri menjadi milik kelompok yang fanatis dan miskin ilmu pengetahuannya. Kemudian akan banyak manusia yang menggunakan agama untuk kepentingan sempit mereka.
Lalu siapa sebenarnya yang bisa dikatagorikan berjuang untuk agama? Mereka yang menyebarkan ajaran agama dengan tulisan dan karyanya dalam menterjemahkan ajaran agama untuk kehidupan orang banyak dalam pemikiran dan jiwa manusia yang merdeka.
Dakwah? Boleh saja tetapi mereka bisa memposisikan dirinya sebagai pendakwah tidak mendistorsi dakwah pada nilai-nilai lain apalagi dalam nilai politik kepartaian di Indonesia karena mereka sama dengan bermain api, kalau prilakunya korup sebagaimana pernah terjadi pada presiden PKS yang menyesakkan dada kita beberapa waktu yang mempertaruhkan agama Islam di altar masyarakat global.
Dulu mereka dibenci oleh Amerika yang sedang mengelus partai Demokrat kala SBY berkuasa, lihatlah sekarang apa yang anda saksikan? Justru Amerika yang berkunjung ke partai Islam PKS.
Pertanyaannya, apakah mereka sedang memperjuangkan agama? Atau memperjuangkan kekuasaannya dalam politik di Indonesia?
Coba kita menggunakan pikiran kita yang jernih memaknai politik dan partai politik.
Jangan lupa bahwa agama Islam juga banyak digunakan dibeberapa negara dalam menarik suara rakyat sehingga Islam terjadi seperti hari ini terpecah belah dalam berbagai mashab yang kemudian di intervensi oleh pihak lain sehingga Islam tidak pernah bersatu. Padahal hanya dalam urusan-urusan kecil kita sudah saling mengkafirkan.
Lihatlah Iran yang dikuasai oleh pemerintah Islam Syiah hingga 80 persen, maka pemerintahnya yang presidennya Ahmadinejad, apakah Ahmadinejad bukan presiden yang pernah dibanggakan Islam karena kesederhanaannya?
Lalu kalau kita bicara Syiah dan Sunni yang saling mengkafirkan, apakah wajar kita bangga bahwa Ahmadinejad sebagai contoh kebaikan pemimpin Islam?
Dinegara-negara jazirah Arab lainnya juga terjadi perpecahan dalam mashab sehingga kita bisa mengambil suatu kesimpulan egoisme kelompok politik telah secara masif memecahbelah Islam di dunia.
Begitu pula kalau kita kembalikan ke Indonesia banyak kelompok organisasi masyarakat yang menggunakan simbol-simbol Islam dan menyatakan diri sebagai pejuang Islam adalah biang dan sumber pemecahbelah ummat Islam. Ketika mereka teriakkan kami adalah Islam maka apa bedanya dengan menyatakan warga negara lain sebagai kafir?
Begitupun calon presiden bahwa dia yang mewakli Islam maka tidak berbeda dengan mangatakan calon presiden lain adalah Kafir.
Demikian juga partai politik yang mengatasnamakan Islam dan meneriakkan "kamilah Islam" maka tidak berbeda dengan mengatakan partai politik lain sebagai kafir.
Karena itu partai Islam dan kontastan yang membawa-bawa nama Islam dianggap tidak mumpuni dalam ilmu politik, dan lihatlah apakah partai dan kontestan tersebut pernah menjadi juara dalam pemilu Indonesia?
Kenapa? Tentu saja karena rakyat Indonesia sudah lebih banyak yang paham tentang politik karena standar pendidikan berpengaruh dalam pola pikir masyarakatnya. Berbeda dengan daerah-daerah yang tertutup sudah pasti terkubur dalam kanyamanan status quo sosial, apalagi mereka yang diagungkan sebagai pemuka masyarakat dalam agama tentu mereka akan terus memperkuat status quo nya untuk mempertahankan status sosialnya diatas masyarakat biasa lainnya.
Jadi mari kita jaga Agama Islam sebagai milik semua makhluk jika kita benar-benar berjuang untuk Islam.
Kemudian mereka yang berprilaku sebagai pemilik agama dan berjuang mengatasnamakan agama pada kepentingan-kepentingan sempit dan menguasai serta mengendalikan manusia lain dengan menggunakan agama adalah tidak berbeda dengan merusak agama itu sendiri.
Jadi, bagaimana sebenarnya agama itu dipergunakan secara benar oleh seorang politisi dan pemimpin?
Sebagai manusia Aceh dan Indonesia yang beragama Islam maka dalam menjalani hidup bernegara dan berpolitik pergunakan nilai-nilai Islam dalam prilaku anda dan tindakan anda tanpa harus mengklaim bahwa kami lebih Islam, kami lebih paham Islam.
Apakah kita lupa bahwa Islam itu Rahmatan Lil 'Alamin yang menegaskan bahwa Islam adalah untuk semua manusia bahkan untuk makhluk hidup lainnya.
Jadi kalau Islam dibawa untuk pemenangan partai politik dalam negara yang Bhineka Tunggal Ika dan Dasar Negara Pancasila maka orang tersebut tergolong warga negara paling tertinggal agama, politik, berbangsa dan bernegara.
Kemudian mereka mengajak masyarakat lainnya untuk ikut dalam jalan yang gelap tersebut sehingga terbangunlah dunia sosial yang gelap yang tidak bisa bangkit dalam berbagai perspektif sehingga harus mengundang orang lain untuk memimpin mereka baik dalam politik dan juga dalam ekonominya.
Kelebihan mereka pada masyarakat awam hanya paham Islam dalam tatabahasa Arab, sementara dalam kajian keilmuan untuk hidup warganegara baik dalam ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu berbangsa dan bernegara mereka tergolong buta.
Hal inilah yang membahayakan hidup masyarakat disuatu daerah, karena mereka akan mengikuti ajaran ini sementara pemerintah sebagai pemimpinnya dianggap tidak punya otoritas dimata keimanannya.
Karena itulah Aceh akan selalu terpuruk dalam kepemimpinan masyarakatnya dan pelemahan pemerintahan akan terus berlangsung, dimana kemudian Trust Sosial terfokus pada kelompok politik yang salah kaprah dalam bernegara dan terjadilah pengalihan kekuasaan sosial ditangan mereka dan mereka hanya menakuti masyarakat dalam beragama dan uang negara lebih besar ditujukan kesana tanpa standar tetapi lebih condong kepada penghargaan.
Lalu apa yang terjadi? Kebangkrutan Sosial yang menjadikan Aceh hanya sebagai peminta bantuan, tidak pernah mandiri sebagaimana harapan merdeka yang diharapkan oleh bangsa Indonesia dan rakyat Aceh dalam sejarahnya.
Salam

