Kebiasaan Yang Membawa Kita Larut Dalam Terjajah
Oleh : Good Fathers
Begitu banyak hal dalam hidup kita yang membawa kita tersesat. Karena kita sudah menjalani dan menjadi darah daging maka seakan apa yang kita jalani sudah sudah pada platform kehidupan yang paling terarah.
Karena itulah kita merasa nyaman dengan kondisi hidup dalam keluarga maupun dalam lingkungan kita.
Kita mendapat pelajaran dari keluarga, lingkungan, orang-orang yang kita segani dalam hidup kita, apalagi orang lain juga menganggap orang tersebut sebagai orang yang banyak disegani dilingkungan tersebut, maka kita sudah pasti merasa nyaman dan akan terganggu jika ada yang mengusik dengan pemikiran yang baru.
Bahkan kalau kita dibesarkan dalam penjajahan sudah pasti kenyamanan adalah hal utama yang dipikirkan oleh semua orang. Mereka akan nyaman dengan jabatan dari sistem penjajahan tersebut, sebagaimana kita saksikan pada cara hidup pendahulu kita yang menjadi pejabat pada pemerintah kolonial Belanda, Karena apa?
Karena hal itu adalah kecenderungan alamiah pada manusia. Orang tentu lebih nyaman berada pada tempat yang nyaman, dihargai, dihormati, maka sulit ketika diajak berpikir untuk bangkit dan meninggalkan kenyamanan hidupnya.
Misalnya kita terlahir di daerah industri atau keluarga yang berpikir tentang industri maka bisa dipastikan hampir semua lingkungan keluarganya akan memandang industri sebagai target dalam hidupnya.
Seterusnya sebagaimana masyarakat kita di wilayah Aceh Utara, Lhokseumawe maka hampir sebahagian besar dipengaruhi oleh pola pikir buruh industri, dimana mereka sejak lahirnya sudah berhadapan dengan lingkungan perusahaan besar sebagaimana Bethel, Mobil Oil, Kraft, AAF, PIM dan lain-lain.
Kemudian sudah pasti perusahaan-perusahaan besar itu menjadi target kenyamanan hidupnya. Berbeda dengan mereka yang bermental pengusaha maka mereka hanya melihat perusahaan tersebut sebagai media menghasilkan pendapatan dan belajar sehingga mereka akan mencari alternatif-alternatif dalam kehidupannya dan tidak melihat perusahaan besar itu ada selamanya.
Apalagi para pelaku investasi mereka hanya memandang perusahaan tersebut sebagai usaha sementara kemudian mereka akan pergi ke usaha lainnya ketika sumber produksinya habis. Sementara masyarakat lainnya sibuk merebut peluang kerja yang oleh para pemilik investasi sudah melakukan tahap akhir untuk persiapan masa penutupan perusahaan tersebut.
Sementara masyarakat kita terjebak dengan hidup yang sudah biasa dijalaninya, mereka nyaman dan menghormati kesantunan pada industri dan bahkan mereka sangat kagum dengan kemewahan yang dibangun oleh masyarakat asing pada tanahnya. Mereka melupakan apa sesungguhnya aktifitas mereka manusia-manusia yang hidup lebih cerdas yakni sipemilik perusahaan. Mereka sebenarnya hanya berada disana dengan hanya melihat jumlah sumber bahan baku dari tanah kita. Kenapa begitu?
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Karena mereka memiliki ilmu yang bisa mengorek isi bumi kita dan mereka paham peruntukan hasil yang diproduksi, sementara kita hanya mencari pekerjaan sebagai pegawai perusahaan mereka dan berada dalam status perintah manajemen perusahaannya (perusahaan bangsa lain yang otaknya jauh lebih pintar dari pemimpin kita).
Lalu, disamping menjadi karyawan, kita hanya menjadi pemasuk barang, menjadi preman yang berkuasa dilingkungan perusahaan yang ikut mempressure masyarakat dan juga manajemen usaha tersebut.
Sesungguhnya kalau kita manusia berpikir maka orang-orang akan berada di tempatnya yang paling aman meskipun masa depannya terancam mereka tidak akan pernah paham.
Karena itulah jika suatu masyarakat terjajah mereka sangat lama menyadarinya sampai ada orang-orang yang berusaha keras membebaskan mereka dan itupun dapat saja mereka anggap yang melakukan itu sebagai musuh bersama.
Kenapa? Tentu saja pelaku prubahan akan mengusik kenyamanan hidup orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, mengganggu kenyamanan pejabat pemerintah, mengusik kenyamanan elemen masyarakat lain yang selama ini dianggap sebagai pemilik kasta tinggi dalam sistem hidup rakyat.
Pelaku perubahan akan menghadapi perang dengan pemilik status quo sosial yang hidup nyaman dengan cara pikir masyarakat tertinggal tersebut.
Perang ini adalah perang intelektual yang jauh lebih berbahaya terhadap masa depan rakyat daripada perang senjata yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah dalam berpikir.
Karena mereka yang berpikir untuk megubah kehidupan sosial langka dibumi, mereka hanya ada ketika ada manusia-manusia yang siap menghadapi hidup dengan berbagai tantangan hidup dan lingkungannya.
Mereka sebagaimana Nikola Tesla yang akhirnya hidup disebuah hotel dengan makanan utamanya Biskuit tetapi berkat otaknya manusia bergantung hidup dengan mudah padanya yang tidak pernah dirasakan oleh sebahagian masyarakat awam dunia bahwa semua itu adalah dari daya pikir otaknya bukan dari manusia yang hebat menggunakan senjata dan mentalitas preman.
Nikola Tesla , tentu saja, adalah seorang ilmuwan dan penemu yang sangat ulung. Penemuannya termasuk kumparan Tesla dan osilator listrik, dan dia juga mengembangkan teknologi yang akhirnya ditemukan di sinar-X, radio, dan kendali jarak jauh.

