Masyarakat Politik Harus Paham Membedakan Artikel dan Berita.




Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)

Seringkali kita salah mengartikan dua jenis pesan, informasi, pengetahuan dalam dua jenis tulisan yang keduanya sering disampaikan melalui media massa.

Pernahkah anda lihat tentang naskah pidato presiden atau pidato gubernur yang dibukukan, didokumentasikan oleh birokrator dikantor mereka masing-masing?

Biasanya diakhir jabatan mereka, atau kala pensiun mereka melihat-lihat jejak sejarah dalam kepemimpinan mereka masing-masing, tentu yang mereka lihat adalah dokumen dan naskah pidato mereka selama menjabat. Kenapa? Karena hanya itu pilihan yang bisa diambil untuk menjadi indikator kebijakan memimpin. Tetapi di negara dan daerah lain ada juga pemimpin cerdas hingga bisa membukukan artikelnya.

Kenapa begitu? Tentu saja mereka ingin memastikan apakah kebijakan yang pernah mereka buat selama  memimpin masyarakat berjalan sebagaimana harapannya. Kemudian mereka akan memantau perkembangan kelanjutan pembangunan, apakah konsep pembangunannya dilanjutkan atau tidak oleh penerusnya.

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Kenapa mereka tidak melihat berita? Karena berita tentu hanya menyajikan pesan aktual dan faktual yang singkat sebagaimana kejadian lapangan yang mudah dipahami masyarakat umum dan terlalu banyak jumlahnya.

Berita adalah hasil produksi dari para wartawan dan mereka harus memiliki izin dari lembaga pers untuk menuliskan berita.

Sementara artikel milik pemikir, penulis dan biasanya buah pikiran tokoh masyarakat yang  mengintervesi terhadap  masalah yang dihadapi masyarakat agar masyarakat pembaca memahami dan membawa perubahan pada masyarakat.

Lalu, artikel? Artikel adalah buah pikiran, ide, gagasan, kajian dan analisa yang bahkan mendalam tentang suatu hal sebagaimana tema yang yang dikaji. Misalnya dalam kepemimpinan politik disajikan pemikiran tentang kebijakan negara atau daerah, pejabat apakah presiden atau gubernur dan lain-lain. 

Artikel lebih tersaji sebagai ilmu pengetahuan pembacanya. Kalau anda membaca artikel secara terus menerus yang ditulis oleh pemimpin politik maka otak pembaca akan berisi bagaimana cara memimpin dalam politik. Seharusnya ketua partai politik juga perlu menulis artikel tentang berbagai ajaran partai politiknya yang sesuai platform perjuangan partainya untuk pesan kepada rakyat.

Mungkin saja dimasyarakat kita akan mendapat sajian politik dan kepemimpinan melalui artikel-artikel dimasa depan, bisa saja sajian yang kita harap tersebut terjadinya dalam 20 tahun atau 50 tahun kedepan ketika Aceh menjadi daerah yang maju peradabannya.

Karena itu maka masyarakat dinegara yang lebih maju mereka cenderung menghabiskan waktunya untuk membaca artikel dan buku karena mereka memilih ilmu pengetahuan daripada berita. Kalau berita dapat saja terjadi berulang dengan pola yang sama dan hanya obyek dan subyek yang berbeda.

Sementara masyarakat negara ketiga lebih sibuk mengejar berita, sehingga sehari-hari masyarakat lebih sibuk mengurus dan menceritakan peristiwa yang terjadi disana dan disini sehingga pengetahuan dan wawasannya hanya berkisar pada peristiwa. Karena itu masyarakat dan para politisi kita bahkan pemimpin kita kering ide, gagasan dan wawasan dalam politik dan dalam membangun rakyatnya.

Ada kesalahan selama ini orang-orang berpikir tentang artikel dan berita yang disamakan. Karena ditengah masyarakat mereka berpikir secara kasar bahwa keduanya sama saja, sama-sama tulisan. Bahkan ditengah masyarakat kita beberapa tahun ke belakang masih banyak orang yang menyebut koran dengan istilah "Keurtah Ek Cina" (kertas kotoran Cina). 

Begitulah tertinggalnya rakyat di daerah dan berlaku pembodohan secara masif, kita tidak bisa menuduh siapa pelakunya karena bisa saja yang melakukan itu adalah kaki tangan masyarakat daerah sendiri baik untuk kepentingan politik, ekonomi dan lainnya dalam menjajah untuk melemahkan saingannya.

Karena itulah baru sekarang saya memahami bahwa masyarakat kita masih sangat banyak yang tidak memahami perbedaan artikel dan berita. Selama ini saya beranggapan bahwa masyarakat di Aceh cukup paham tentang itu, karena banyak politisi dan pemimpin politik kita yang mengeluarkan statement bahwa masyarakat Aceh sudah pintar dalam politik.

Padahal tau kenapa? Jawabannya adalah bahwa politisi dan pemimpin politik kita pemahaman politiknya tidak berbeda dengan masyarakat umumnya. Mereka hanya menggunakan kekuasaan jabatan politiknya untuk sekedar minta bantuan ke pusat. 

Paling juga meminta kewenangan dan kewenangan yang tidak pernah habisnya, kala kewenangan itu direalisasikan maka hasilnya nihil karena implementasinya tidak bisa diwujudkan akibat ide, gagasan dan otak kita dipenuhi oleh berita dan berita dan dengan bangga mereka menceritakan sebagai pengetahuan standarnya. apakah kita berpolitik?

Salam







Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil