Rakyat Aceh Terpimpin Dalam Politik Setan Atau Politik Binatang?

Rakyat Aceh Terpimpin Dalam Devil Politic Atau Animal Politic?

(Bacaan penting untuk rakyat Aceh terutama politisi)

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)

Terdapat dua model besar politik yang mudah dipahami masyarakat awam dalam perpolitikan dinegara dan daerah kita.

Tulisan ini mengajak semua politisi berpikir, keberadaan saya bukan untuk mengajak belajar dan mengajar politisi dalam berpolitik, seharusnya kita menganalisa secara mandiri oleh masing-masing diri kita sendiri, untuk apa grub dan untuk apa saya membuat artikel hampir setiap hari hanya untuk rakyat Aceh dan politisinya.

Kalau saya membuat artikel untuk semua rakyat Indonesia yang terbuka bukankah lebih menguntungkan dan saya memilih mengajak berpikir supaya masyarakat Aceh mengaktifkan otaknya dari sistem defensif bahkan menganggur dalam politik ke sistem offensif untuk merubah kehidupan yang lebih sejahtera.

Artikel saya bukan artikel profesi penulis untuk mencari uang, kalau saya menulis untuk media dengan kelelahan yang sama namun setiap artikel dibayar minimal Rp. 300.000 sampai Rp. 1.500.000. Tapi kalau ada artikel ke media saya juga tidak pernah ambil honornya karena saya harap teman wartawan bisa duduk berkumpul dan minum kopi bersama.

Tentu ada pikiran positif mereka bila saling berkordinasi dan kita sebagai pemimpin politik sudah berkontribusi untuk wartawan, soal mereka sadar atau tidak hal itu berpulang pada tingkat kecerdasan intelektual yang ada pada mereka sendiri, saya yakin semua sahabat saya saling memahami cara berpikir kita masing-masing.

Karena itu saya menulis untuk pengabdian saya yang bercita-cita mengajak dan melakukan perubahan sosial secara fundamental dalam cara-cara hidup bangsa saya.

Bukankah lebih penting menggurui?

No! Itulah kesalahan pendidikan politik rakyat Indonesia selama ini, maka yang lahir adalah toke politik, teungku politik, anak buah politik, bos politik dan lain-lain yang melenceng dari substansi politik.

Anda gila mengatakan politik salah kaprah di daerah dan negara anda?
Kalau politik normal maka negara ini dengan kekayaannya, tentu rakyat tidak seperti ini saat ini. Kalau kita rakyat berpikir mungkin tidak ada penjajahan dan perbudakan bangsa kita yang begitu lama oleh bangsa lain hingga 3,5 abad.

Jika rakyat Aceh berpikir dalam politik tentu pasti ada pemimpin politiknya, tapi ingatlah bahwa Tgk. Daud Beureueh itu adalah ulama yang jalan pikirannya di ranah budaya agama dan bukan pemimpin politik sebagaimana Ir. Seokarno yang kecerdasannya dalam politik bisa menundukkan dunia.

Secara normal, demokrasi itu adalah penundukan pada kecerdasan berpikir, keadilan, kesepadanan hak dan kewajiban, dan kemandirian dan kebebasan berpikir jangan menjadi penjajah pikiran manusia lain, apalagi penjajah fisik dan mental yang maha kotor dalam kualitas politik.

Lantas kenapa kita selalu menyalahkan sejarah? Jawabannya karena rakyat kita sekarang juga berpikir dalam ranah budaya agama bahkan sebatas baik dan buruk dalam perspektif budaya dan agama yang jauh sekali dengan standar politik.

Kalau rakyat Aceh yang benar sebagai bangsa yang memiliki marwah, maka kewajiban kita adalah tunduk dan patuh pada komitmen politik bangsa dan negara dan semua aturan dan konstitusinya.

Karena itu kalau ada yang berpikir dengan otaknya mengarahkan sistem bernegara ke sistem Islam maka mereka bukan politisi tetapi mereka adalah pemberontak yang sah.

Lalu bagaimana dengan kita beragama? Jadi begini, kita bukan memperjuangkan islam dengan negara karena Islam itu sudah final, sudah sempurna, tidak ada aturan dalam Islam yang bisa dilakukan amandemen sebagaimana Undang-Undang dan perubahan negara.

Kalau orang percaya ajaran (briman), (have trust) pada Alquran dan Hadist itu sudah final sebagai Islam, iman itu adalah percaya sama dengan trust dalam bahasa inggris.

Lalu apa yang perlu dilakukan? Jawabannya gunakanlah nilai-nilai agama dalam bernegara. Karena itu agama tidak boleh di pimpin dengan sistem feodal oleh ulama. Karena ulama itu adalah guru dalam beragama. Kalau ulama yang sudah membuat gerakan dalam politik itu ulama musang berbulu domba yang harus dicurigai sedang menghancurkan agama.

Kenapa demikian? karena mereka sedang membangun pengaruh politik agar rakyat bergantung pada mereka untuk pengaruh politik bernegara. Mereka menggunakan alat politik agama untuk menundukkan dan membuat masyarakat mencium tangannya dan patuh pada pilihan politiknya, misalnya capres tertentu, cagub, cabup, partai politik tertentu.

Inilah yang disebut Feodalisme menciptakan pemimpin fanatik yang memerintahkan dengan titah dan komandonya, bukan dengan kesadaran berpikir, terus masyarakat buta dalam melihatnya sebagai pemimpin.

Bagaimana seharusnya? Yang perlu dibangun dalam pendidikan masyarakat? Jawabannya adalah kemandirian masyarakat. Mereka beragama juga harus menjadi pemimpin bukan anak buah. Ingatlah selalu bahwa ajaran Islam mengajarkan secara tegas bahwa setiap kamu adalah pemimpin.

Bertentangan dengan hukum ini adalah pelanggar agama Islam. Pertanyaannya apakah para ulama paham tentang ini? 100 persen saya yakin No!

Maka saya melihat prilaku ulama itu adalah melakukan politik pragmatis yang menghalalkan segala cara, sebenarnya merekalah pengikut ajaran yang ditulis Nicolo Machiavelli yang sangat populer dalam ilmu politik.

Saya hanya seorang politisi dan berpengalaman kepemimpinan partai politik dalam waktu yang lama sejak diusia muda.

Saya saja mengajak siapapun warga masyarakat yang masuk dalam dunia politik untuk berpikir dan keputusan politik itu ada pada diri kita sendiri. Untuk apa? Supaya jiwa rakyat merdeka, jangan bermental inlanders sebagai objek jajahan.

Ada yang mengatakan bahwa tidak mungkin kita berpolitik, kalau kita tidak punya modal politik bro?

Jawabannya benar mbah, kalau modal politik anda anggap sebagai uang semata maka anda sedang berpikir dalam konsepsi politik mencari Tuan.

Karena kita belum belajar Politic Capitalizem maka kita nyaris tidak paham, kalau anda paham maka tentu saja tidak akan pernah terjadi seorang dari keturunan orang miskin menjadi orang kaya, tidak akan pernah kita temui anak pintar dari keluarga miskin menjadi idola dan kaya raya, sulit mendapatkan anak yatim sebagai pemimpin dan orang sukses karena mereka bukan begawan politik.

Hipotesa politik secara teoritis dengan Menentang hukum tersebut, artinya apa?

Menerima menjadi budak politik selamanya karena anda adalah objek yang dibutuhkan untuk melakukan apa saja sebagaimana kerbau untuk membajak sawah.

Seharusnya dalam politik sejenis ini, pilihlah kualitas tertinggi menjadi hantu, iblis dan jin yang hanya perlu disiapkan sekedar sesajen dan anda bangga menjadi budak politik pemimpin bodoh dan mengikuti komandonya. Namun dalam waktu tidak lama ketika tuntutan sesajen sudah besar jadilah dia calon penghuni neraka sebagaimana hakikat iblis.

Berikutnya apa yang perlu kita analisa? Siapa yang untung dalam hidup berpolitik begini antara politik jin dan politik binatang?

Jawabannya, ketika hantu, jin dan iblis sudah menyadarkan tuannya bahwa dirinya adalah jin dan hantu, mereka akan menuntut sesajen yang lebih besar sampai pada tahapan pengorbanan anak dan istri si pemimpin tersebut. Nah kalau manusia bodoh ini tuan tega mungkin saja kekuasaannya akan berlangsung lama karena jin sudah bisa mengambil apa saja dengan membalikkan keadaan antara budak dan tuan. Berarti politik iblis menang.

Maka mendingan jin berpolitik dari manusia yang mengikuti politik binatang yang tidak mengutamakan ilmu tetapi sekedar pemahaman baik dan buruk, halal dan haram, hitam dan putih, menang dan kalah, kiri dan kanan sebagaimana komando saat kerbau diperintah untuk membajak.

Padahal ilmu politik demokrasi itu tidak ada yang kalah, karena bila semua warga negara sekedar paham demokrasi dalam pengambilan keputusan pemerintah dan sosial maka pada prinsipnya semua menang. Karena apa?

Yang menang pemilihan menjadi beban tidak sebagaimana dimasyarakat kita yang menang pesta pora, yang kalah pemilihan berduka cita. Lalu untuk apa pemimpin rakyat dalam politik?

Kenapa tidak berpikir apa yang sedang dilakukan oleh yang menang? Tau apa? Menang tidak berbeda dengan dengan menginjak saudaranya yang lain. Karena masih ada masyarakat yang kalah dan berduka.

Prilaku buruk terhadap lawan dalam politik demokrasi adalah sama dengan pengkhianat rakyat. Mereka yang tidak paham mengajak lawan dalam politik demokrasi maka merekalah pemimpin yang berkhianat pada rakyat. Bayangkan bagaimana hukumnya dengan pemimpin yang tidak tahu berterimakasih kepada pendukung dan timsesnya sendiri, yang tidak mempedulikan timses dan kelompok politiknya?

Jawabannya adalah maha raja dan ratu pengkhianat rakyat yang juga pengkhianat agama dan tuhannya. Dialah sesungguhnya orang dan pemimpin munafiq (hipokrit) yang hanya melakukan penciteraan untuk menipu rakyat dan tidak akan bernyali, bermental berbeda pendapat dengan rakyat.

Karena itulah pemilihan dalam sistem demokrasi itu ibarat memukul tongkat dalam air, ketika tongkat diangkat maka air yang diibaratkan sebagai rakyat mereka akan kembali.

Justru pemerintah yang baik adalah pemerintah yang bisa di kritik, rakyat berpartisipasi, yang bekerja untuk substansi mengurusi hak-hak rakyat. Nah kalau pemerintah mengedepankan kewibawaan sebagaimana sistem kerajaan maka itu pemerintah paling bobrok dan tertutup dimana rakyat bicara dengan tangan di dalam pahanya.

Jangankan mengatakan kepada presiden, mengatakan dan mengkritisi menteri atau gubernur, bupati saja jadi masalah bagi warga masyarakat. Karena apa? Alat kekusaannya adalah wibawa pemimpin seperti pemimpin militer yang sesak dada kita menerima perintah, sementara serdadu harus menerima, dengan komando "Siap Komandan"!

Kapankah kita bisa bernegosiasi dengan pemimpin yang mengandalkan kewibawaannya dengan simbol dan tampilan pakaian dan prilakunya yang lips service?

Itulah kepemimpinan politik Talk Nonsense alias OMONG KOSONG dan tenggelamlah kita seumur hidup dalam perbudakan sosial.

Kenapa demikian? Kita lebih memilih animal politic daripada devil politic. Karena belum terpenuhi syarat standar memilih politik normal sebagaimana ilmu politik yang sesungguhnya akibat disorientasi.
Salam

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil