Kenapa Dunia Politik Aceh Lemah Tak Berdaya??
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)
Kita sibuk mengurus moral, kita sibuk mengurus mentalitas orang lain padahal kita sadari justru kita sama-sama telah mendegradasi moral dan mentalitas kita sendiri.
Pekerjaan kita sehari-hari tidak pernah berhenti mengurus perbaikan mental dan moral orang lain sehingga kita terjebak dalam melemahkan sesama yang tidak berhenti juga kita melakukannya.
Lihatlah bagaimana politisi kita di Aceh satu sama lainnya hanya mencari kelemahan, dan orientasi mereka sebatas menjatuhkan image positif dan melebelkan image negatif pada politisi lainnya.
Maka apa yang dihasilkan oleh dunia politik kita. Prilaku politik di Aceh sama sekali tidak memiliki ruh untuk bangkit karena para politisi kita sesungguhnya lemah dalam berbagai perspektif.
Kenapa demikian? Tentu saja karena mereka sibuk mencari tuan yang adil untuk pemimpinnya. Kerjasama lintas partai politik saja sulit di wujudkan karena dunia politik Aceh krisis kepemimpinan.
Lalu, kemana mereka harus tunduk?
Jawabannya adalah para ulama, para akademisi, para birokrat, dan pengusaha yang dermawan, dan seniman seperti artis dan pelawak.
Sementara yang dari politisi nihil orang yang bisa menyamai moralitas dan mentalitas kalangan masyarakat lain tersebut. Pertanyaannya kenapa demikian? Jawabannya adalah keterbatasan dalam ilmu politik, sehingga politisi kita terhebak dalam ilmu propaganda yang kental dan terjerumus sebatas melakukan aktifitas kampanye dengan ilmu barter suara dengan uang.
Akhirnya apa yang terjadi? Pemimpin partai politik lemah, kualitas sumber daya manusia sebagai pemimpin lemah sehingga tidak merasa layak menjadi pemimpin masyarakat sebagaimana gubernur atau presiden.
Ini adalah masalah besar dunia politik kita yang nenyebabkan kenapa politisi tidak dipercaya oleh mereka sendiri sesama dan membawa dampak sistematis pada ketidakpercayaan masyarakat secara keseluruhan.
Sesungguhnya ilmu politik itu adalah ilmu yang sangat komplek, maka politisi adalah bakal calon pemimpin bangsa dan daerah dimana saja.
Ingat baik-baik, bahwa sebagai politisi maka sesungguhnya anda ditempa dengan kehidupan kemandirian dan memposisikan sebagai pejuang dan penanggung jawab sosial terbaik.
Karena anda memilih hidup tidak nyaman dengan sistem pendapatan anda yang tidak diikat oleh lembaga negara sebagaimana para birokrat, akademisi, dan pejabat lain yang setiap bulan mereka memperoleh gaji dari negara.
Dengan resiko hidup yang anda hadapi dengan kesiapan mental anda maka politisi adalah otang yang memiliki mentalitas dan moral untuk membawa perubahan masyarakat suatu negara atau pun daerah. Karena itulah politisi itu adalah calon pemimpin bangsa pada kelas satu dalam profesinya tersebut.
Siapa yang merusaknya? Jawabannya adalah mereka para politisi atau ketua partai politik yang tidak berbekal ilmu politik dan negara, merekalah yang mengundang para profesi dunia lain ke politik akibat tidak mampu bertanggung jawab dalam politik.
Lalu orang yang sudah waktunya menghabiskan usia di pensiunan seperti mantan bupati di ajak kembali ke dunia politik untuk alat atau tameng mereka berkuasa dan memeras uang negara karena mereka sebagai pengusung pemimpin tersebut.
Lalu yang terjadi adalah ilmu politik dan kepemimpinan nihil pada masyarakat karena tidak ada guru bangsa dan guru daerah bagi masyarakat dalam politiknya. Degradasinya kemana?
Ke ilmu agama dan ilmu umum yang jauh dari ilmu politik yang sesungguhnya yang dapat berdampak pada pilihan terhadap "Naik Tahta dan beribadah versus Perjuangan bernegara mencapai tahapan kesejahteraan rakyat banyak".
Berikut, bagaimana merubah paradigma sosial dalam profesi dunia politik tersebut?
Jawaban sederhananya, adalah :
Pertama, pendidikan politik adalah keutamaan bagi kemajuan dan kemerdekaan posisi rakyat dalam bernegara.
Kedua, Guru politik bangsa atau daerah adalah keharusan bagi suatu masyarakat sampai mereka melahirkan kesepakatan dalam politik daerah sebagaimana dalam kapasitas negara demi mengawal otonomi daerah.
Ketika, Penguatan dukungan dan pengalaman yang mendorong mereka bisa membuka dan membedah masalah yang timbul dalam politik, karena dengan terbuka semua masalah sosial dengan mudah dapat dikordinasikan dan ditangani serta diketahui kedudukan masalah rakyat tersebut.
Keempat, Mengenal demagog sebagai sikap manusia yang mencari muka pada masyarakat dalam politik yang sering mengecoh rakyat dengan tampilan kesantunan dan kealimannya dengan membawa alat-alat politik yang hanya merupakan nilai tambahan bukan tugas dan fungsi wajib dalam politik itu sendiri.
Kelima, mengenal perbedaan propaganda dalam politik agar masyarakat tidak terjerembab dalam kubang yang membodohkan mereka karena mereka nilai propaganda efektif diterima masyarakat luas yang masyarakat sendiri tidak memahami bahwa propaganda itu tidak beda menipu berlapis.
Salam
Good Fathers
