Pembodohan Sosial Yang Tidak Disadari Dalam Kehidupan



By, Good Fathers

Kehidupan masyarakat disuatu daerah sebahagian besar dipengaruhi oleh budaya tradisional yang sangat sulit berubah bahkan kita bagaikan menghadapi gurita raksasa dalam merubah kebiasaan pada masyarakat yang turun temurun apalagi sudah berlangsung beberapa generasi.

Kebiasaan sering terikat dalam budaya beragama yang menjadi rancu untuk kehidupannya sehari-hari. Kita mengambil contoh yang mudah kita pahami dalam kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya, setiap subuh jam lima pagi mesjid sudah menyuarakan pengajian dengan menggunakan suara mikrofon dengan suara yang membahana keseluruh pelosok penduduk. Sesungguhnya pengajian sungguh penting karena ayat-ayat Allah.

Sayangnya bacaan tersebut hampir seratus persen masyarakat tidak memahami maksudnya tersebut. Lalu apa manfaatnya jika makna dan pesan yang digaungkan itu tidak sampai, sementara masyarakat pendengarnya tidak paham arti yang disampaikan tersebut.

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Kita sering juga menyampaikan kalimat yang penuh arti dalam kehidupan sehari-hari. "Lagee Cina Deungo Saman" Seperti orang Cina mendengar saman. Yang maksudnya mendengar lafal tapi kalau orang Cina melihat tari Saman meski tidak paham maksud ucapannya mungkin masih ada manfaatnya dan mengetahui secara samar maksud gerak dalam tari dimaksud.

Kebanyakan manusia dibumi, hampir disemua negara mempelajari isi suatu kitab atau buku kemudian mereka mengamalkannya menjadi suatu ilmu yang disampaikan oleh kitab atau buku yang dimaksud. 

Bila yang membaca buku itu hanya beberapa orang maka mereka menjadi yang memahami tentu hanya beberapa orang yang menjadi tempat bertanya masyarakat, tetapi bila yang membaca buku atau kitab itu sebahagian besar masyarakat mereka akan memahami secara sendiri-sendiri terhadap ilmu dalam buku tersebut.

Berikutnya pemahaman terhadap isi kitab dimaksud secara rata-rata maka akan terjadi kesamaan pandangan semua orang terhadap isi buku atau ilmu yang semua orang tidak perlu saling menterjemahkan kepada orang lain sebagaimana mereka menggunakan Mbah Google. Jadi masyarakat akan membutuhkan buku atau kitab tersebut setiap ada hal yang tidak diketahui dan membutuhkan informasi dari perspektif ilmu dimaksud.

Bila masyarakat secara rata-rata membaca materi yang sama maka hanya dibutuhkan sikap dan kedewasaan dalam berpikir dan tidak perlu saling mengalimkan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

Dengan kata lain, terminology Alimpun akan tereduksi dengan sendirinya. Kemudian masyarakat akan menjadi lebih dewasa dalam berprilaku dan memposisikan dirinya sebagai makhluk tuhan dan tidak sebagaimana yang kita saksikan saat ini.

Apa yang kita lihat dengan fenomena saat ini? Tidak lain bahwa semua orang hanya bicara menasehati orang lain untuk berbuat dan berprilaku sebagaimana keinginan orang yang menyampaikan nasehat dimaksud.

Apakah, dia seorang ahli dalam ilmu ekonomi, ilmu politik dan ilmu kepemimpinan, ilmu berkaitan dengan sosial, maka semua orang akan menjadi penasehat dan mendikte orang lain. Padahal dia sendiri tidak mampu menjalankan nilai idealisme yang dia pahami dalam pemikirannya tersebut.

Pertanyaannya, apakah hal ini baik-baik saja pada mereka yang harus mendengarkan nasehat meskipun untuk kebaikan?

Tentu saja jika kita berpikir aman-aman saja maka kita tergolong manusia hipokrit, kecuali orang yang tidak memiliki ilmu yang sama dimaksud atau tidak setara dalam memahami bidang kehidupannya.

Nah, karena itu jika secara rata-rata orang dalam negara mamahami baik dan buruk, berdosa atau berpahala sebagaimana ilmu agama, maka dapat dipastikan bahwa nasehat itu sebagai masalah sosial yang perlu segera di ubah dalam kehidupan sosial.

Kenapa? Tentu saja orang yang alimnya dibidang agama mereka harus mempelajari ilmu yang komprehensif dalam berbagai bidang kehidupan untuk bisa mengajarkan atau memberi nasehat kepada orang lain karena kebutuhan pengetahuan dibidang ilmu orang lain.

Misalnya, seseorang yang bergerak dan mempelajari ilmu Valas maka mustahil orang alim dibidang agama mengetahui seluk beluk ilmu Valas. Kalau dalam pemahaman orang jaman dulu maka mereka akan mengatakan haram dengan keuntungan atau pendapatan yang diperoleh melalui trading online dimaksud.

Kenapa? Karena si pemain Valas ini tidak terlihat bekerja bahkan dia hanya duduk santai tidak sebagaimana pemahaman orang alim bidang agama yang mendefinisikan bekerja sebagai sesuatu aktivitas yang mengeluarkan keringat. Atau dalam pemahaman orang alim bahwa mereka yang bekerja adalah buruh karena buruh yang dominan mengeluarkan keringat kala bekerja.

Pertanyaannya, apakah ilmu agama diperuntukkan hanya bagi kalangan buruh atau pekerja yang mengeluarkan keringat? Karena itulah dalam Islam diminta kepada ummatnya untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China. Jika tidak ilmu orang alim dibidang agama tersebut akan ofside dan dimakan waktu karena tidak mengikuti perkembangan teknology pada manusia yang semakin canggih peradabannya sementara mereka akan ketinggalan jaman.

Karena itulah maka orang alim dibidang agama harus berpikir lebih maju daripada masyarakat biasa, sehingga mereka wajar diberi status sosial yang lebih tinggi dari masyrakat biasa bahkan daripada pejabat karena kemampuan ilmunya yang mumpuni.

Tetapi apa yang terjadi saat ini pada masyarakat kita? Kita hanya mendalami ilmu beragama sementara kita terus tertinggal dalam budaya dan peradaban, karena itu kealiman kitalah yang akhirnya membunuh diri kita sendiri dan kita akan menyalahkan agama dan menyalahkan tuhan karena kelompok kita menjadi orang-orang tertinggal. Padahal mereka yang berilmu agama yang lain justru menjadi berbeda dengan kita yang masih makan dalam situek yang kita yakini menjadi berpahala sebagai sunnah.

Wallahu'alam...

Salam






Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil