Sadarkah Masyarakat Aceh, Terjadi Pembunuhan Karakter Etnis?



Oleh : Good Fathers

Pembunahan karakter acap terjadi dalam dunia politik, jika dalam kehidupan masyarakat biasa terjadi pembunuhan fisik terhadap seseorang dan orang akan tahu seseorang itu telah mati (meninggal).

Dalam politik justru lebih berbahaya dimana terjadi pembunuhan karakter, pematian ketokohan sehingga seseorang yang awalnya tampil membela hak-hak masyarakat namun kemudian dia hilang dalam dunia politik.

Atau setidaknya dia akan menjadi lemah dan mandul dalam dunia politik. Kemudian bisa saja dia akan perlahan mundur dari publik karena berbagai masalah yang melilitnya.

Tetapi dalam dunia politik demokrasi kekuatan seseorang atau karakter seseorang adalah dalam berbicara dan meluruskan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat banyak. Seorang tokoh politik yang idealis dia akan bebas berbicara dan akan selalu condong membela masyarakat dengan cara dan taktiknya.

Lalu, kenapa ada pembunuhan karakter dalam politik?

Pertama, Tidak lain ada banyak orang yang melibatkan diri dalam dunia politik yang tidak berbasis ilmu politik, mereka bercampur dengan otodidak, yang mendapat pengajaran dalam perjalanan politiknya baik dunia partai maupun bukan dalam dunia organisasi partai politik, tapi bisa saja dalam dunia organisasi yang berafiliasi kedalam partai politik.

Kedua, Tentu saja ada sikap baik dan buruk sebagai bawaan pribadi yang terseret dalam dunia politik. Orang baik, berakal dan dewasa akan membawa ajaran yang baik berorientasi pada prilaku yang bersih meskipun dia tidak memahami ilmu politik. Sementara mereka yang bawaannnya buruk atau jahat sebagaimana perampok maka mereka akan menyeret politiknya ke alam yang buruk atau jahat pula, mereka biasanya melakukan politik segala cara untuk memuluskan langkahnya dalam politik.

Ketiga, Pemahaman politik pada seseorang yang seringkali dianggap tameng, kemudian mereka bersembunyi dengan prilaku jahatnya dalam politik. Bahkan mereka tidak menggubris tentang prinsip-prinsip demokrasi, mereka mengaburkan hak politik orang lain dan mengorbankan pihak yang bisa dikorbankannya untuk tumbal dalam politik.

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Latar belakang yang tidak berdasarkan ilmu politiklah yang menggeser politik itu ke ranah keburukan. Karena banyak orang yang masuk ke dalam dunia politik dengan background  yang under cover tidak terbuka sementara masyarakat hanya menilai politik dari kemapanan hidup seseorang maka terjadilah berbagai huru hara yang membawa dunia politik ke jurang curam yang kotor.

Nah, pembawaan dan penjerumusan para politisi ke ranah yang kotor inilah menjadi ladang pembunuhan karakter tokoh yang dapat mengaburkan pahlawan masyarakat dan pecundang masyarakat itu sendiri.

Kenapa?

Karena mereka tidak bisa menerima kehadiran tokoh politik yang berjalan dengan kebenaran, dan mereka sebahagian besar tidak mampu menjangkau kebenaran karena keterbatasan dalam pemahaman ilmu politiknya apalagi banyak diantara mereka yang menjadikan dunia politik sebatas tameng untuk mengawal kejahatannya.

Tentu saja mereka yang baik, idealis dan lurus akan menjadi sasaran fitnah atau pembunuhan karakter, apalagi politik yang dijalankan dengan produk agama dan budaya serta kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat maka terhadap mereka yang baik akan terjadi berbagai firnah dan mematikannya dalam dunia politik agar mereka tidak mendapat halangan dalam melakukan pekerjaan politik yang anomali.

Begitulah semangat dan latar belakang dalam terjadi pembunuhan karakter terhadap tokoh politik. Apalagi sang tokoh bukanlah anggota partai politik. Bedanya para tokoh politik meski tidak menjadi anggota dan petinggi partai tapi mampu melakukan pekerjaan politik melebihi seorang pimpinan partai politik.

Intinya terjadi berbagai fitnah yang menimpa pada orang yang dibunuh karakternya. Pembunuhan karakter ini juga menjadi lebih mudah dilakukan ditengah masyarakat yang tidak paham propaganda dan tidak paham tentang politik.

Dengan memahami pembunuhan karakter terhadap tokoh politik maka kita akan mudah memahami pembunuhan karaktet terhadap suatu masyarakat.

Masyarakat yang belum melek dalam politik akan sulit disadarkan dalam pembantaian karakter etnis tersebut. Kenapa? 

Karena tidak terjadi pembunuhan sebagaimana pembunuhan fisik dalam dunia politik. Mereka lebih terfokus pada pembunuhan mentalitas masyarakatnya.

Hal ini biasanya berlangsung seiring dengan pembodohan sosial suatu daerah. Pertanyaannya, apakah hal ini disengaja?

Belum tentu disengaja, karena bisa saja pemimpin pusat berpikir untuk membantu suatu masyarakat tapi mereka sering lupa tentang harga diri masyarakat itu sendiri. Meski mereka bertujuan baik dan didukung oleh banyak masyarakat yang bertitel dari kampus dengan melihat profesional sebagai tameng mereka bersembunyi.

Sebagaimana contoh terjadi pembunuhan karakter rakyat Aceh dalam hal kepemimpinan perbankan. Terkait dengan rekruitment calon Dirut Bank Aceh Syariah (BAS).

Masyarakat Aceh tidak pernah menyadari ada unsur yang tidak pernah dipertimbangkan dengan pengalihan kuasa bank tersebut pada masyarakat diluar Aceh.

Padahal dampaknya sangat besar terhadap pembunuhan karakter etnis Aceh. Dampaknya bagaimana?

Asumsi utama dalam penunjukan tersebut berdampak secara menyeluruh bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang bodoh dalam kepemimpinan perbankan. Efek lanjutan apa? Kepercayaan terhadap putra-putra Aceh dalam perbankan juga akan minus terjadi secara sistemik meski tidak terlihat bahkan bisa terjadi terhadap bank apa saja di negara ini.

Lalu, apakah Pj. Gubernur menyadari pembunuhan karakter etnis terhadap kepemimpinan perbankan karena kebijakannya. Menurut saya mereka juga tidak menyadari, kalau mereka sadar tentu hal ini tidak akan dilakukan. Kalau dilakukan dan mereka menyadarinya tentu saja Pj. Gubernur sedang membantai karakter etnis Aceh dalam perbankan dan pekerjaan politik ini adalah pekerjaan politik yang paling kotor dan bertentangan dalam semua perspektif.

Apakah perlakuan ini bertentangan dengan status Aceh yang otonomi khusus?

Tentu saja sangat bertentangan, karena otonomi khusus bertujuan memandirikan masyarskat daerah. Bukankah hal kebijakan ini kebalikan dari arah pembangunan bangsa dan negara ini?

Saya sebagai seorang pemimpin politik dan tokoh daerah yang menentang hal ini sebagai kebijakan yang keliru dan kontra produktif dengan pembangunan daerah dan pembangunan negara dan bangsa yang bhineka Tunggal Ika.

Tapi bagaimana kalau dilanjutkan? Silakan saja tetapi saya sebagai bahagian dari masyarakat Aceh, akan mempersoalkan masalah ini hingga ke presiden. Kemudian kita akan melihat bahwa negara ini akan dibawa kemana oleh pemerintah yang membuat dan melakukan keputusan yang merugaikan masyarakat Aceh secara keseluruhan.

Salam