Adakah Guru Politik dan Guru Bangsa Rakyat Aceh? Apakah Kita Penganut Politik dan Kepemimpinan Bolot?




Oleh : Good Fathers

Tahukah kita apa masalah dalam politik di daerah kita saat ini, sehingga terjadi centang perenang dalam politik dan dalam sisi kehidupan masyarakat daerah?

Tahukah kita apa sebabnya terjadi keresahan dan berbeda pikiran yang silang singkarut dalam politik selama ini di daerah kita?

Tentu saja anda bertanya-tanya kenapa ini begini, kenapa itu begitu, bahkan merembes kesemua bidang terasa tidak ada nilai, namun yang kita rasakan hanya soal ada atau tidaknya uang dalam suatu aktivitas orang atau kumpulan orang.

Apakah persoalan, Partai nasional dalam politik? 

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233



Atau soal Partai Lokal dalam politik Aceh?

Atau soal sikap kita yang pro daerah dan kontra daerah?

Atau sikap kita yang tidak memihak nasional?

Atau sikap kita yang nasionalis dan tidak memihak lokal? 

Atau petinggi nasional di Aceh yang tidak merangkul potensi anak bangsa?

Atau petinggi lokal yang tidak bisa mengajak anda dalam politik bersama?

Sebenarnya semua itu adalah masalah dari dunia politik, karena kita tidak cukup menuntut ilmu, kita tidak belajar pada mereka yang paham, kita hanya belajar pada mereka dari Jakarta.

Sementara kita nyaris tidak memiliki guru politik dan guru bangsa. Maka yang kita lihat adalah kekeringan nilai dalam politik, kita hanya melihat partai politik dalam perspektif badan usaha yang menghasilkan uang, apa bedanya dengan pabrik kerupuk atau pabrik arang?

Sehingga yang terjadi apa? Kita tiada pemimpin yang memandu hidup rakyat daerah. Kalau adapun mareka hanya sebatas senior yang di besar-besarkan oleh para demagog dikalangan lingkungan penjilat pemimpin daerah yang dalam hal ini pejabat gubernur di daerah untuk mengamankan kekuasaannya.

Lalu bagaimana kita menjalankan kepemimpinan daerah kalau kita berpikir secara kasar apalagi mengurus masyarakat secara kasar. Bahwa kita hanya mengenal sistem kekuasaan yang butuh dirampas sebagaimana perang, padahal politik adalah seni yang dihiasi barbagai nilai dan ketika masyarakat paham maka nilai itu ada.

Kemudian bagaimana kita akan merubah kebiasaan hidup masyarakat? Apakah anda punya strategi selain memaksakan kehendak sepihak sebagaimana si bolot, yang tuli dan hanya bisa mendengar yang dia suka, sementara kita adalah pelayan rakyat.

Pertanyaannya apakah anda mau digelar dengan pemimpin dan politik Bolot?

Bagaimana pandangan masyarakat terhadap tokohnya? Bagaimanakah pandangan masyarakat terhadap perjuangan dan pihak lain. Bagaimana kita bisa menghargai orang lain? Bagaimana kita bisa menghidupkan masyarakat dengan ruh spiritual dan mentalitas?

Semua itu anda akan pahami jika anda menguasai ilmu politik yang sebenar-benarnya, karena itulah kemampuan politik dalam sistem demokrasi sangat bergantung pada ide, gagasan dalam membangun masyarakat untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kontra dengan sistem kepemimpinan yang kita pahami dimasyarakat daerah kita yang berpikir tentang pemimpin itu adalah harus sebagaimana simbol sebagaimana seorang raja yang yang arif bijaksana dan menjadi seorang Tuan yang adil.

Ilmu kepemimpinan modern berbeda dengan kepemimpinan kuno yang tradisional sebatas naik tahta sebagaimana kerajaan. 

Seharusnya kita berpikir darimana sumber pendapatan masyarakat jika hanya merujuk pada kepemimpinan tradisional?

Kenapa?

Tentu saja karena tidak mungkin lagi pendapatan diperoleh oleh kekuasaan sebagaimana manajemen perampas yang hanya mengutip pajak pada usaha masyarakatnya.

Berbeda dengan sistem kerajaan yang kita saksikan di negara maju sebagaimana  Inggris yang mendidik seorang raja sejak mereka dilahirkan sedari bayi hingga dewasanya. Mendidik seluk beluk kehidupan dan mengajarkan mereka menjadi pemimpin yang adil dan arif dari meja makan dan tidurnya serta pendidikan mentalitasnya. 

Sehingga mereka sudah cukup memahami bangsa dan negara sejak mereka masih muda.

Lalu jika kita tanya pada raja kita, bagaimana peebedaan kekuasaan dengan pemerintahan? 

Saya yakin banyak diantara para mandataris rakyat yang dalam pemerintahan sama sekali tidak memahaminya. Padahal soal ini adalah soal utama dalam pemahaman bagaimana melakukan pekerjaan-pekerjaan pemerintahan.

Lalu mereka yang memimpin partai politik di daerah, apakah mereka paham fatsun dan etika politik? 

Saya yakin hanya sedikit politisi, jika mereka sebahagian besar paham maka partai politik tidak akan menjadi milik nenek moyangnya ketua partai yang hanya ditunjuk oleh orang dari Jakarta.

Mereka perlu memposisikan dirinya bahwa mereka bisa menyuarakan suara masyarakat Aceh, tidak sebagaimana sekarang mereka yang ketua partai hanya menjadi menjadi penjajah masyarakat daerah bahkan mereka menjilat dan membayar dengan uang besar untuk menjadi ketua partai politik di daerah.

Itulah bentuk distorsi kekuasaan partai politik dari pemimpin daerah menjadi pasuruh partai dari Jakarta. Karena itu partai politik tanpa pemerapan demokrasi yang baik maka sama dengan lembaga perampas hak rakyat, merekalah penjajah yang sebenar-benarnya dalam kehidupan rakyat.

Jika mereka tidak paham maka tidak berbeda dengan anda memberi bunga pada seekor kera, maka lihatlah apa yang dilakukan terhadap bunga tersebut. Dia akan menggigit dan memutar, mencopot satu persatu kemudian si kera mendudukinya.

Apakah dia tahu manfaat bunga tersebut? Begitu juga pada budaya dan peradaban manusia yang rendah kualitasnya pasti bunga tidak berarti apapun karena tidak memberi manfaat sebagaimana mereka yang melihatnya secara buta. 

Padahal bunga pada kalangan masyarakat tertentu bisa berharga fantastis, menurut anda perlakukan dan bangun opininya memanagenya.

Salam


Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil