Dua Model Politik Yang Mudah Dipahami

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548





Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)

Terdapat dua model besar politik yang mudah dipahami masyarakat awam dalam perpolitikan dinegara dan daerah kita.

Tulisan ini mengajak semua politisi berpikir, saya bukan untuk belajar dan mengajar politisi dalam berpolitik, seharusnya kita menganalisa secara mandiri oleh masing-masing diri kita sendiri.

Kenapa bukan menggurui, tetapi saya mengajak siapapun warga masyarakat yang masuk dalam dunia politik untuk berpikir dan keputusan politik itu ada pada diri kita sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa tidak mungkin berpolitik, kalau kita tidak punya modal politik bro?

Jawabannya benar mbah, kalau modal politik anda anggap sebagai uang semata maka anda sedang berpikir dalam konsepsi politik mencari Tuan.

Karena kita belum belajar Politic Capitalizem maka kita nyaris tidak paham, kalau anda paham maka tentu saja tidak akan pernah terjadi seorang dari keturunan orang miskin menjadi orang kaya, tidak akan pernah kita temui anak pintar dari keluarga miskin menjadi idola dan kaya raya.

Hipotesa politik secara teoritis dengan  Menentang hukum tersebut, artinya apa?

Menerima menjadi budak politik selamanya karena anda adalah objek yang dibutuhkan untuk melakukan apa saja sebagaimana kerbau untuk membajak sawah.

Seharusnya dalam politik sejenis ini, pilihlah kualitas tertinggi menjadi hantu, iblis dan jin yang hanya perlu disiapkan sekedar sesajen dan anda bangga menjadi budak politik pemimpin bodoh dan mengikuti komandonya. Namun dalam waktu tidak lama ketika tuntutan sesajen sudah besar jadilah dia calon penghuni neraka sebagaimana hakikat iblis.

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Berikutnya apa yang perlu kita analisa? Siapa yang untung dalam hidup berpolitik begini? 

Pertama, ketika hantu, jin dan iblis sudah menyadari bahwa dirinya jin mereka akan menuntut sesajen yang lebih besar sampai pada tahapan pengorbanan anak dan istri si pemimpin tersebut. Nah kalau manusia bodoh ini tuan tega mungkin saja kekuasaannya akan berlangsung lama karena jin sudah bisa mengambil apa saja dengan membalikkan keadaan antara budak dan tuan. Berarti politik iblis menang.

Maka mendingan jin berpolitik dari manusia yang mengikuti politik binatang yang tidak mengutamakan ilmu tetapi sekedar pemahaman baik dan buruk, halal dan haram, hitam dan putih, menang dan kalah.

Padahal ilmu politik demokrasi itu tidak ada yang kalah, karena bila semua warga negara sekedar paham demokrasi dalam pengambilan keputusan pemerintah dan sosial maka pada prinsipnya semua  menang. Karena apa?

Yang menang pemilihan  menjadi beban tidak sebagaimana dimasyarakat kita yang menang pesta pora, yang kalah pemilihan berduka cita. Kenapa tidak berpikir apa yang sedang dilakukan oleh yang menang? Tau apa? Sama dengan mrnang dengan menginjak saudaranya yang lain. Karena masih ada yang kalah.

Karena itulah pemilihan dalam sistem demokrasi itu ibarat memukul tongkat dalam air, ketika tongkat diangkat maka air yang diibaratkan sebagai rakyat mereka akan kembali. 

Justru pemerintah yang baik adalah pemerintah yang bisa di kritik, rakyat berpartisipasi, yang bekerja untuk substansi mengurusi hak-hak rakyat. Nah kalau pemerintah mengedepankan kewibawaan sebagaimana sistem kerajaan maka itu pemerintah paling bobrok dan tertutup dimana rakyat bicara dengan tangan di dalam pahanya.

Jangankan mengatakan kepada presiden, mengatakan dan mengkritisi menteri atau gubernur saja jadi masalah bagi warga masyarakat. Karena apa? Alat kekusaannya adalah wibawa pemimpin seperti pemimpin militer yang sesak dada kita menerima perintah, sementara serdadu harus menerima, dengan Siap Komandan!







Kenapa demikian?



Apakah kita bercita-cita membawa perubahan dalam politik yang normatif atau kita memang berkeinginan memelihara politik pembodohan masyarakat sepanjang hidup kita.

Sebagai ilustrasi saya ingin sampaikan bahwa selama ini politisi yang mengikuti kompetisi politik melalui partai dengan menempuh segala cara yang paling penting bagi mereka adalah memperoleh suara pemilih atau masyarakat awam.

Tidak mau tahu apakah suara tersebut dari masyarakat yang tidak tersentuh pengetahuan politik atau pemilih yang mendapat advokasi dari politisi atau partai politik.

Standar pemilih terbangun disuatu daerah bila politisi dan partai politik melakukan tugas dan fungsinya dalam melaksanakan pendidikan politik masyarakat sebagaimana fungsi dan tugas pertai politik itu sendiri.

Apakah fungsi partai politik menurut UU No 2 Tahun 2012?

Partai Politik berfungsi sebagai sarana: 

(1) a. Pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; 

b.Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat;

c. Penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara;

d. Partisipasi politik warga negara Indonesia; dan

e. Rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

(2) Fungsi Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan secara konstitusional.

Dalam mencapai tujuan politik banyak hal yang harus dipertimbangkan sebagaimana peraturan perundang-undangan negara sehingga para politisi dapat menjadikan dirinya sebagai politisi yang utuh secara kualitatif.

Karena itulah maka dalam rendahnya kualitas wakil rakyat, rendahnya kualitas presiden dan wakil serta kepala daerah dan wakil adalah kelemahan atau rendahnya kualitas pimpinan partai politik secara mutlak.

Yang paling utama bahwa rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat maka secara mutlak adalah akibat lemahnya peran dan fungsi partai politik sebagaimana logika  Undang-Undang Partai politik berkait tugas dan fungsinya.

Jika masyarakat lemah dalam politik juga adalah kesalahan dan wujud dari indikasi lemahnya partai politik di suatu daerah.

Akibat kelemahan tersebut maka kita hanya menemukan partai politik melaksanakan fungsi dan tugasnya secara kamuplase. Dengan kalimat yang kasar maka partai politik telah membohongi masyarakat secara keseluruhan.

Lalu dalam kelamahan itu kita melihat partai politik melakukan