Strategy Politik Menggunakan Gejolak dan Keluguan Sosial Dalam Politik


https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548

Oleh : Godfathers


Tulisan ini ditulis dengan bahasa masyarakat untuk memudahkan pemahaman bagi semua lapisan masyarakat.


Gejolak Sosial selalu menjadi alat paling seksi untuk dikompare dalam strategy politik, ini dijelaskan dalam teori politik dan banyak referensi dari sejarah politik negeri kita dan sejarah politik dunia. Gejolak sosial jika bisa diubah akan menghasilkan energi politik yang tidak bisa dibendung.

Ibarat orang kencing dalam air hujan, ibarat tupai menggoyang pohon kelapa padahal karena angin, ibarat penjahat kelamin memperkosa perempuan hamil dan bisa juga lebih besar pengaruh politik yang dimanfaatkan misalnya melakukan pekerjaan politik dalam perebutan kekuasaan dalam gejolak sosial dengan kebijakan yang disesuaikan dengan menempatkan dalih itu gejolak sosial misalnya merebaknya kasus korupsi, tingginya biaya hidup, tingginya biaya kebutuhan pokok dan sebagainya menjadi sebagai alat bantu yg sangat potensial dalam politik.




Nah, pemanfaat gejolak sosial yang terjadi secara global akan terjadi perang opini bagi mereka yang menggiring dan mereka yang bertahan dengan kondisi sosial. 

Masyarakat tidak melihat lagi persoalan gejolak sosial juga dihadapi oleh seluruh negara didunia bahkan dinegara lain gejolak ini lebih parah, tetapi masyarakat lupa melihat daya tahan bangsanya lebih kuat dari bangsa lain. Ini memang bukan dalam perspektif sosial tetapi dalam perspektif pemerintahan yang paham sedang menghadapi masalah apa bagi kelangsungan hidup rakyatnya.



Kemudian kita coba mempelajari bagaimana kapasitas dan kualitas partai politik menggunakan issu tersebut, partai  nasionalis, partai agamis, partai sekuleris, partai liberal menggunakan realita social untuk kepentingan politik mereka merebut kekuasaan negara dan wilayah sasaran. Itu strategy yang berbeda menurut ideology partai politiknya masing-masing.

Kalau partai agamis dan partai aliran mengembalikan semua kepada takdir dan malapetaka atau kutukan kemurkaan pencipta.

Kalau partai nasionalis mengembalikan pada nilai-nilai nasionalis dan soliditas nasional. Kalau partai yang berat ke ideology bebas maka mencari dalih yang rasional dengan berbagai argumen dan pengetahuan dan masing-masing memberikan solusi politik dalam gejolak sosial tersebut.




Bagaimana di Aceh?

Aceh sama sekali tidak terlihat dominasi pergerakan ideology politik yang dominan hanya gerakan masyarakat yang dan secara alamiah atau wujud ikatan kecintaan terhadap tanah air dan kampung halamannya atau jiwa primordialis selalu muncul untuk sebuah kebenaran, keluguan politik tradisional yang mengemuka.

Mungkin karena konflik daerah yang terus menerus sehingga polesan ideology politik party terlihat sangat tipis. Boleh dibilang secara dominan kita hanya berjalan dijalan politik yang lugu tanpa kanal dan alur politik bahkan tanpa guru politik tanpa suluh, sehingga kita gampang diombang ambing dan diadu domba dalam politic party.


Karena kita lemah disitu maka saya ingin menerangkan sedikit saja supaya mudah dipahami substansi propaganda politik terhadap kondisi sosial yang selalu dimanfaatkan oleh politik kekuasaan dan dapat dimanfaatkan secara efektif jika sebahagian besar masyarakat apatis dalam memahami ilmu politik.




Begini,,,,

Ibarat orang kencing dalam air hujan, ibarat tupai gokgok bak U padahal karena angin, ibarat penjahat kelamin memperkosa perempuan hamil dan bisa juga lebih besar pengaruh politik yang dimanfaatkan misalnya melakukan pekerjaan politik dalam perebutan kekuasaan dalam gejolak sosial dengan kebijakan yang disesuaikan dengan menempatkan dalih itu (gejolak sosial global) sebagai alat bantu yg sangat potensial dalam meramu target politik.

Namun hal ini biasanya dilakukan oleh manusia-manusia ambisius dan pemimpin yang menggunakan gejolak sosial dengan alasan perubahan yang terlihat dalam sejarah politik dunia. Tapi setelah kekuasaan diperoleh maka terjadi politik diam (politic of silent) yang membawa kondisi sosial perlahan, kerena terjadi pemulihan sosial politik namun setelah terjadi pelaksanaan program pembangunan bisa saja pergolakan sosial yang lebih parah karena semua yang sudah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya menjadi antitesis.



Polisi dan Tentara yang terorganisir adalah alat berikutnya untuk mendukung permainan ini, gerakan polisi atau gerakan tentara selalu mudah kita baca dalam penanganan sosial untuk politik. Sebagai contoh ketika gejolak corona ada kebijakan untuk darurat sipil, hal ini bisa saja untuk konsolidasi kekuatan polisi dalam politik bernegara untuk persiapan perebutan kekuasaan politik. Atau bisa saja ketika presiden mengalami kehilangan kepercayaan kemudian mereka merebutnya dengan kekuatan yang terorganisir dan sudah ready 100 persen.


Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik dan Download Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar



Taukah yang saya kuatirkan kepada rakyat kita yg masih tipis sentuhan ideology mereka tidak paham batasan dan perbedaan itu, misalnya bagaimana gejala dalam ajaran komunis ketika merebut pengaruh sosial. Tetapi masyarakat sebahagian besar hanya meraba dalam politik dan saling menuduh terhadap sesama warga Aceh itu sendiri.

Pelajaran ini tidak pernah ada kepada rakyat di Aceh karena pemimpin di Aceh sebahagian besar dari guru-guru ekonomi di Unsyiah kemudian beralih oleh politik birokrat dibawah Abdullah Puteh (Organisator dan Birokrat, Azwar Abubakar (Semi Politik karena kala itu baru dalam dunia politik, Birokrat dan konsultan), Mustafa Abubakar (Birokrat dan Konsultan), Tarmizi Karim (Birokrat) kemudian diganti oleh rezim perang Irwandi dan Nazar, berikutnya Zaini dan Muzakir dan kini Nova Iriansyah (konsultan). Nyaris semua mereka bukan pemimpin politik yang membawa pada ideology dan pembagian masyarakat dalam ideology politik tetapi pendekatan lebih kepada teology.



Jadi sama sekali tidak ada ajaran Ideology politic party dalam kebijakan publik di Aceh. Sehingga sebahagian besar masyarakat tentu lumayan gelap dengan pengetahuan ini.


Wajarlah masyarakat Aceh terdiam dengan gejolak hati dan yang sedikit merasa hanya melakukan protes atas Rasa dalam hati karena dongkol atas ketidakadilan  dan hanya sebatas menghasilkan sentimen politik yang tidak menggunakan alat pengukur atau indikator terhadap politik.

Lantas yang terjadi adalah bukan melawan atau menghambat karena pemahaman strategy politik dan tujuan politik yg dilakukan oleh kelompok politik tertentu dalam yang melemahkan keberadaan elemen rakyat atas kekuasaan dalam bernegara. 

Kemudian terbuka peluang membangun rezim otoritarian baru yang berkuasa penuh atas rakyat yang lemah secara ekonomy dan sosiologys.

Berikutnya apa yang terjadi dan dialami secara berulang oleh masyarakat seperti ini? Tidak lain adalah kecewa dan kecewa serta kecewa dengan kekuasaan pemerintah. Sementara yang merasa diuntungkan hanya mereka yang berdampak pada manfaat memperoleh materi dari kekuasaan tersebut. Percayakah itu akan berlaku selamanya kalau rakyat tidak peduli dengan ilmu politik.


Demikian semoga bermanfaat.


Salam

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil