Ilustrasi Pembodohan Daerah Terselubung, Cukup Dengan Memelihara Pemimpin Bodoh Untuk Daerah
Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik dan Download Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar
Oleh : God Fathers
Tahukah anda bahwa disuatu tempat atau daerah kelihatannya semua orang berambisi merebut suatu jabatan dalam pemerintahan?
Tahukah anda kenapa bila baru mendengar pemilihan rakyat semua berlomba membicarakan jabatan tersebut dan masyarakat seperti berlomba menuju ke jabatan tersebut?
Tahukah anda kenapa timbul kecenderungan demam jabatan pemerintah pada masyarakat negara berkembang?
Baik, mari kita mengulasnya secara umum dan sederhana kenapa hingga hal ini terjadi pada masyarakat kita dan diri kita sendiri sebagai warga?
Pertama, Jawaban secara umum adalah karena tidak tersedia sample untuk standar dalam fungsi, tugas yang ideal dan ketauladanan pada jabatan pemerintah tersebut, sebaliknya yang terilustrasi hanya kemewahan dan sanjungan yang tinggi dari masyarakat.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Kedua, Tidak ada seorangpun yang menduduki jabatan tersebut yang membuat masyarakat berkesadaran bahwa jabatan pemerintah itu sebagai alat pelayanan masyarakat dan media perubahan berpikir dan berprilaku masyarakat, tetapi hanya terbaca dalam pandangan kenaikan status sosial sebagaimana dalam sistem ajaran Belanda.
Ketiga, Standar pendidikan demokrasi dan kesetaraan yang lemah pada masyarakat dan pemerintah kita menyebabkan ukuran-ukuran nilai terhadap kelayakan dan standar normal terdistorsi pada nilai yang menggusur substansi jabatan tersebut, misalnya standar politik yang dibawa ke standar birokrasi yang jauh berbeda.
Keempat, Kecenderungan mentalitas masyarakat yang menempatkan status sosial yang berorientasi pada tingkatan pendidikan, gelar, harta dan tampilan sikap kebiasaan dan beragama, bukan pada ilmu pengetahuan dan karya yang bermaanfaat kepada masyarakat dalam innovasi dan discovery di segala bidang terutama dalam dunia sosial.
Kelima, Dunia politik kita yang masih pada tahapan bursa kerja dan belum menjadi bursa kompetisi ilmu sosial yang memberi kontribusi pada kehidupan masyarakat, karena itu meskipun Aceh diberi dengan status dan simbol apapun namun subtansi pada perubahan masyarakat tidak pernah berubah.
Keenam, Banyak politisi abal-abal yang menjadi kuat akibat pergaulan dan persekongkolan menduduki jabatan pemerintah padahal hanya sebatas pendekatan pertemanan bukan pada kemampuan ilmu dan wawasan dalam politik kepemimpinan bahkan hanya berbasis pada perlawanan frontal masyarakat maka dunia politik dan diplomasi serta demokrasi nyaris tidak ada dalam ruh hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Ketujuh, Tidak ada seorangpun pemimpin yang mampu mendidik masyarakat sebagaimana mantan Gubernur pertama Aceh Ali Hasyimi yang memberi pendidikan masyarakat. Pemimpin dinegara berkembang adalah guru daerah yang bisa dijadikan tempat belajar masyarakat daerah, sehingga rakyat tidak hanya sebatas rebutan uang negara dalam membangun.
Karena basis masyarakat yang hidup secara tradisional dan alamiah sebagaimana keterangan diatas, sehingga hampir semua sisi pengetahuan politik lemah. Bahkan para tokoh politik kita sendiri juga sontoloyo karena terjebak dalam sentimen politik.
Lantas kenapa? karena alat penggerak mereka adalah sebatas keberanian dan keorganisasian yang sebatas mencari tahu peristiwa dan peluang kerja dan kerjasama dengan negara.
Semua itu semakin jauh dari batasan membangun rakyat dan membangun bangsa sehingga mentalitas rakyat sudah pasti lemah karena ketergantungan hidup pada pimpinannya secara fanatis yang buta terhadap kemandirian dan ilmu pengetahuan dalam hidup bernegara.
Pada akhirnya yang terjadi adalah terbangun sebahagian masyarakat yang mengambil kesempatan mendapat uang dan fasilitas pada negara sementara masyarakat umum adalah penerima bahkan menjadi peminta pada mereka dan pada pemerintah.
Karena itulah maka terjadi fanatisme pada pimpinan dan masyarakat, justru masyarakat bangga dengan fanatisme yang mereka tidak memahami sebagai suatu kecenderungan masyarakat dibawah standar sebagai warga negara yang baik dan normal.
Padahal kasus-kasus yang pernah kita baca, di provinsi tertentu ada yang masih berlaku eksklusif, misalnya pemilihan oleh masyarakat dan diserahkan hak pilih warga kepada kepala suku, seharusnya dapat menjadi sebagai contoh kasus ketertinggalan masyarakat akibat tertutup dan fanatisme.
Sebagai catatan penting, dalam membangun dan membodohkan masyarakat suatu daerah adalah dengan membiarkan, mendorong, merekayasa dan memberi kesempatan kepada mereka dengan cara hidupnya sendiri. Misalnya membiarkan kualifikasi pemimpin daerah yang dipilih adalah yang lemah karena dalam rapat kordinasi daerah lebih mudah pemerintah pusat mengaturnya.
Misalnya pemerintah pusat ingin membangun masyarakat Aceh dipelihara dalam kebodohannya maka sikap-sikap yang diambil adalah cukup dengan membiarkan mereka dipimpin oleh pemimpin yang bodoh sehingga hak-hak mereka sebagai warga negara tidak akan digubris. Kenapa?
Karena yang penting bagi mereka adalah materi untuk kesejahteraannya dan bisa mereka bagi sedikit kepada kelompoknya dan masyarakatnya dalam bentuk materi tersebut.
Karena pimpinan daerah tidak memiliki standar dalam pendidikan masyarakat, maka semua stakeholders atau birokrasi juga dibawah standar, dan akan berdampak pada kehidupan masyarakat yang juga dibawah standar dalam berbangsa dan bernegara.
Akhirnya masyarakat terjebak dalam lingkaran setan, dimana mereka akan sulit keluar dari kubang penghisap tersebut.
Salam

