Apa dan Bagaimana PDIP di Masyarakat Aceh, Berpengaruhkah Untuk Pemenangan Pilpres?
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (godfathers) Ketua Umum Liga Rakyat Bangkit (LRB)
Sepertinya terlihat demikian ilustrasi partai politik dalam suatu masyarakat, secara normal dalam ilmu politik kejadian semacam ini, sesungguhnya dalam hal ini adalah disebabkan oleh faktor pembunuhan karakter atau objek yang tersandera, atau korban fitnah karena salah paham dalam dunia politik.
Karena itu, lihatlah kursi DPR Aceh yang secara total 81 (Delapan Puluh Satu) kursi, sementara PDIP hanya memperoleh 1 (Satu) kursi di Aceh. Kemudian dari 13 kursi DPR RI dari Daerah pemilihan Aceh tidak satupun dimiliki oleh partai pemenang pemilu Indonesia dimaksud.
Tidak rumit mengenali masalah dalam politik, kalau para politisi menggunakan pikirannya dalam menjalani kehidupan politiknya, namun karena sebahagian besar politisi berjalan dalam gelap atau tanpa lentera maka jadilah issu tersebut beranak pinak dan menjalar kesemua sisi kehidupan politisi dan masyarakatnya.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga 1 Box Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Kenapa anda harus mencek kepada pengurusnya partai politik tersebut? Kenapa anda harus mendatangi dan masuk kedalam partai tersebut? Kenapa anda harus meneliti dengan inteligent biasa partai tersebut?
Itulah kesalahan yang fatal, kenapa?
Pertama, kalau anda ingin mengetahui masalahnya sementara anda mendatangi pada pengurusnya maka anda hanya mendapatkan data-data yang mengantarkan anda menjadikan anda sebagai agen suara yang mengharuskan partai anda membeli suara sebagaimana anda membeli parahu kepada setiap nelayan. Tidak ubahnya politik yang anda gunakan harus terfegradasi dengan cara-cara dagang.
Justru anda harus keluar dalam partai tersebut sehingga bisa anda lihat dengan jernih masalahnya dalam politik.
Jika anda kurang yakin lihatlah bagaimana logikanya bahwa konsultan calon presiden kedua belah pihak selama belakangan ini dari pihak asing, misalnya konsultan politik dari Amerika.
Pertanyaannya bagaimana mungkin mereka mengetahui kondisi politik salah satu kontestannya yang akan dimenangkan sementara mereka tidak mengenal masyarakat disuatu daerah.
Bisnis Dengan Rafi Ahmad
https://affilio.co.id
Kode Refferal : tarabubakar
https://www.instagram.com/reel/CqoOfr-Np_W/?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Kelemahan konsultan ini adalah masih pada tahapan mengetahui masalah dan memetakan pemenang pemilihan rakyat, sementara mereka tidak kuat melakukan perubahan dalam masyarakat atau membawa masyarakat untuk cenderung memilih yang mereka dukung.
Lalu, menggunakan alat apa sebenarnya para konsultan tersebut? Yang pasti alat politiknya adalah berbasis otak atau pemikiran yang diimplementasikan dengan teori-teori politik berbasis strategy pemenangan kontestan politik.
Sama sekali bukan dengan cara-cara hantam kromo sebagaimana politik tradisional yang berbasis pragmatis, yakni mempengaruhi politik dengan menyediakan fasilitas dan uang, karena dengan cara demikian maka gunung emaspun akan habis tapi suaranya tetap saja tidak berubah, karena obatnya salah dalam terminologi umum.
Kedua, Kalau kita mendatangi dan melihat dari dalam partai semacam ini tentu saja hanya melakukan hal yang sia-sia, karena tidak mungkin anda masuk kedalam dan anda ingin menggerakkan perubahan. Masalahnya bukan masalah dalam partai tetapi masalahnya adalah terkait dengan perubahan fundamental sekali dalam suatu masyarakat.
Tidak akan anda temukan masalahnya dalam partai itu, bahkan anda hanya menemukan heroik-heroik kader yang sifatnya kamuplase dalam merebut pengaruh dalam peti yang mati itu. Kenapa? Tentu saja karena masalahnya lebih dominan masalah ekternal.
Anda harus berpikir tentang bagaimana masyarakat menjadi normal ketika tidak memusuhi partai yang menjadi objek pembunuhan karakter dimaksud politik, sosial, budaya dan pemerintahan.
Ketiga, Masalah politik dan sosial tidak membutuhkan inteligent sebagaimana biasanya anda menangani masalah pemerintahan dan sosial keamanan. Karena mereka tidak akan mendapatkan informasi penyelesaian masalah partai politik.
Lalu? Yang anda butuhkan adalah seseorang yang paham seluk beluk partai politik dan politiknya, karena masalah partai politik yang menjadi objek pembunuhan karakter dalam masyarakat adalah masalah yang sulit dengan menggunakan strategi politik.
Strategi politik hanya dikalahkan dengan kecenderungan sosial, karena itulah maka obat utamanya adalah salah satunya yakni kecenderungan sosial yang pada waktunya dikonversikan kepada strategi politik dan dikonversikan lagi menjadi strategi partai politik.
Sementara intelijen biasa hanya sebatas mengumpulkan data dan fakta yang terkadang tidak selamanya dapat menjadi indikator untuk menyelesaikan masalah politik dan partai politik dimaksud.
Calon Presiden
Terkait dengan pencalonan presiden sebahagian besar masyarakat Aceh memandangnya sebagai kontestan yang disamakan dengan partai politik pengusung. Bahwa calon presiden adalah alat praktis bagi partai yang mencalonkannya, apalagi partai menyampaikan bahwa kader yang dicalonkan sebagai petugas partai.
Jadi masalahkah? Kalau secara konsep berpikir masyarakat umum hal ini tentu menjadi masalah yang dalam politik. Karena masyarakat hanya ingin melihat seorang presidennya adalah seorang pemimpin yang utuh. Bahkan sulit menceritakan bahwa hakikat sebuah kekuasaan adalah kerjasama dalam sistem politik demokrasi.
Sebenarnya dalam politik demokrasi secara umum yang menganut sistem politik cek and balance yang sulit diterapkan pada masyarakat non sejahtera. Karena fungsi pemimpin melakukan eksekusi atas kordinasi elemen kekuasaan, meskipun terlihat kekuasaan pada seorang presiden namun hakikat dasarnya adalah bahwa presiden adalah sebuah lembaga negara. Tapi siapa yang memahami difinisi fungsi tersebut? Tentu sangat terbatas warga negara yang memahaminya.
Karena presiden sama dengan pemimpin dimata masyarakat umum adalah pemegang amanah rakyat, tidak ada yang lain, hal ini bermakna bahwa presiden sebagai pemegang amanat kekuasaan absolut dengan segala keuntungan dan resikonya.
Nah, pertanyaannya adalah, apakah politik pilpres adalah politik partai politik?
Kalau ini dipahami maka partai yang mengajukan sebelum bertarung sudah kalah. Karena mereka mempersempit hak masyarakat dalam politik pemilihan presiden tersebut yang sifatnya lebih terbuka dan jauh lebih besar dari politik partai politik.
Kontestan calon presiden bagi mereka dalam partai politik adalah bagaimana melepaskan calon presiden tersebut kepada masyarakat bebas meskipun mereka adalah partai yang mencalonkannya.
Namun presiden bukanlah sebuah lembaga yang mempertanggung jawabkan kerjanya kepada ketua umum partai politik, tetapi mereka mempertanggung jawabkan kinerjanya kepada rakyat melalui lembaga negara lainnya untuk cek and balance kekuasaannya.
Kalau mengharapkan sekedar dukungan partai politik maka calon presiden yang diusung oleh PDIP maka mereka hanya mengurus 22 (dua puluh dua) persen dukungan suara partai. Kalau 2 (dua) atau 3 (tiga) calon pasti akan mengalami kekalahan dalam persaingan politik pemilihan langsung.
Lalu bagaimana? Tentu saja politik pilpres adalah politik yang mempengaruhi kondisi sosial secara langsung, sanggupkah calon presiden membangun kecenderungan sosial dalam masa pemilihan?
Jika sanggup maka pemenangnya adalah capresnya akan berjalan sukses sebagaimana yang diharapkan. Meski partainya tidak pernah menang sekalipun. Tetapi pemilihan presiden sangat berbeda dengan pemilihan partai politik dalam pemilu legiskatif.
Indikatornya adalah siapa saja partai politik yang iklas melepaskan calon presidennya menjadi milik semua golongan terutama mereka yang memiliki ilmu dalam mengelolanya maka dapat dipastikan bahwa sudah setengah dari calon presiden tersebut menang.
Salam

